Pelatihan berbasis Permainan


Tampilkan postingan dengan label Kompetensi Fasel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompetensi Fasel. Tampilkan semua postingan

OUTBOUND MERDEKA; Resep Taktis Merancang Outbound

OUTBOUND MERDEKA adalah rumusan praktis dalam merencanakan program outbound agar bisa mencapai tujuan serta membawa manfaat sesuai harapan penyelenggaranya. “MERDEKA” merupakan singkatan dari 7 hal yang secara bersama dan saling terkait perlu diperhatikan saat merencanakan   KEGIATAN outbound, yaitu:

  1. Maksud,
  2. Evaluasi,
  3. Rekognisi,
  4. Di Mana,
  5. Etape,
  6. Kegiatan, &
  7. Aparat.

7 elemen pembentuk outbound tersebut akan saling memengaruhi perencanaan sehingga perlu dikaji sedemikian rupa supaya rancangan sesuai dengan konten dan konteks mengapa kegiatan tersebut perlu dilakukan. Dalam suatu outbound, ketujuh eleman tadi bisa saja dikaji semua, namun sangat mungkin juga kita hanya perlu melakukan tinjauan pada beberapa elemen saja, disesuaikan dengan kondisi peserta.

Selain sebagai singkatan, “MERDEKA” juga bisa diartikan kebebasan atau kemerdekaan dalam merancang outbound, sesuai dengan kapasitas pengetahuan, pengalaman, dan imajinasi kita. Outbound yang secara merdeka kita rancang tentunya diharapkan, benar-benar bisa memerdekaan peserta dalam mencapai sasaran.

Narasumber Seminar/ Pelatihan adalah AGUSTINUS SUSANTA, ST., M.Pd. 

  • Penulis buku OUTBOUND MERDEKA (proses terbit), 
  • Penulis Buku “Merancang Outbound Training Profesional,” “Outbound Profesional,” & “123 Permainan Tanpa Alat”,
  • Pengalaman merancang & memfasilitasi lebih dari 500 program outbound selama 20 tahun,
  • Pengalaman sebagai Asesor Kompetensi Fasilitator Experiential Learning.
  • Anggota AELI/ Asosiasi Experiential Learning Indonesia.

Lalu, apa beda antara SEMINAR dan PELATIHAN?


Sudah siap untuk meningkatkan diri dengan menambah ilmu merancang outbound secara taktis? hubungi saja MANCAKRIDA via 0812 2680 2639


MERDEKA!


Share:

PERMAINAN TANPA ALAT, Mau Seminar atau Pelatihan?

Antisipasi

Apakah kita pernah mengalami “kenaasan”  seperti ini?

  • Tiba-tiba ditodong mengisi sesi ice breaking atau perkenalan, namun kita tidak siap,
  • Mengikuti pertemuan yang membosankan tanpa ada penyegaran,
  • “Dicap” terlalu monoton saat memberi pelajaran/ pelatihan/ materi,
  • Ingin membawakan permainan, tapi ribet dengan persiapan membawa peralatannya.

Jika pernah, mari kita entaskan kenaasan tersebut dengan menyelami materi  PERMAINAN TANPA ALAT melalui suatu WORKSHOP atau PELATIHAN

Kenapa? 

Karena materi yang didasari buku “123 PERMAINAN TANPA ALAT” ini  dirancang supaya para pesertanya bisa terinspirasi membawakan permainan tanpa menggunakan alat apapun alias tangan kosong.  

Materi:

  1. Kategori permainan (Perkenalan, Massal, Sinergi, Imajinasi, Kompetisi, dan Teka-teki)
  2. Potensi skala kecerdasan pemain (Linguistik,  Matematis/ Logika,  Spasial/ Visual,  Kinetik-Jasmani,  Musikal, Interpersonal,  Intrapersonal, dan  Naturalis)
  3. Teknik membawakan permainan secara efektif.
  4. Teknik memaknakan/ refleksi permainan secara taktis

Materi PERMAINAN TANPA ALAT ini sangat cocok diperdalam oleh mereka yang bergerak dalam bidang pemberdayaan manusia, diantaranya: Guru, Dosen, Trainer, Fasilitator, Supervisor, Outbounder, dan  para praktisi pengembangan SDM.

Format Pembelajaran

Format kegiatan pembelajaran bisa berupa Seminar, atau Pelatihan dengan perbedaan sebagai berikut



Trainer Seminar/ Pelatihan akan  dibawakan langsung oleh Penulis buku “123 Permainan Tanpa Alat,” yaitu:  Agustinus Susanta, S.T., M.Pd. 
Berlatar belakang Arsitek, Dosen, Asesor, Outbounder, Penulis, & Trainer, selama 20 tahun penulis mengulik dan memerdalam dunia pengembangan karakter berbasis experiential learning/ outbound. Lebih dari 500 program sudah digelutinya,  dengan total peserta lebih dari 33 Ribu  orang. 

Pengin tahu salah satu contoh permainan seru tanpa alat yang bisa digunakan untuk outbound?
Simak saja di sini ya...

Share:

Apa Perlunya Outbound Diilmiahkan? (Bagian ke-3 Dapat Master dalam 1 Tahun)

Pengantar

Jika kita sebagai fasilitator experiential learning (Fasel) berpikir (buka merasa, ya) suatu outbound yang kita selenggarakan bisa meningkatkan komunikasi antarpeserta, bagaimana membuktikannya? Sering pula suatu outdoor training disebut bisa mengembangkan kerjasama pesertanya, apa benar-benar begitu faktanya, atau itu hanya ASUMSI kita sebagai penyelenggara? Atau bahkan lebih parah hanya sekedar klaim untuk kepentingan tertentu saja. Hmm… bisa jadi memang ada hal-hal yang bisa ditingkatkan atau dikembangkan dari dalam peserta usai yang bersangkutan mengikuti outdoor training atau sejenisnya, namun gimana cara membuktikannya? Salah satu cara sederhana sebagai upaya membuktikan atau membuat suatu kegiatan menjadi valid atau meyakinkan adalah dengan melakukan program kegiatan secara sistematis untuk dilaporkan atau ditulis secara ilmiah.

Catatan ini merupakan seri ke-3 rangkaian saya menceritakan serunya kuliah Magister Pendidikan di UNY bagi kelas khusus para Fasel atau Outbounder yang mengambil program RPL. Penjelasan lebih detil bisa dimulai dari sini saja ya dan intinya kita para outbounder yang sudah punya pengalaman bisa mendapat gelar Master Pendidikan hanya dalam waktu 1 tahun saja (2 semester) alih-alih program reguler 2 tahun (4 semester). Hal ini membuat kita mendapat semacam “beasiswa” senilai 17 juta jika dihitung dari pembayaran uang kuliah selama 2 semester yang bisa kita bebaskan akibat rekognisi pengalaman lampau. Jika pada bagian ke-2 sudah saya ceritakan lika-liku mengambil kelas teori, pada bagian ini saya akan berkisah tentang dinamika kami mengikuti dan menyelesaikan mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah (2 SKS) yang erat kaitannya dengan mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan (3 SKS), Penulisan Proposal dan Seminar Tesis (3 SKS), dan Tesis (6 SKS). Tidak hanya untuk para outbounder yang mau ikut program seperti kami, namun catatan ini bisa dibaca-baca oleh siapa saja yang ingin mendapat tips praktis menulis karya ilmiah. Sebagian besar materi yang saya sampaikan di blog ini berasal dari mata kuliah terkait yang pernah saya ambil; yuk langsung saja kita ulik.

Konteks Penulisan

Tujuan penulisan ilmiah sebenarnya sederhana, seperti halnya tulisan populer, yaitu “menyampaikan sesuatu.” Apa saja sesuatu itu? Bisa macam-macam lah, baik bergenre sosial kemasyarakatan, sains, pendidikan, olahraga, psikologi, teknologi komunikasi, dan lain-lain. Sayangnya, kita tidak bisa asal menulis karena harus mengikuti pedoman dan aturan penulisan tertentu. Tempat penayangan hasil tulisan kita pun biasanya pada jurnal ilmiah sebagai salah satu dari media komunikasi ilmiah, atau berbentuk skripsi, tesis maupun disertasi. Cerita tentang tesis saya beberkan dalam blog berikutnya ya.... Sebelum ikut kuliah ini, saya pikir saya sudah melakukan penulisan secara ilmiah pada beberapa buku karya saya, namun ternyata setelah dikaji terhadap syarat dan ketentuan yang berlaku, tulisan yang ada di buku-buku serius tidak otomatis menjadi tulisan ilmiah. Bagi banyak mahasiswa, menulis karya ilmiah yang bisa tembus (dimuat) pada jurnal itu seperti “momok” menakutkan dalam proses perkuliahan; mungkin seperti Superman yang takut pada batu kryptonite yang bisa melemahkannya. Cerita tentang jurnalpun bisa lebih menakutkan karena mereka dibagi dalam beberapa kasta. Berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonesia terkait dengan publikasi jurnal, jurnal ilmiah dapat dibagi menjadi 4 kelas, yakni jurnal nasional, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, dan jurnal internasional bereputasi. Namun kita kan maha, mahasiswa; masa sih takut pada sesuatu yang mestinya bisa kita kuasai? Sarjana takut nulis skripsi, kuliah master takut nulis tesis, kan lucu... Lebih lucu lagi jika hal itu menimpa para outbounder yang sering memberi motivasi pada peserta pelatihan/ outbound; semangat, pantang menyerah, never give up, Huh!

Menulis artikel ilmiah itu tidak terlalu mudah namun juga tidak terlalu gampang karena mengandung 3 fungsi sekaligus, yaitu fungsi ilmiah, fungsi sosial, dan fungsi ekspresi (sang penulis). Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam penulisan ilmiah adalah

  1. Aspek isi terkait kajian bidang keilmuan yang hendak dibahas,
  2. Aspek bahasa yang harus mengikuti tata bahasa tulis ilmiah, dan
  3. Aspek format penyajian terkait aturan dan gaya selingkung atau penyesuaian format tempat tulisan akan dipublikasikan.

Oh ya, tiap jurnal punya format penulisan tertentu ya, ada yang sama, mirip, juga beda; misal tentang jenis huruf, jarak antarbaris, tatacara menampilkan gambar, aturan membuat kutipan, dan sebagainya. Secara umum konten tulisan ilmiah itu perlu dibuat secara obyektif, rasional, kritis, dan mengandung sesuatu yang baru. Jadi, walau kita sudah melakukan sesuatu atau lebih spesifik lagi penelitian yang kita anggap ilmiah lalu dituliskan secara ilmiah pula; namun kalau aktivitas yang sama sudah pernah dilakukan oleh orang lain, maka produk kita tidak lagi “ilmiah.”

Ilmiah ni ye....
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/330099847700344695/

Gimana para pembaca? Sudah mulai panik, eh, mulai memahami konteks tulisan atau artikel ilmiah? Semoga. Saya berusaha menjelaskan hal-hal imiah ini secara sederhana sehingga gaya bahasanya juga dibuat populer karena tujuan penayangannya di blog. Beberapa hal saya sampaikan saja garis besarnya, karena kalo sampai detil atau teknis itu namanya materi kuliah, he he he… maksudnya supaya tulisan ini tidak terlalu (sangat) panjang dan pada akhirnya membosankan. Yuk lanjut tentang bagaimana mengawali penulisan ilmiah yang terdiri dari tahap prapenulisan, penulisan, dan pascapenulisan.

Perlu disadari bahwa menulis ilmiah itu bukan proses “sekali ngetik” seperti bisa digunakan untuk membuat puisi, cerpen, status media sosial, atau artikel populer. Maksud istilah “sekali ngetik” itu adalah hanya dalam sekali menuliskan dengan melihat dan menggarap satu lembar kerja saja, sudah tercipta dan menyelesaikan naskah. Penulisan ilmiah itu proses menuangkan proses dan hasil kegiatan “bukan menulis,” atau lebih jelasnya adalah “penelitian.” Memang ada penelitian yang berdasarkan literatur, namun itu kan juga meliputi kegiatan “lain” yaitu mencari, membaca, menelaah, menyimpulkan, sampai dituangkan dalam bentuk tulisan. Ya, seumumnya penelitian itu mengandung tindakan pikir dan fisik tertentu. Maka, absurd jika mau menulis ilmiah tetapi tidak ada “penelitian” yang sedang atau sudah dilakukan. Misal, kita mau menulis tentang “efek permainan spider web terhadap peningkatan pola komunikasi peserta outbound,” namun tidak pernah memainkan games “spider web” yang dikaji sesuai tujuan penelitian. Ya, bisa sih kita mengira-ira efeknya hanya berdasar pengalaman memfasilitasi beberapa kali games “spider web,” lalu dituliskan; tapi itu kan bukan artikel atau tulisan ilmiah. Bagaimana semestinya permainan tersebut dijalankan? urusan metodologi penelitian itu beda perkara, walau terkait dengan metode  penulisan ilmiah, namun maaf tidak saya bahas di sini.

Dalam tahap prapenulisan, kita memerlukan bahan tulisan dan kerangka penulisannya. Memasuki tahap penulisan, kita membuat draft tulisan dengan anatomi yang disyaratkan. Tahap terakhir yaitu pascapenulisan terdiri dari penyuntingan naskah, lalu memublikasikannya.

Bagaimana mencari dan mengembangkan gagasan yang bisa dituliskan secara ilmiah? Pada tulisan sebelumnya di seri kedua, yang bisa dibaca  di ruang ini, (dalam konteks tesis), saya menyarankan saat kita mau kuliah sebaiknya sudah menemukan tema apa yang mau diteliti (lalu dituliskan secara ilmiah). Cukup riskan jika sudah tiba saatnya tesis atau tenggat mengirim tulisan ilmiah (untuk kepentingan tertentu) kita baru mencari gagasan… boleh sih mencari, dari yang sederhana sampai simpel terserah saja, yang penting ketemu. Tips mencari gagasan secara umum adalah tinjauan terhadap bobot permasalahan, urgensi, orisinalitas, kemutakhiran, dan kedalaman gagasan. Saat gagasan sudah ditemukan, kita lalu perlu tahu hal tersebut akan dilaksanakan dengan jenis penelitian kualitatif, penelitian kuantitatif, atau campuran. Hal ini yang tadi saya sebut dengan metodologi penelitian yang variannya juga banyak. Intinya kita perlu menjawab pertanyaan penelitian dengan metode yang tepat. Langkah berikutnya kita perlu mendata tulisan, buku, jurnal, atau data lain yang bisa digunakan sebagai pendukung penelitian.

Bagaimana saya mendapatkan gagasan dalam memenuhi tugas mata kuliah “Penulisan Karya Ilmiah?” sederhana, kok. Saya cari dahulu apa kegiatan ilmiah yang akan dituliskan. Nah, kebetulan AELI DPD Jawa Tengah akan mengadakan kegiatan “Workshop The Art of Ice Breaking; Kupas Tuntas Seni Membawakan Ice Breaking. Bagi saya itu kegiatan dengan tema yang menarik dan bisa dituliskan scr ilmiah; namun karena kegiatan tersebut bukan kegiatan ilmiah, saya putar otak gimana bisa “memanfaatkan” workshop tadi menjadi kegiatan ilmiah yang hasilnya bisa dituliskan. Saya lalu berpikir untuk melakukan penelitian yang tujuannya untuk mengetahui apakah workshop tersebut bisa meningkatkan kemampuan peserta dalam hal ice breaking. Saya lalu menghubungi panitia penyelenggara untuk menjajagi apakah saya bisa "mengintervensi" acara dengan melakukan penelitian berupa pemberian angket pretest dan posttest bagi peserta. Syukurlah panitia menyambut baik niat saya. Singkat cerita; workshop berlangsung lancar sambil saya melakukan penelitian berudul “Workshop untuk Meningkatkan Kemampuan Ice Breaking pada Fasilitator Experiential Learning.” Hasil penelitan saya tulis menjadi artikel ilmiah dan dikirimkan ke jurnal.

Workshop The Art of Ice Breaking; Kupas Tuntas Seni Membawakan Ice Breaking

Anatomi Penulisan

Anatomi atau susunan artikel ilmiah terdiri dari beberapa konten berikut, walau tiap jurnal tidak sama persis mengurutkan atau menamainya.

  1. Judul
  2. Nama Penulis
  3. Abstrak
  4. Kata Kunci
  5. Pendahuluan
  6. Landasan Teoritis/ Empiris
  7. Metode (penelitian)
  8. Hasil dan Pembahasan
  9. Simpulan dan Saran
  10. Daftar Pustaka

Judul

Menuliskan judul sekilas sederhana, namun sebaiknya dirumuskan secara tepat dengan memerhatikan beberapa kaidah berikut ini. 

  • Judul Dinyatakan berupa proposisi, bukan kalimat; serta memberikan gambaran ringkas, tepat, dan jelas tentang gagasan yang ditulis. 
  • Sebaiknya judul bisa membuat pembaca tertarik untuk mengetahui isi tulisan. 
  • Judul diupayakan mudah diingat dan memancing perhatian, tidak mengandung singkatan & rumus, serta dibatasi tidak lebih dari 12 kata selain kata sambung. 

Berdasarkan pengalaman dan refleksi, menulis judul itu mudah saat kita sudah tahu kira-kira apa saja yang akan dilakukan dalam penelitian, termasuk gambaran atau kemungkinan hasilnya. 

Abstrak

bagian "Abstrak" dibuat secara ringkas dan padat berisi ide-ide yang paling penting saja, meliputi masalah dan/atau tujuan penelitian, prosedur penelitian, dan ringkasan hasil penelitian. Abstrak dibuat dalam satu paragraf saja, umumnya terdiri dari maksimum 200 kata serta ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Mohon hindari singkatan, kutipan, tabel, gambar, dan merk dagang dalam "abstrak." Berdasarkan beberapa kaidah tadi, maka walaupun posisi dalam tulisan ada di awal, namun "abstrak" ditulis atau difinalkan kalimatnya setelah penelitian selesai. "Abstrak" diakhiri dengan “kata kunci” sebagai kata atau istilah yang dibahas serta digunakan untuk mempermudah penelusuran artikel. 3 sampai 5 kata kunci yang dipilih harus mempunyai makna yang khas dan jelas, terdapat di dalam judul atau bahasan, serta sebaiknya mengacu pada tesaurus (kumpulan istilah dalam satu bidang tertentu).

Pendahuluan

Kini kita masuk pada bagian awal, yaitu “pendahuluan.” Bagian ini berisi latar belakang atau rasionalitas penelitian, diawali dengan uraian permasalahan yang akan diteliti. Apa itu “masalah” dalam konteks penelitian atau artikel ilmiah. Ternyata masalah itu merupakan kesenjangan antara kondisi yang ideal atau yang diharapkan dengan kondisi yang ditemui (peneliti) saat ini.  Contoh konteks masalah yang pembahasannya saya sederhanakan nih; Untuk mencapai era Generasi Emas 2045 Bangsa Indonesia memerlukan generasi muda yang tangguh baik secara kepribadian, intelektual, dan sosial; namun (menurut tinjauan peneliti) generasi muda saat ini masih “memble” dalam hal-hal tadi sehingga jika tidak ada intervensi atau usaha tertentu, ketercapaian Generasi Emas 2045 bisa ambyar. Apa masalah atau kesenjangannnya? ya, idealnya kita perlu generasi muda yang tangguh, kenyataannya tidak atau belum. Setelah itu apa? nah, penelitian yang kita lakukan menjadi salah satu respon yang bisa dilakukan untuk menyempitkan atau menghilangkan kesenjangan tersebut.

Bagian “Pendahuluan” yang baik perlu dibuat secara bertanggungjawab, terlebih untuk status-status ilmiah perlu disertai sumber acuan (data dan referensi) yang jelas. Misal, masih melanjutkan masalah yang barusan dicontohkan. (Peneliti bilang) generasi muda sekarang masih memble di bidang itelektual itu apa buktinya? Oh, dia bisa saja mengambil data tes PISA (Programme for International Student Assessment) terbaru dan dibandingkan dengan negara lain. Pernyataan-pernyataan yang bersifat umum tidak perlu sumber acuan; misalnya, tidak perlu referensi untuk menuliskan bahwa generasi muda itu perlu sopan-santun. Ya, kita perlu jeli memilah mana pernyataan yang perlu referensi dan mana yang tidak. Kita sebagai peneliti perlu membangun kesadaran bahwa pembaca tidak akan otomatis setuju dengan pernyataan kita, jika tanpa pendasaran yang bisa dinalar.

Wawasan rencana pemecahan masalah merupakan bahasan berikutnya pada bagian “Pendahuluan” yang lalu dituangkan dalam “Rumusan Tujuan Penelitian.” Contoh: karena ada masalah kesenjangan kepribadian generasi muda, dari yang idealnya tangguh (guna mencapai Indonesia Emas 2045), tetapi saat ini (dinilai) memble, maka penulis/ peneliti menggagas sebuah program penggemblengan kepribadian generasi muda melalui kegiatan outbound. Outbound yang dimaksud akan dianalisis sejauh mana bisa meningkatkan kepribadian generasi muda; itulah yang disebut dengan tujuan penelitian. Tentu contoh-contoh tadi pada praktiknya akan diperteknis ya, saya hanya menjelaskan prinsipnya; misal generasi muda itu usia berapa? Outbound yang dimaksud itu seperti apa? Cara mengukur efektifitasnya bagaimana? dan sebagainya.

Oh ya, sebelum meninggalkan pembahasan bagian “pendahuluan,” kita kepoin sekali lagi tentang urusan “masalah” sebagai salah satu kunci keberhasilan suatu tulisan ilmiah. Dosen saya bilang jika kita bisa merumuskan masalah dengan tepat, maka sebagian penelitian kita sudah dijalani dengan benar; namun keliru merumuskan masalah bisa membuat kita tersesat dalam penelitian kita sendiri. Perlu kita perhatikan, “masalah” itu tidak sama dengan judul, namun inti persoalannya perlu tersirat dalam judul tulisan ilmiah. Masalah bisa berupa pertanyaan atau pernyataan yang diajukan untuk dicari jawabannya, atau dapat juga berupa hipotesis yang akan diuji kebenarannya. "Masalah" tentu bukan barang baru dalam konteks penelitian, karena duluuu… kemungkinan besar masalah serupa itu juga ada. Maka, tuliskanlah solusi-solusi yang pernah ada untuk masalah atau kesenjangan yang ditemukan. Misal terhadap masalah X pernah ada solusi 1, 2, 3, dan 4; Nhah… kini saya sebagai peneliti akan mencoba solusi  5. Bagaimana kita tahu pernah ada solusi 1 sampai 4? Ya ditelusuri dong; terutama lewat jurnal-jurnal setema. Kalau peneliti malas melakukan penelusuran, nggak mau tahu, ngotot maunya sendiri, bisa-bisa dia akan melakukan penelitian model 3 tanpa tahu bahwa hal itu sudah dilakukan orang lain 3 tahun sebelumnya; gawat… (kalau ketahuan, he he he…) Cukup ya… kini kita masuk pada bagian yang lain.

Pake Teori Apa?

Bagian “Landasan Teoritis/ Empiris” berisi teori maupun konsep utama yang digunakan dalam penelitian. Studi atau penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang sedang digagas penulis juga sebaiknya masuk dalam bagian ini, termasuk adopsi dan modifikasi model penelitiannya jika ada. Pada beberapa jurnal, penjelasan tentang landasan teori dimasukkan dalam bagian pendahuluan atau malah pembahasan. Pada contoh artikel “Workshop untuk Meningkatkan Kemampuan Ice Breaking pada Fasilitator Experiential Learning,” landasan teori masuk dalam bagian pendahuluan, tempat saya menjelaskan setidaknya teori tentang ice breaking, fasilitator, dan experiential learning.

Metode (Penelitian)

Bagian artikel ilmiah lainnya adalah “Metode” sebagai uraian terperinci tentang prosedur penelitian atau penulisan. Kita harus memaparkan jenis penelitiannya, bentuk-bentuk data yang dioleh beserta sumber pemerolehannya, spesifikasi model, responden, atau subyek penelitian (jika ada), serta bagaimana data-data tersebut akan dianalisis untuk mendapatkan hasil. Hal-hal tersebut perlu diuraikan secara terperinci termasuk jika ada adopsi dan modifikasi metode yang wajib ditulis sumbernya. Sulitkah? Hmmm… jika kita mencoba menuliskan bagian “metode” lebih dahulu sebelum penelitian dilakukan, mungkin akan ada pembaca yang mengalami kesulitan; namun jika bagian ini ditulis atau disempurnakan setelah penelitian (yang valid) usai dilaksanakan, pasti akan lebih mudah mendeskripsikannya. Salah satu kunci ketepatan penggunaan petode adalah rumusan permasalahannya harus jelas. Intinya, jika pertanyaannya sudah jelas, maka cara untuk mencari jawabnya pasti makin benderang.

Apa Metodemu?
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/748371663095031994/

Hasil dan Pembahasan

Kini kita masuk pada bagian “Hasil dan Pembahasan” yang dari namanya sudah jelas berisi uraian hasil dan analisis pembahasan penelitian yang merupakan bagian utama artikel ilmiah. Penyajian bagian ini berlu dilakukan secara sistematis dan biasanya diperjelas dengan ilustrasi: tabel & gambar. Ingat ya, tabel dan gambar dibuat sederhana tanpa ornamen (estetika) macam-macam supaya tidak mendistorsi konten. Gambarpun perlu dipilih yang benar-benar relevan dengan pembahasan. Lebih penting lagi, data ilustrasi harus ditafsirkan dalam uraian dengan memperhatikan masalah yang dikaji. Pengertian “ditafsirkan” juga bukan berarti kita membuat imajinasi liar sesuka hati, namun membandingkan hasil penelitian dengan model atau teori yang diacu. Hal ini akan membawa kita menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaimana tujuan penelitian tersebut dicapai.

Jika semua serba diatur, di mana letak kreativitas penulis atau peneliti dalam bagian “hasil dan pembahasan?” jangan khawatir, kita masih bisa berimajinasi secara ilmiah untuk mengemukakan pendapat dan argumentasi secara bebas, tetapi singkat dan logis. Kompetensi kita juga diuji untuk menghubungkan hasil penelitian yang sedang dilakukan dengan penelitian sebelumnya melalui paparan persamaan dan membahas perbedaannya. Secara lebih luas, bagian ini juga mendorong kita untuk menjelaskan arti temuan guna memperluas cakrawala ilmu dan teknologi, misalnya dengan menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada.

Kita harus jeli membedakan mana hasil penelitian dan mana pembahasannya. Ingat, tiap jurnal mensyaratkan selingkung atau gaya penulisan yang berbeda, namun prinsip mana hasil penelitian dan mana tafsir/ pembahasan tentu 2 hal yang berbeda; walau kadang bingung juga mengategorikannya. Saya akan contohkan berdasar kasus yang sudah disampaikan tentang "Workshop Ice Breaking" ya. Hasil (pengamatan/ pendataan) saya diisi dengan deskripsi lokasi workshop, jumlah, latar belakang, dan asal peserta. Kronologi, dan durasi tiap mataacara juga dijabarkan  sebagai hasil penelitian; termasuk yang penting adalah apa saja materinya dan profil atau latar belakang narasumbernya. Karena metode yang digunakan adalah pretest dan posttest, maka hasil perbandinganan nilai atau skornya merupakan inti dari bagian “hasil,” sehingga wajib ditampilkan.

Kini kita menyelami urusan “pembahasan” yang tadi saya sampaikan mewadahi imajinasi ilmiah sang peneliti. Pembahasan yang saya lakukan pertama-tama meliputi hal-hal yang sudah disebutkan dalam teori, yaitu ice breaking, fasilitator, dan experiential learning; yang lalu dikaitkan dengan hasil penelitian. Saya membahas urgensi penguasaan ice breaking pada fasilitator experiential learning yang dalam konteks penelitian diukur lebih dahulu skalanya. Proses workshop juga saya bahas ditinjau kontekstualitas dari sisi kepesertaan, materi, kepakaran narasumber, lokasi acara, dan yang terpenting adalah perbandingan skor pretest dan posttes peserta tentang pemahaman ice breaking.

Ternyata….

Kini tibalah kita pada bagian “Simpulan dan Saran,” yang intinya memuat jawaban atas pertanyaan penelitian. Jawaban yang dimaksud berupa pernyataan pendek atau generalisasi dari temuan dan dilakukan secara deskriptif, bukan numerik. Urusan rumus dan angka-angka biarlah dibahas sedetil mungkin pada bagian sebelumnya. Karenanya, simpulan bukanlah salinan bagian “pembahasan.” Bagian ini juga memuat implikasi temuan penelitian, saran yang bersifat praktis, pengembangan teori, dan arah penelitian lanjutan. Dalam studi kasus penelitian "ice breaking" saya, simpulannya adalah workshop yang saya teliti terbukti bisa meningkatkan pemahaman peserta akan ice breaking. Dari mana simpulan tersebut diperoleh; ya dari perbandingan skor skor pretest dan posttest, lah.

Mari kita berimajinasi, seandainya simpulan penelitian adalah “workshop tidak membuktikan peningkatan pemahaman peserta terhadap ice breaking” ditandai dengan skor posttest yang sama atau bahkan lebih rendah dari pretest, apakah hasil penelitian tersebut bisa ditulis dan masih bisa dikategorokan sebagai artikel ilmiah? Bisa, selama kaidah atau metodologi yang dilakukan juga sama. Dalam ilmu meneliti dikenal sebuah dugaan sementara yang sering disebut dengan “hipotesis,” yang disampaikan sebelum penelitian dilakukan. Beberapa alternatif hipotesis intinya mencoba mengimajinasikan apakah ada kaitan atau pengaruh antara variabel satu dengan yang lain. Pada akhir penelitian, barulah bisa dinyatakan apakah hipotesis atau ramalan kita terbukti atau tidak. Sudah ah… seni meneliti itu buanyak banget pendekatannya, monggo dipelajari sendiri ya; kini kita akan masuk pada bagian terakhir, “Daftar Pustaka.”

Daftar Pustaka

Sesuai namanya, “Daftar Pustaka,” maka akan ada beberapa hal yang didaftar di bagian itu. Hal yang dibuatkan daftarnya adalah sumber-sumber pustaka atau karya ilmiah yang dikutip penulis/ peneliti dalam tulisan atau laporan  tersebut. Sumber-sumber pustaka bisa berasal dari buku, artikel ilmiah dalam jurnal surat kabar, laporan penelitian, skripsi, thesis, disertasi, dan materi-materi ilmiah sejenis; itupun masih bisa berupa fisik  atau tertemukan di internet.  Daftar pustaka harus disusun lengkap sesuai rujukan dalam teks, dengan tata cara penulisan mengacu pada aturan jurnal yang bersangkutan. Selain untuk menjelaskan bahwa pernyataan yang dimaksud memang diambil dari sumber tertentu, secara tidak langsung hal itu juga menunjukkan keterkaitan penelitian kita dengan gagasan yang sudah pernah disampaikan orang lain, sekaligus mengapresiasi buah pemikiran mereka. Tulisan ilmiah yang minim daftar pustaka sering diasosiasikan dengan penulisnya yang “masa bodoh” terhadap tema sejenis sehingga derajat penelitian yang digarap bisa jadi juga sekedarnya saja.

Misal nih, sebagai contoh dalam artikel ilmiah sang penulis (berdasarkan pemikiran sendiri) menyatakan bahwa “Outbound adalah kegiatan difasilitasi oleh event organizer dengan tujuan membuat pesertanya bersenang-senang melalui berbagai games yang kadang-kadang terlihat konyol tapi menyenangkan.” Hmmm… karena penulis kurang “gaul,” maka sebenernya “outbound” yang seperti dia maksud itu sudah pernah didefinisikan oleh orang lain, salah satunya oleh Agustinus Susanta dalam buku “Outbound Profesional; Pengertian, Prinsip Perancangan, dan Panduan Pelaksanaan,” yang diterbitkan oleh Penerbit Andi di Yogyakarta pada Tahun 2010. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa “Outbound adalah metode pengembangan diri melalui kombinasi rangkaian kegiatan beraspek psikomotorik, kognitif, dan afeksi dalam pendekatan pembelajaran melalui pengalaman.” Melalui perbandingan 2 pengertian “outbound” tadi, apakah peneliti melakukan kesalahan? Tidak juga sih, hanya konyol saja; masa orang menyampaikan pemikirannya sendiri disalahkan? Hanyaaa… dalam konteks kepenulisan ilmiah, disayangkan saja dia “kurang gaul atau kurang kepo” terhadap tema sejenis. Lha wong mau nulis tentang "outbound" kok, males nyari literatur tentang "outbound," wagu..

Kutu Pustaka
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/51932201947406403/


Setelah semua naskah artikel ilmiah tertulis, tibalah kita pada tahap pascapenulisan yang dimulai dari revisi naskah. Bukan konten atau metode penelitian yang direvisi ya, tetapi aspek format dan kebahasan meliputi teknik penulisan, tata bahasa, pilihan dan ukuran huruf, ejaan, tanda baca, penyajian gambar/ tabel, referensi, dan sebagainya. Tiap jurnal mempunyai selingkung yang beda semisal terkait jumlah kata dan prosentasenya dalam tiap bagian tulisan; sesuaikanlah draft tulisan kita dengan menyuntingnya sehingga sesuai ketentuan. Jika sudah selesai, maka naskah kita siap dikirim; baru dikirim ya; apakah nanti diterima dan masuk jurnal atau publikasi lain yang kita harapkan, ya itu urusan nanti. Lazim jika artikel ilmiah yang sudah kita kirim dikembalikan untuk direvisi sesuai dengan kebijakan jurnal yang bersangkutan. Beberapa teknis memformat tulisan ilmiah akan saya paparkan dalam blog edisi selanjutnya yang bertema tentang “tesis.”

Penutup

Usai sudah sekelumit paparan tentang tatacara menulis ilmiah yang saya tulis secara populer. Kini kita kembali pada pertanyaan awal, untuk menutup catatan ini, “Apa perlunya outbound diilmiahkan?PERLU, jika kita ingin menunjukkan pada khalayak lebih luas bahwa outbound (seperti yang kita lakukan atau pikirkan) bisa memberi dampak tertentu yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan melalui kajian atau penelitian yang valid. Saya menulis catatan ini juga dalam upaya menganimasi rekan-rekan sesama fasilitator experiential learning atau outbounder yang pasti punya pengalaman, agar mulai berpikir lalu tergerak serta bertekad (mulai) menuliskan pengalaman pendampingannya secara ilmiah sehingga pendasaran aktivitas (yang diklaim experiential learning) tersebut makin PeDe dilirik sebagai metode yang bertanggungjawab serta makin diperhitungkan sebagai salah satu  upaya mengembangkan bangsa Indonesia. Pengalaman boleh saja sederhanya, semisal memandu 1 jenis permainan saja; namun jika hal tersebut bisa dikontekskan dengan gagasan penyelesaian suatu permasalahan, maka tambahkanlah beberapa tindakan ilmiah supaya memenuhi kaidah metodologi penelitian.

Beberapa tahun lalu saya sudah menginisiasi model penulisan pengalaman pendampingan berbasis experiential learning dalam bentuk penulisan populer yang salah satu keseruan prosesnya bisa diikuti di pos ini. Saat sudah jadi Master Pendidikan (selama 1 tahun saja), saya kembali mengajak para outbounder untuk sama-sama berbagi pengalaman dan manfaat program, namun dengan cara (lebih) ilmiah. Dalam postingan berikutnya, saya akan cerita konteks penulisan ilmiah dengan format tesis, sebagai refleksi terhadap perjuangan menyelesaikan tesis di Program RPL S2 UNY. Tunggu tanggal terbitnya ya…


Salam menulis;
Brebes, 14 Maret 2024

Agustinus Susanta, S.T., M.Pd.

---Bersambung---
Share:

Bener-bener Kuliah Subuh (Bagian ke-2 Dapat Master dalam 1 Tahun)

Bener-bener Kuliah Subuh

Dasar para outbounder gokil. Baru 3 mahasiswa yang masuk ruang kuliah via zoom, tiba-tiba sang dosen masuk ditandai dengan penampilan nama dan foto yang bersangkutan. Biasa, kalo menghayo-hayo rekan kuliah lain, maka layar HP atau laptop di screenshoot lalu dikirim dalam grup WA angkatan. Sontak beberapa rekan mahasiswa segera masuk ruang kuliah virtual tadi. Anehnya ada salah seorang yang malah tertawa girang karena berhasil ngerjain teman-teman lainnya. Apa pasalnya? Ternyata, dia; sebut saja Si Usil masuk ruang kuliah dengan mengganti nama dan fotonya dengan nama dan foto sang Dosen. Dasar semprul….

Satu lagi pengalaman unik para pegiat experiential learning yang kuliah adalah waktu perkuliahan yang digeser dari Jumat siang menjadi hari Jumat subuh. Ceritanya, para outbounder itu kalau hari Jumat dan Sabtu kan mulai kesulitan cari waktu kuliah (bareng) karena kesibukan profesional mereka sebagai fasilitator. Eee… tak disangka sang dosen begitu memahami kondisi tersebut sehingga malah terjadi kesepakatan bahwa jatah kuliah online hari Jumat, dibuat subuh, iya, persis setelah waktu Shalat Subuh. Ternyata animo para mahasiswa justru tinggi nan bersemangat kuliah subuh-subuh. Luar biasa…

Itu tadi duakelumit kisah keseruan, bagian dari syering pengalaman tentang asyiknya kuliah RPL S2 di UNY. Jika saya sebut kami, itu merujuk pada 12 mahasiswa angkatan 2022 dan 13 mahasiswa angkatan 2023 yang sebagian besar berprofesi sebagai fasilitator experiential learning atau istilah kerennya outbounder. Kami kuliah di Departemen PLS (Pendidikan Luar Sekolah), Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta melalui jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau).  RPL adalah pengakuan atas capaian pembelajaran seseorang yang diperoleh dari pendidikan formal, nonformal, informal, dan/atau pengalaman kerja sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan formal dan untuk melakukan penyetaraan dengan kualifikasi tertentu.  Silakan catatan ini bisa dibaca-baca untuk memberi inspirasi bahwa kuliah itu bisa simpel nan menyenangkan, tentu dengan segala lika-likunya.

Serunya sesekali mengunjungi kampus
Kayaknya saya akan membagi catatan ini menjadi 4 subtema, yaitu:

  1. Pendaftaran,
  2. Dinamika Perkuliahan,
  3. Menuntaskan Laporan Tesis, dan
  4. Prosesi Kelulusan dan Wisuda.

Bahasan pertama tentang pendaftaran sudah bisa dilihat di sini. Kini kita nikmati bagian kedua tentang dinamika perkuliahan yang saya petik dari pengalaman 2 angkatan RPL S2. 

7 mata kuliah yang kami ambil pada semester pertama adalah:

  1. Teori Pengembangan Manusia dan Masyarakat (2 SKS),
  2. Filosofi dan Teori PNF (2 SKS),
  3. Pendidikan Transformatif (2 SKS),
  4. Filsafat Ilmu (2 SKS),
  5. Statistika (2 SKS),
  6. Penulisan Karya Ilmiah (2 SKS), dan
  7. Metodologi Penelitian Pendidikan (3 SKS).

3 mata kuliah yang diambil pada semester kedua adalah:

  1. Sistem Sosial Budaya dan Information and Communication Technologies (2 SKS),
  2. Penulisan Proposal dan Seminar Tesis (3 SKS), dan
  3. Tesis (6 SKS).

Saya tidak akan menjelaskan detil silabus para mata kuliah yang kami ambil. Silakan para pembaca yang budiman bisa menerka dari nama mata kuliahnya, apa saja yang bisa kami pelajari. Saya hanya akan membocorkan beberapa soal ujian tengah semester (UTS) maupun ujian akhir semester (UAS) guna memberi gambaran seperti apa kira-kira “ilmu” yang kami geluti ini.

UTS mata kuliah “Teori Pengembangan Manusia dan Masyarakat” itu hanya berbunyi begini seperti tertera dalam pesan WA sang dosen, Membuat tulisan tentang upaya pengembangan masyarakat dari perspektif profesi tiap mahasiswa.” Sebagai mahasiswa yang berprofesi outbounder atau fasilitator dan beberapa kali berkecimpung dengan dunia kepariwisataan, saya lalu menjawabnya dengan sebuah makalah berjudul “Peran Experiential Learning terhadap Pengembangan Pelaku Wisata.” Jika ingin tahu apa saja perannya, monggo bisa dibaca di catatan ini

UTS mata kuliah "Filosofi dan Teori Pendidikan Nonformal" hanya terdiri dari 3 soal saja, te, te te.. tetapi tiap soal ada a b c d nya. Saya tidak sanggup menuliskannya, namun soal dan sekaligus jawaban saya tentang “Pendidikan Sepanjang Hayat” bisa dilihat di berkas ini

UAS mata kuliah “Teori Pengembangan Manusia dan Masyarakat” mengandung 2 soal yang saling terkait seperti ini:

  1. Identifikasi potensi dan permasalahan yang ada dalam konteks pengembangan masyarakat teristimewa di masing-masing tugas area pengembangan masyarakat yang saat ini sedang dilakukan.
  2. Strategi atau penguatan kelembagaan semacam apa yang dapat dilakukan sesuai potensi dan masalah yang ada saat ini?

Hmm… kelembagaan apa yang mau diangkat ya? untunglah sebagai anggota, saya agak mengikuti perjalanan AELI sehingga entitas tersebut bisa dijadikan lembaga kajian. Makalah yang kemudian diserahkan sebagai berkas ujian adalah “Potensi, Permasalahan, dan Penguatan Akademik Kelembagaan AELI dalam Mengembangkan Masyarakat.” Bagi pembaca yang kepo bagaimana saya memotretnya, bisa intip di ruang ujian ini

UAS saya dalam mata kuliah "Pendidikan Transformatif" punya rentetan soal ujian sebagai berikut: Soal :  Silakan Anda membuat rancangan pendidikan transformatif dengan format sebagai berikut.

  • Latar Belakang : Pilih salah satu topik pendidikan yang secara empirik memang fenomenal, didukung oleh data-data, dan silakan identifikasi adanya ketidakberesan sosial dalam topik Anda tersebut. 
  • Sasaran : Sebutkan sasaran yang menjadi subjek pendidikan transformatif 
  • Transformasi : Jelaskan kira-kira transformasi yang dikehendaki seperti apa. Review
  • Teori : Silakan mengelaborasi pilihan beberapa teori pedagogi kritis yang relevan dengan topik Anda.
  • Analisis : Silakan Anda analisis fenomena pendidikan yang mengandung ketidakberesan sosial tersebut, yaitu mendiskusikan dan mendialogkannya dengan teori yang Anda pilih, misalnya bisa dengan teori pedagogi kritis, pendidikan progresif, pendidikan bermakna, atau ketiga-tiganya. 

Ya ampun…. Soalnya saja begitu, gimana mau njawabnya? Namun outbounder harus selalu semangat seperti sering diteriakkan pada peserta outbound; Semangat Pageee…! Akhirnya setelah melalui perjuangan, kelar juga jawaban saya yang diberi judul “Pendidikan Karakter Berbasis Experiential Learning dalam Memersiapkan Generasi Emas 2045.” Apa isinya? Silakan bisa dibaca di halaman ini

UAS mata kuliah "Filosofi dan Teori Pendidikan Nonformal" hanya mengandung 2 soal, yaitu

  • --Soal A): Jelaskan pengertian pengembangan manusia, evolusi pengembangan manusia yang relevan dengan evolusi pengembangan pendidikan luar sekolah, dan fungsi-fungsi pengembangan manusia; Pendidikan dan pelatihan sebagai fokus pengembangan manusia. Dan
  • --Soal B) Jelaskan, analisis, kritik, dan aplikasikan konsep "Pengertian pemberdayaan, pemberdayaan diri, memberdayakan orang lain; Pendidikan sebagai sarana pemberdayaan; Pendidikan luar sekolah sebagai proses pemberdayaan; memberdayakan individu, kelompok, masyarakat" dalam dunia kerja saudara-saudara.

Saya hanya akan beberkan jawaban untuk soal B saja karena lebih asyik dinikmati daripada jawaban soal A yang … entahlah… “Pemberdayaan Masyarakat dalam Dunia Wisata Outbound,” adalah judul makalah saya sebagai respon soal B, dan sudah saya simpan di  ruang ini

UAS mata kuliah "Sistem Sosial Budaya dan ICT/ Information and Communication Technologies" merupakan ujian (teori) sesungguhnya bagi kami para mahasiswa karena soalnya saja 1 halaman dengan syarat ketentuan yang ketat. Titahnya seperti ini:  Buatlah “paper” bertema "Sistem Sosial Budaya dan ICT Berbasis pada Program Pembelajaran di Lembaga" dengan kerangka dasar seperti ini:

  1. Pendahuluan [a. Latar Belakang, b. Urgensi Program]
  2. Tinjauan Pustaka [a. Pengertian Sistem Sosial Budaya, b. Peran ICT dalam Pembelajaran, c. Hubungan antara Sistem Sosial Budaya dan ICT dalam Konteks Program Pembelajaran di Lembaga]
  3. Implementasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT di Lembaga [a. Deskripsi Lembaga Pembelajaran, b. Desain Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT, c. Implementasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT, d. Evaluasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT]
  4. Dampak dan Manfaat Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT di Lembaga [a. Dampak terhadap Pembelajaran dan Pencapaian Akademik, b. Dampak terhadap Sistem Sosial Budaya di Lembaga, c. Manfaat Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT]
  5. Tantangan dan Solusi Implementasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT di Lembaga [a. Tantangan dalam Mengintegrasikan Sistem Sosial Budaya dan ICT, b. Solusi untuk Mengatasi Tantangan Implementasi]
  6. Kesimpulan [a. Ringkasan, b. Implikasi dan Rekomendasi, c. Kontribusi terhadap Pengetahuan dan Praktik]
  7. Daftar Pustaka

 Penjelasan Umum:

  • Mohon Menyusun paper/makalah dengan tema Sistem Sosial Budaya dan ICT
  • Makalah pada dasarnya mendiskripsikan program dilembaga masing-masing, jika tidak ada bisa mencari Lembaga lain.
  • Jumlah halaman 5-10
  • Mohon di kumpulkan bersama dalam satu file kemudian dikirim ke email: dosen_ssbict@uny.ac.id
  • Mohon bisa di kerjakan sebelum tanggal 9 juni 2023 sebab nilai harus masuk sebelum tanggal tersebut. Terimakasih

Puji Tuhan saya bisa lolos dari “cobaan” ini dengan menghasilkan “paper” 10 halaman; Times New Roman 11 spasi tunggal berjudul “Pendekatan Sistem Sosial Budaya dan Pemanfaatan ICT pada Program Pembelajaran di AELI.Para pembaca bisa membaca pendekatan tersebut pada kotak ini

Cukup 6 contoh soal ujian saja yang saya bocorkan ya, mewakili pergulatan kami para outbounder yang kuliah (kembali) ngambil jurusan Pendidikan Luar Sekolah.

Bagaimana dengan mata kuliah Statistika yang bagi sebagian besar mahasiswa menjadi “keprihatinan” tersendiri; prihatin karena dianggap susah. Sebenarnya, pelajaran statistik akan memudahkan kita pada saatnya nanti menentukan jenis perhitungan yang diperlukan dalam kepentingan penelitian ilmiah atau pembuatan tesis. Kadang kita menjadi agak pusing karena konteks kita memahaminya dalam pengerjaan hitungan data dan angka belum dikontekskan dengan tujuan utama kalkulasinya. Apalagi jika kita belum pernah melakukan pengambilan data yang perlu dianalisis, maka perlu kerja keras untuk berimajinasi rumusan apa digunakan untuk apa. Di sisi lain, statistik sebenarnya ilmu yang pasti-pasti saja karena semuanya serba bisa dilogikakan melalui perhitungan. Pokoknya yang tabah saja deh jika ikut kuliah statistika.

Masih ada 2 mata kuliah teori yang bagi saya berbeda dengan yang sudah saya singgung lebih dahulu. Mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan menuntut mahasiswa supaya dapat menguasai pemahaman tentang hakekat metodologi penelitian pendidikan nonformal, memiliki keterampilan untuk merancang penelitian pendidikan nonformal, dan mempunyai kemampuan untuk melaksanakan penelitian pendidikan nonformal sesuai dengan standar baku ilmiah. UTS pada mata kuliah ini adalah membuat kerangka penelitian pendidikan yang tak lain menjadi cikal bakal tesis. Beruntunglah saya karena sejak awal perkuliahan saya sudah tahu mau membahas tesis seperti apa. Hal ini membuat saya tidak bingung mencari tema ujian lagi, namun kerja keras lebih diperlukan untuk menuangkan gagasan tadi sesuai standar metodologi penelitian.

Mata kuliah terakhir pada semester pertama adalah Penulisan Karya Ilmiah (2 SKS), yang dari namanya sudah jelas kalau mahasiswa dituntut untuk bisa menghasilkan karya ilmiah; lebih spesifik lagi menulis artikel yang layak untuk dimasukkan pada jurnal ilmiah. Penguasaan terhadap materi mata kuliah ini akan sangat membantu dalam menyukseskan beberapa mata kuliah lain, yaitu Metodologi Penelitian Pendidikan (3 SKS), Penulisan Proposal dan Seminar Tesis (3 SKS), danTesis (6 SKS). Lika-liku kami dalam mengarungi belantara mata kuliah ini akan saya ceritakan dalam blog tersendiri ya.

Akhirnya tibalah saya merefleksikan pembelajaran kami pada perkuliahan teori menjadi beberapa poin sekaligus tips terutama bagi para pembaca yang tertarik kuliah S2 RPL di UNY dari jalur fasilitator experiential learning atau outbounder:

  • Sebagian besar dosen tahu bahwa para mahasiswa punya kesibukan sebagai fasilitator yang kadang jadwalnya tidak menentu. Saran saya; jangan selalu mengandalkan pengertian dari para dosen jika kita berniat tidak ikut perkuliahan tiap minggunya. Pendasarannya adalah saat kita secara sadar mau kuliah, maka konsekuensinya ya dituntut mengikuti semua kuliah dan mengerjakan tugas/ ujian tepat waktu. Bisa jadi ada dosen yang tidak sempat memeriksa atau membaca jawaban UTS atau UAS kita sehingga mendasarkan penilaian pada prosentase kehadiran kita dalam 12 kali pertemuan kuliah bersamanya…. Bisa jadiii lho.
  • Karena didasari bahwa para mahasiswa sudah mempunyai pengalaman pendampingan, maka metode pemberian materi pembelajaran oleh dosen lebih banyak berupa penugasan dalam bentuk makalah, lalu dipresentasikan dan didiskusikan. Ada tugas yang dikerjakan sendiri, namun ada juga yang berkelompok. Sebagian besar tema atau tinjauan tugas dan ujian juga dikaitkan atau dikontekskan dengan keseharian mahasiswa sebagai fasilitator/ outbound. Maka mulai sekarang kita refleksikan bersama dalam beberapa tahun terakhir pengalaman apa saja yang bisa dimaknai tentang keprofesian dan kelembagaan kita?
  • Tiap mata kuliah mempunyai irisan pelajaran antara yang satu dengan yang lain, maka kalau kita jeli sebenarnya secuil atau beberapacuil materi tugas atau ujian bisa digunakan pada beberapa mata kuliah. Dalam kasus tugas atau ujian teori saya, materi yang bisa masuk pada lebih dari 1 mata kuliah misalnya tentang teori experiential learning, pengertian outbound, SKKNI Kepemanduan Outbound, dan kelembagaan AELI (misi dan visi). Kalau nggak percaya, coba telisik 6 contoh hasil ujian yang sudah saya posting di blog ini; ada beberapa bagian yang sama atau mirip karena daftar pustaka atau referensinya sama.
  • Kesatuan hati atau kekompakan antarmahasiswa diperlukan dalam mengarungi 1 semester awal karena akan berguna dalam penyemangatan, saling mengingatkan, dan tentu saja diskusi atau belajar bersama. Kesatuan inilah; seminggu beberapa kali bertemu secara online; yang perlu terus dijaga untuk memelihara api semangat dan motivasi belajar kita.
  • Saya sangat menyarankan, bagi peminat serius program RPL S2 ini untuk menyiapkan tema atau judul tesis sejak awal semester karena beberapa tugas/ ujian bisa diarahkan untuk (mencicil) pendalaman tema tersebut. Misalnya nih, kita mau ngangkat tema “pendidikan karakter” dalam penelitian tesis, maka tema tersebut bisa dimasukkan dalam beberapa tugas atau ujian mata kuliah tertentu yang relevan. Pada saatnya nanti ketika saat tesis tiba, kita sudah pernah memikirkan tema “pendidikan karakter” dalam beberapa pengerjaan tugas atau ujian.
  • Yuk kita mulai belajar format menulis yang bisa memudahkan dalam mengetik serta mengedit aneka tugas atau ujian. Biasanya dosen tidak terlalu peduli dengan format penulisan laporan, yang penting terbaca olehnya rapi, namun nanti saat urusan dengan penyerahan berkas penelitian/ tesis pada pihak perpustakaan akan diminta setidaknya beberapa syarat format penulisan, seperti penggunaan "Styles" untuk otomatisasi Daftar isi. Daftar gambar, daftar tabel, daftar lampiran, dan yang utama membuat kutipan dan daftar referensi/ pustaka juga menggunakan fitur "references" yang sudah ada di Ms Word. Hal-hal lebih teknis tentang format penulisan ini  semoga sempat saya catatkan dalam blog lain. Yang jelas, kita tidak rugi sedikit belajar membuat format tulisan yang rapi menggunakan fitur yang ada di komputer demi kemudahan mengedit.

Saya pikir cukup ya episode cerita saya babak ke-2 ini tentang dinamika perkuliahan S2 jalur RPL di UNY yang mengasyikkan. Foto satu-satunya ini menggambarkan kadang suatu perkuliahan online bisa dibuat nyleneh oleh para mahasiswa gokil yang adalah outbounder atau fasilitator experiential learning. Pesan saya, lihat-lihat dosennya lebih dahulu ya...

Quis: carilah yang nyleneh dalam perkuliahan ini

Kita jumpa lagi di pertemuan berikutnya, daa….

Salam Belajar;
Agustinus Susanta, S.T., M.Pd.

 

Bersambung ke situ tuh...

 

 

 

 

           


Share:

Pendekatan Sistem Sosial Budaya dan Pemanfaatan ICT pada Program Pembelajaran di AELI

Pengantar:

Tulisan ini merupakan bahan Ujian Akhir Semester Genap 22/23 Mata kuliah "Sistem Sosial Budaya dan Information and Communication Technologies" yang diikuti penuis sebagai mahasiswa S2 Program Studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Universitas Negeri Yogyakarta 

Pendahuluan

Latar Belakang

AELI (Asosiasi Experiential learning Indonesia) merupakan wadah para pegiat experiential learning, atau lebih dikenal dengan istilah pemandu outbound. Lembaga ini beranggotakan para pegiat outbound  yang tersebar di Indonesia dengan ragam latar belakang. Anggotanya terdiri dari para praktisi, para pelatih, pemilik atau pengurus yayasan pendidikan, dosen, guru, karyawan, instruktur outbound, pemiik dan juga karyawan provider outbound, event organizer/ EO, pegiat wisata, pegawai negeri sipil, pengusaha, pemilik venue/ lokasi outbound, dan para pemerhati experiential learning lain secara umum. Keragaman tersebut bisa menjadi potensi ketersebaran manfaat asosiasi di banyak ragam pekerjaan atau profesi sesuai dengan tatanan sosial yang ada di masyarakat.

Sebagai suatu lembaga yang bertumbuh kembang di Indonesia, dan mempunyai DPD (Dewan Pimpinan Daerah) di belasan provinsi, maka sistem sosial budaya masyarakatnya turut mewarnai perjalanan AELI. Perkembangan tren Information and Communication Technology (ICT) juga ikut berpengaruh terhadap kinerja para pengurus maupun anggota dalam upaya membelajarkan masyarakat. Program pembelajaran yang dilakukan menggunakan metode experiential learning memang banyak menekankan bergulirnya suatu aktivitas fisik secara langsung, namun tidak menutup kemungkinan perkembangan teknologi bisa menjadikan muatan akan urgensi experiential learning bisa disosialisasikan secara lebih baik. Sistem Sosial Budaya dan ICT pada program pembelajaran yang terjadi pada AELI akan ditelaah melalui makalah ini, sehingga bisa ditemukan upaya lebih lanjut dalam mengembangkan lembaga.

Urgensi Program

Program pembelajaran dalam tubuh AELI sangat penting untuk dirancang secara sistematis karena beberapa urgensi, diantaranya:

  1. Metode experiential learning masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat pembelajar Indonesia, khususnya yang bergerak dalam ranah pendidikan formal. Sangat disayangkan jika metode yang sebenarnya efektif dalam mengembangkan karakter generasi muda ini tidak bisa tersosialisasikan secara masif karena kurang memanfaatkan ICT.
  2. Para penggiat experiential learning tersebar di seluruh Indonesia, dengan bermacam latar belakang suku dan kebudayaan para fasilitatornya. Ragam variasi experiential learning tentu akan lebih kontekstual jika para fasilitator bisa meramu program pembelajaran yang memertimbangkan kondisi sosial dan budaya peserta pelatihan. Pemahaman akan sistem sosial dan budaya Indonesia penting untuk dipahami para fasilitator.
  3. AELI merupakan lembaga nirlaba yang digerakkan berdasarkan semangat para pendiri dan pengurusnya guna memasyarakatkan metode experiential learning. Semangat tersebut, baik di tingkat pusat (DPP) maupun daerah (DPD) terkadang pasang surut dalam menjalankan program kerja karena tidak ada tuntutan. Perekayasaan berbagai materi tentang experiential learning yang dikemas secara sistematis memanfaatkan kemajuan jaringan internet tentu menjadi hal yang sangat didambakan oleh pengurus secara khusus, dan anggota AELI secara umum, karena hal tersebut akan memudahkan proses pengembangan kapasitas bagi para penggiatnya.

Tinjauan Pustaka

Pengertian Sistem Sosial Budaya

Sistem sosial adalah himpunan berbagai elemen kehidupan sosial yang terdapat dalam masyarakat guna mencapai tujuan tertentu. 2 pelaku atau lebih dalam kehidupan sosial ini mempunyai fungsi tertentu dalam suatu satuan masyarakat. Tiap anggota/ aktor mempunyai kesalingtergantungan satu sama lain supaya tercipta keharmonisan sosial. Manusia dan pengelompokannya tadi memiliki batas dan ikatan kewilayahan guna mengembangkan unsur-unsur kebudayaan yang dimilikinya, termasuk lembaga atau organisasi sosial beserta peraturan-peraturan yang tertulis maupun tak tertulis.

Sistem budaya dimaknai sebagai sistem simbol yang terpola, teratur yang menjadi sasaran orientasi pelaku, aspek-aspek sistem kepribadian yang sudah terinternalisasikan, dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam sistem sosial. Sistem budaya mengandung 3 komponen yaitu: 

  1. Komponen kognitif; adalah komponen yang membantu manusia mengembangkan pengetahuan dan  kepercayaan tertentu yang dianut masyarakat di sekitar kehidupannya.
  2. Komponen normatif; berkaitan dengan nilai dan norma yang membuat bagaimana manusia harus bertindak, di dalamnya mengandung nilai dan norma.
  3. Komponen simbolik; adalah bahasa, gesture dan suara, yang bisa mengasosiasikan tiap anggota berasal dari rumpun kesosialan yang sama [1].

Sistem sosial budaya adalah suatu keseluruhan dari unsur-unsur tata nilai, tata sosial, dan tata laku manusia yang saling berkaitan dan tiap unsur bekerja secara mandiri, serta bersama-sama satu sama lain saling mendukung untuk mencapai tujuan hidup manusia dalam bermasyarakat. Dalam konteks Indonesia, sistem sosial budaya juga dapat diartikan sebagai totalitas tata nilai, tata sosial dan tata laku manusia Indonesia yang merupakan manisfestasi dari karya, rasa, dan cipta di dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 [2].

sumber : https://id.pinterest.com/pin/68398488079201743/

Peran ICT dalam Pembelajaran

Information and Communication Technologies (ICT) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan seperangkat sistem peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. ICT mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasiTeknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya [3]. ICT sangat berperan dalam pengembangan suatu sistem sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk dalam ranah pendidikan yang selalu berkembang.

Terdapat dua aspek pembaruan yang signifikan dalam dunia pendidikan, yaitu:

  1. Pembaruan pendekatan pembelajaran menyangkut esensi, materi dan metode pembelajaran. Perkembangan ini didasari oleh berbagai konsep/ temuan/ teori baru yang selalu berkembang mengenai otak dan kecerdasan. Pembaruan ini juga dipicu oleh perubahan lingkungan hidup dan kehidupan multidimensional masyarakat yang menuntut peningkatan komitmen dan kemampuan manusia.
  2. Pemanfaatan teknologi informasi/ komunikasi yang canggih dalam menunjang keberhasilan pembaruan strategi dan metode pembelajaran. Aspek pembaruan tersebut bersinergi dalam semangat dan misi melakukan reformasi pembelajaran (school reform), bahkan termasuk juga reformasi pendidikan (education reform) [4]

Para pakar meneliti dan mengembangkan berbagai model pengintegrasian teknologi ke dalam proses pembelajaran, dalam upaya pembaruan model-model pembelajaran. Woodbridge (2004) memberi beberapa catatan penting dari model tersebut yaitu ICT berperan pada tiga fungsi: pertama, menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan mengasyikan (efek emosi); kedua, membekali kecakapansiswa untuk menggunakan teknologi tinggi. Ketiga, teknologi berfungsi sebagai learning tools dengan program-program aplikasi dan utilitas, yang selain mempermudah dan mempercepat pekerjaan, juga memperbanyak variasi dan teknik-teknik analisis dan interpretasi [5].

Hubungan antara Sistem Sosial Budaya dan ICT dalam Konteks Program Pembelajaran

Sistem sosial budaya di Indonesia sudah terumuskan secara luhur melalui bingkai Pancasila. Turunan dari Pancasila mewarnai banyak nilai dan norma luhur yang berkembang di masyarakat, termasuk dalam tataran pendidikan, baik secara formal maupun nonformal. Meskipun sudah terumuskan dengan baik, internalisasi atau praktik perikehidupan yang pancasilais masih perlu terus digaungkan sehingga makin mengakar pada kehidupan masyarakat sehari-hari.

Experiential learning sebagai bentuk pembelajaran nonformal bisa menjadi salah satu alternatif upaya internalisasi sistem sosial budaya yang luhur tersebut. Organisasi atau komunitas penggiat experiential learning perlu melembaga supaya secara sosial memunyai modal yang kuat untuk membut gerakan bersama. Gerakan ini bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini sehingga menyentuh lebih banyak masyarakat, khususnya dalam mengedukasi arti penting belajar melalui pengalaman. ICT bisa menjadi salah satu solusi bagi fasilitator kegiatan luar ruangan guna terus meningkatkan kompetensinya.

Implementasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT

Deskripsi Lembaga Pembelajaran

Pada tanggal 24 Januari 2007, 7 tokoh dari lembaga penyelenggara outdoor training, sepakat untuk membentuk asosiasi dengan nama “Asosiasi Experiential learning Indonesia” (AELI). Penggunaan nama experiential learning disepakati, setelah melalui diskusi panjang yang cukup alot, sebab ada pula gagasan agar menggunakan nama “outbound.” Namun akhirnya nama Experiential learning dipilih, karena semua lembaga penyelenggara outdoor training sebenarnya menerapkan metodologi pembelajaran ini. Dengan memilih nama experiential learning, anggota asosiasi menjadi tidak hanya terbatas pada lembaga penyelenggara outdoor training, melainkan juga para lembaga pendidikan formal (sekolah, perguruan tinggi), para pengajar (guru, dosen), maupun lembaga-lembaga pendidikan nonformal di luar outdoor training. Asosiasi ini bahkan juga terbuka bagi siapa saja yang berminat terhadap metode pembelajaran berbasis pengalaman atau dikenal dengan experiential learning.

AELI didirikan dengan visi “Menjadi wadah dan mitra yang berkualitas bagi seluruh lembaga atau perorangan pengguna metode pelatihan berbasis pengalaman di Indonesia dan bertanggung jawab terhadap pengembangan kualitas manusia Indonesia.” 3 misi AELI adalah: 

  1. Memasyarakatkan pelatihan berbasis pengalaman kepada masyarakat Indonesia,
  2. Meningkatkan kualitas  pelatihan dan pendidikan berbasis pengalaman, sehingga menjadi metode pelatihan yang efektif dan diakui di Indonesia, dan
  3. Meningkatkan kualitas pelaksana pelatihan berbasis pengalaman sehingga menjadi pelaksana pelatihan yang bertanggung jawab terhadap pengembangan manusia Indonesia  [6].

Saat ini AELI sudah memiliki 16 DPD (Dewan Pengurus Daerah) di tingkat Provinsi.

Desain Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT

SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) bidang kepemanduan outbound/ fasilitator experiential learning ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi RI pada tahun 2011. SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/ atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 9 unit kompetensi yang harus dimiliki seorang fasel sesuai SKKNI adalah:

  1. Merencanakan Program Kegiatan Rekreasi,
  2. Merencanakan Program Kegiatan Pembelajaran,
  3. Mengatur Sumber Daya Untuk Program,
  4. Melaksanakan Pemanduan Kegiatan Rekreasi,
  5. Melaksanakan Program Kegiatan Pembelajaran,
  6. Memandu Kegiatan Tali Rendah (Low Rope),
  7. Memandu Kegiatan Tali Tinggi (High Rope),
  8. Menganalisis Resiko dalam Kegiatan, dan
  9. Menolong Korban [7].

 Sejak SKKNI Kepemanduan Outbound/ Fasilitator Experiential learning ini diundangkan, dimulailah periode penataan sistematika kegiatan berbasis experiential learning, ditandai dengan kegiatan uji kompetensi profesi Fasel. Terdapat 3 tingkatan sertifikasi fasel, yaitu: Muda, Madya, dan Utama. Fasel tingkat muda diarahkan “hanya” untuk memandu program rekreasi saja. Fasel tingkat madya sudah bisa memandu program rekreasi dan edukasi, sedangkan fasel tingkat utama selain bisa memandu semua program, tetapi juga boleh merencanakan programnya sekaligus. 

Salah satu pembelajaran dalam memfasilitasi kegiatan experiential learning adalah pendekatan “outbound di desa wisata dan atau berbasis kearifan lokal” yang disampaikan pada anggota lembaga. Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku [8]. Kombinasi beberapa hal tersebut lalu erat disebut dengan istilah kearifan lokal yang Kearifan Lokal yang berasal dari dua kata, yaitu “arif” dan “lokal,” boleh dipahami sebagai gagasan, nilai-nilai, atau pandangan-pandangan setempat yang sifatnya bijaksana, penuh kearifan, serta nilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat.

Kearifan lokal juga bisa dimaknai sebagai kematangan masyarakat di tingkat komunitas lokal yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan cara pandang masyarakat yang kondusif di dalam mengembangkan potensi dan sumber lokal (material dan non material) yang dapat dijadikan sebagai kekuatan di dalam mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik atau positif [9].

Berdasar penampakannya, kearifan lokal bisa dibagi dalam 2 kategori, yaitu yang berwujud fisik (tangible) dan takberwujud (intangible). Contoh kearifan yang berwujud misalnya kitab-kitab kuno/ tradisional, bangunan adat, pusaka, senjata, kain-kain adat, alat musik, alat-alat bertani, beternak juga berrumah tangga tempo dulu. Sedangkan kearifan lokal yang tidak bisa dilihat semisal konsep, petuah, tatakrama, semangat, etika, tradisi, pepatah, kidung, ajaran, dan sebagainya[10].

Kegiatan outbound  di desa wisata dilakukan dengan menggali keunikan suatu desa, yang dijadikan aktivitas/ kegiatan/ permainan. Program yang menarik akan memberi sensasi pengalaman yang unik sehingga membuat pengunjung wisata terkesan pada suatu desa wisata. Kesan yang baik biasanya akan diceritakan pada orang-orang di sekitarnya, yang pada akhirnya membuat penasaran. Kepenasaranan banyak orang inilah yang lalu diharapkan setia mengalirkan pengunjung ke desa wisata tersebut. Disain pembelajaran program experiential learning yang disesuaikan dengan sistem sosial budaya masyarakat Indonesia diharapkan bisa memerkaya metode pengembangan karakter yang kontekstual dan fleksibel digunakan di banyak tempat.  

sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/68398488079201743/

Implementasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT

Proses pengembangan masyarakat, khususnya dalam bidang kepemanduan experiential learning  sudah dituangkan oleh para pengurus DPP setidaknya sejak sejak kepengurusan masa bakti 2019-2022 melalui keputusan program kerjanya. Dalam jargon lembaga periode tersebut, yaitu “AELI untuk Negeri,” DPP membagi ranah kerjanya dalam 3 cluster kerja yaitu Groundworks, Level Up dan Exposure. Cluster Groundworks bertujuan untuk menata ulang bangunan dasar keorganisasian, aturan, data dan sistem keanggotaan, serta materi-materi dasar AELI yang membentuk bangunan organisasi AELI. Pondasi ini akan menjadi modal dalam melakukan ranah kerja AELI dalam Cluster Level Up yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan anggota, meningkatkan kapasitas anggota dan menjamin kualitas anggota AELI. Tujuan dari ranah kerja Cluster Exposure adalah untuk mendapatkan pengakuan dari pemangku kepentingan EL Indonesia sehingga program EL yang ditawarkan oleh anggota AELI menjadi pilihan utama dan terpercaya dalam pengembangan karakter sumber daya manusia Indonesia [11].

Proses edukasi pada masyarakat, dalam hal ini para anggota asosiasi difokuskan dalam kinerja Subcluster Level Up yaituPeningkatan Kapasitas Anggota.” Peran ini dilaksanakan oleh Bidang Pendidikan & Pelatihan dan Bidang Penelitian & Pengembangan dalam struktur DPP. Target subcluster ini adalah:

  1. Pembuatan panduan produk dan pelaksanaan sosialisasi program workshop AELI.
  2. Pembuatan silabus workshop materi dasar bagi anggota lembaga & perorangan.
  3. Pelaksanaan workshop materi dasar bagi anggota lembaga & perorangan.
  4. Pelaksanaan program TOT Pemateri AELI.
  5. Pembuatan silabus & workshop materi lanjutan experiential learning bagi anggota lembaga & perorangan.

Secara prinsip, materi utama pembelajaran yang dilakukan dalam AELI mencakup 9 hal seperti sudah disebutkan dalam SKKNI, namun dalam praktik di lapangan, terjadi pengembangan beberapa submateri dengan penyesuaian karakter tempat dan sosial budaya anggota asosiasi. Pengurus  AELI sudah melakukan pembelajaran yang memertimbangkan faktor sosial budaya, termasuk dengan memanfaatkan kemajuan ICT, antara lain melalui kegiatan:

  1. Pembuatan website AELI yang di dalamnya memuat konten-konten materi pembelajaran,
  2. Pembuatan grup Facebook AELI yang didalamnya juga termuat materi pembelajaran,
  3. Pembuatan Grup Whatsapp “EL Teacher” yang digunakan untuk berbagi konten-konten aplikasi experiential learning oleh para guru,
  4. Penyelenggaraan Writing Camp I tentang pembelajaran menjadi fasilitator, yang dilakukan secara daring pada bulan Mei 2020,
  5. Penyelenggaraan Writing Camp II tentang pembelajaran menjadi fasilitator, yang dilakukan secara daring pada bulan Juli 2020,
  6. Experiential learning Indonesia Virtual Expo (ELIVE) pada tanggal 5-7 juni 2021 s/d 7 juni 2021 dengan 6 seminar berkelas nasional.
  7. Program RPL S2 Pendidikan Luar Sekolah, kerjasama AELI dengan Universitas Negeri Yogyakarta.

Visi AELI sejalan dengan upaya pengembangan masyarakat yang dicita-citakan oleh negara. Disayangkan wabah Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia membuat aktivitas para anggota AELI nyaris terhenti total, termasuk para pengurusnya. Program kerja DPP periode 2019-2022 yang sudah tersusun rapi praktis hampir tidak dapat dilaksanakan semua sehingga tidak bisa mengukur tingkat keberhasilannya. Meskipun secara operasional berhenti, namun justru melalui ICT beberapa program malah terinisiasi oleh AELI, baik secara lembaga maupun perorangan anggotanya. Sebagai contoh, penulis sampaikan program kerja DPD AELI Jateng yang memanfaatkan ICT sebagai berikut:

  1. Penyusunan profil organisasi
  2. Pembentukan tim dan pengumpulan data contact person kedinasan
  3. Memasukkan profil anggota lembaga dan data anggota perorangan dalam website resmi AELI
  4. Mensosialisasikan penggunaan hashtag #AELIJATENG pada anggota
  5. Pembuatan konten profil anggota lembaga
  6. Pembuatan konten tematik "EL Talk" melalui media Live IG
  7. Pembuatan konten tematik "Ngabuburit bersama AELI" melalui media Live IG
  8. Pembuatan konten tentang materi EL
  9. Penggunaan hashtag #AELIJATENG sedikitnya sebanyak 1000 public post
  10. Profil seluruh anggota lembaga telah terposting
  11. Re-post aktivitas anggota yangmenandai
  12. Sosialisasi dan komunikasi kepada organisasi mitra

Proses pembelajaran dalam tubuh AELI terus dilaksanakan agar lebih banyak lagi anggota dan masyarakat yang bisa merasakan manfaat keberadaan asosiasi ini.

Evaluasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT

Salah satu program terbaru yang diadakan AELI adalah kerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta untuk mengadakan program perkuliahan S2 yang dilakukan secara daring. Berdasarkan Permendikbudristek No.41 tahun 2021, RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) adalah pengakuan atas capaian pembelajaran seseorang yang diperoleh dari pendidikan formal, nonformal, informal, dan/atau pengalaman kerja sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan formal dan untuk melakukan penyetaraan dengan kualifikasi tertentu. Program RPL bertujuan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar sepanjang hayat melalui pendidikan formal pada jenjang Pendidikan Tinggi, dan mendorong masyarakat yang berbagai hal terputus kuliahnya atau tidak dapat melanjutkan pendidikan di Perguruan tinggi tetapi memiliki pengalaman kerja kompetensi yang relevan untuk melanjutkan studi ke jenjang Pendidikan Tinggi. 11 orang anggota AELI sedang mengikuti program RPL S2 pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Luar Sekolah.

Saat melakukan perkuliahan yang memanfaatkan ICT, terkuak bahwa sisi keilmuan dalam praktik pembelajaran melalui metode experiential learning masih minim digunakan. Dalam proses perkuliahan, mahasiswa dituntut untuk bisa melakukan telaah kritis dan ilmiah terhadap banyak hal yang sudah dijalani sebagai bagian materi kuliah, baik dalam diskusi, penugasan, maupun ujian. Pendekatan sistem sosial budaya yang saat praktik di lapangan jarang ditelaah justru dibedah secara mendalam melalui berbagai mata kuliah. Penulis akan sampaikan salah satu contoh bagaimana program experiential learning yang digadang-gadang bisa mengembangkan manusia sesuai misi AELI, ternyata belum dilengkapi analisis sosial budaya yang kuat.

Pada suatu mata kuliah, salah seorang mahasiswa mempresentasikan tentang aktivitas di salah satu desa wisata yang menggunakan media kearifan lokal sebagai daya tarik wisatanya. Kearifan lokal merupakan salah satu sistem sosial budaya masyarakat Indonesia yang mengangkat harkat masyarakat. Mahasiswa tersebut bercerita bahwa peserta wisata yang kebetulan anak-anak sangat senang saat diajak menanam padi di sawah. Di beberapa lokasi di desa itu juga tersedia gerai makanan dan cendera mata yang membuat wisatawan senang. Namun sang dosen justru bertanya, “Itu padi yang ditanam di sawah jenisnya apa? Jangan-jangan itu bibitnya impor dan justru menyedot banyak air. Mengapa tidak menggunakan bibit lokal saja?” tentang perekonomian yang tumbuh di desa wisata tersebut juga dikritisi, “Jika masyarakat desa bisa membuat rumah makan atau kios oleh-oleh, apakah itu memang milik mereka sendiri atau justru tanah atau sawah bahkan rumah mereka sudah dibeli orang kota dan pemilik sebelumnya hanya menjadi pekerja?” Pertanyaan tersebut lalu memancing diskusi dalam perkuliahan bahwa di balik kesuksesan atau keberhasilan sebuah program, apakah hal tersebut dilandasi dengan dasar yang filosofis berpihak pada masyarakat umum, atau sebaliknya hanya komodifikasi saja yang kelihatannya bagus, namun sejatinya menguntungkan segelintir pihak luar saja. Dalam hal ini sistem sosial dan tata nilai masyarakat menjadi materi yang lalu diperdalam sehingga para mahasiswa mempunyai wawasan lebih komprehensif saat menyusun program pembelajaran berbasis experiential learning.

Masih banyak hal yang dalam proses perkuliahan kami diskusikan terkait relevansi penyelenggaraan program experiential learning ditinjau dari sisi konsep, filsafat, metodologi, dan yang juga paling penting sejauh mana bisa mengembangkan manusia pesertanya. Melalui contoh tadi penulis lalu menyadari bahwa dalam komunitas AELI, unsur keilmuan masih minim digeluti, walaupun para anggotanya bergerak di bidang yang sangat bersinggungan dengan dunia pendidikan dan pengembangan manusia yang sejatinya mempunyai akar keilmuan yang sangat dalam.  Sebagai komoditas bisnis, “experiential learning” lebih banyak menjadi gimmick yang diklaim bisa menjadikan peserta pelatihan menjadi lebih berkembang. Sayangnya hal tersebut kurang ditunjang dengan pendokumentasian proses secara ilmiah sehingga tiap faktor keberhasilan atau sebaliknya kegagalan program teridentifikasi. Melalui perkuliahan, pendalaman akan hakekat experiential learning pada akhirnya dilakukan oleh para mahasiswa dengan memanfaatkan ICT

Selain program kerjasama perkuliahan, evaluasi pemanfaatan website dan media sosial yang digagas lembaga AELI masih kurang terasa gaungnya dalam hal membelajarkan anggota. Semua sarana ICT tadi lebih banyak untuk kepentingan praktis berkoordinasi dan bertukar kabar saja, namun masih minim diisi dengan konten pembelajaran.

Keterbelengguan akibat teknologi
sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/351912464462676/

Dampak dan Manfaat Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT

Dampak terhadap Pembelajaran dan Pencapaian Akademi

Dampak dan manfaat program pembelajaran berbasis sistem sosial budaya dan ICT di AELI baru dirasakan oleh sebagian kecil anggotanya, khususnya yang menjadi pengurus saja. Para penerima manfaat materi pembelajaran yang sudah disusun AELI juga terbatas pada mereka yang memang giat memanfaatkan ICT untuk mengembangkan kompetensinya. Hal ini disebabkan oleh mindset sebagian besar pegiat experiential learning yang masih beranggapan bahwa outbound itu hal  yang sederhana sehingga tanpa memerdalam aspek-aspek teoritisnya tidak akan bermasalah bagi mereka. Beberapa pernyataan yang pernah penulis dengar yang menggambarkan apatisme sebagian fasilitator itu misalnya, “Saya sudah rutin menerima atau mendapat klien, jadi untuk apa belajar lagi?”

Akibat masih minimnya kesadaran literasi dan akademik para pegiat outbound, maka AELI sebagai lembaga yang mestinya memerdalam tentang pembelajaran, justru masih kekurangan literatur ilmiah tentang keilmuan experiential learning. Konten materi experiential learning terkait sistem sosial budaya relatif sedang dikembangkan terus, tetapi membuat ulasan ilmiahnya yang masih kurang. Sebagai contoh lagi, seorang mahasiswa menyatakan bahwa salah satu program experiential learning yang pernah dipandunya bisa meningkatkan kemampuan kerjasama sebuah kelompok yang kebetulan menjadi peserta program. Sang dosen menggali lebih dalam, apakah peningkatan kemampuan kerjasama tersebut hanyalah klaim dari sang fasilitator, pernyataan dari peserta, atau memang ada penelitian yang membuktikan hal tersebut? Para mahasiswa lalu menyadari bahwa di “lapangan” sudah sangat jamak jargon yang menyatakan outbound bisa meningkatkan kapasitas pesertanya, atau metode experiential learning efektif membelajarkan peserta didik. Namun ketika diminta menunjukkan bukti pernyataan atau klaim tersebut, kebingunganlah yang lalu dialami, padahal dalam mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan para mahasiswa diajak untuk berpikir ilmiah dan tidak asal menyimpulkan.

Dampak terhadap Sistem Sosial Budaya

Sistem sosial budaya dalam organisasi AELI masih bersifat mencontoh dari kepengurusan terdahulu, dan cenderung berjalan autopilot. Namun dalam kepengurusan baru, mulai dibangun sistem keorganisasian yang lebih egaliter dengan pendekatan profesional layaknya perusahaan.  Mulai dicanangkan target pencapaian, pertemuan rutin (yang lebih banyak dilakukan secara daring), koordinasi antara pusat dan daerah juga makin intens dilaksanakan.

Suksesi kepengurusan DPP ditandai dengan Munas/ Musyawarah Nasional AELI ke-6 pada tanggal 7-9 Juni 2022 di Magelang. Munas tersebut menghasilkan amanah suci, yakni menjadi mitra terbaik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang membinanya dalam pengembangan destinasi berbasis experiential tourism dengan inisiasi mengolaborasikan dengan berbagai stakeholders untuk bergerak bersama yakni ASIDEWI (Asosiasi Desa Wisata Indonesia), ASPPI (Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia) dan dukungan penyebarluasan berbagai kegiatan pariwisata yakni GenPI (Generasi Pariwisata Indonesia). Selain itu amanah Munas juga menyebutkan bahwa dalam 3 tahun kedepan AELI akan menjadi mitra terbaik program Merdeka Belajar yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melalui berbagai kegiatan berbasis experiential learning yang memang dikuasai semua anggotanya [12]. Sisi pengembangan masyarakat makin mengerucut dalam 2 bidang, yaitu para pelaku pariwisata dan stakeholder pendidikan. Pencapaian ini antara lain disebabkan oleh diperbaruinya sistem sosial lembaga di asosiasi, sehingga bisa dipercaya oleh komunitas lain untuk berkolaborasi.

Manfaat Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT

Melalui program pembelajaran berbasis sistem sosial budaya dan ICT, AELI memperoleh beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Kemudahan anggota asosiasi untuk mendapatkan informasi terkait materi pembelajaran sebagai fasilitator experiential learning.
  2. ICT membuat koordinasi jadi makin praktis sehingga gerak langkah pengurus bisa lebih fleksibel dalam melaksanakan program kerja.
  3. Kerjasama AELI dengan berbagai pihak menjadikan peluang para anggotanya dalam diversifikasi usahanya.
  4. Masyarakat umum makin memahami arti penting pembelajaran berbasis experiential learning khususnya dalam mengembangkan karakter generasi muda Indonesia.
  5. Perhatian pada experiential tourism memberi gagasan pada banyak desa wisata untuk berbenah mengembangkan diri.
  6. AELI digandeng oleh Kemenparekraf untuk memperbaharui SKKNI kepemanduan outbound pada tahun 203 ini. SKKNI yang baru dirancang sedemikian rupa dengan memertimbangkan perkembangan ICT, khususnya pascapandemi. Rancangan juga mewadahi perkembangan sistem sosial yang menjadi tren di masyarakat.

AELI sudah mulai dikenal dan dipercaya oleh berbagai pihak sehingga dijadikan mitra, terutama oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dalam tataran di provinsi maupun kabupaten atau kota, sudah mulai sering AELI diminta menjadi narasumber dalam aneka program peningkatan kapasitas, terutama yang bernuansa experiential learning dan kepariwisataan. Outbound merupakan salah satu daya tarik terbesar AELI karena bisa masuk dalam semua lapisan masyarakat serta berkelindan dalam ranah pendidikan sekaligus rekreasi atau wisata. Meskipun belum semua anggota bisa merasakan manfaat langsung, namun berbagai upaya pembelajaran yang dilakukan AELI membuka inspirasi bahwa kegiatan experiential learning tidak hanya sebatas outbound, namun masih banyak lagi yang bisa dilakukan.

Tantangan dan Solusi Implementasi Program Pembelajaran Berbasis Sistem Sosial Budaya dan ICT

Tantangan dalam Mengintegrasikan Sistem Sosial Budaya dan ICT     

Tantangan dalam mengintegrasikan sistem sosial budaya dan ICT dalam lembaga AELI salah satunya datang dari faktor keragaman peserta dengan latar belakang keorganisasiannya. Di satu sisi, ada anggota yang begitu masif memanfaatkan hal tersebut, namun di sisi lain ada anggota yang bahkan seolah tidak mau tahu bahwa yang bersangkutan bisa berkembang melalui sarana tersebut. Tingkat kesibukan pengurus yang tinggi juga memengaruhi fokus dan konsentrasi dalam menjalankan lembaga yang bersifat nirlaba ini. Cara pandang para pengurus dan anggota di tiap provinsi (DPD) juga tidak sama sehingga sebuah kebijakan dari DPP kadang disikapi berbeda-beda. Hal ini membuat rencana yang seharusnya bisa disinergikan oleh semua daerah menjadi tersendat.

Masih adanya resistensi soal AELI berada di ranah wisata juga menjadi tantangan, apalagi pengenalan AELI di stakeholder pariwisata baru sebatas Kepemanduan Outbound saja. Belum ada pula program yang cukup kuat untuk mengenalkan AELI pada stakeholder di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya masyarakat. Pada ranah pengambil kebijakan, terdapat tantangan berupa nomenklatur pemerintah yang tidak (belum) mengenal istilah experiential learning, karena yang ada adalah  Capacity Building.

Tantangan yang tak kalah penting dalam upaya mengintegrasikan sistem sosial budaya dan ICT dalam lembaga AELI adalah budaya akademik yang masih rendah diantara para pengurus maupun anggotanya. Sebagian besar anggota masih senang berkutat dengan hal-hal praktis yang sudah terbiasa dilakukan di lapangan, namun kurang menggali sisi teori dan perkembangannya. Paradigma “untuk apa sudah payah belajar dan mengulik teori experiential learning, jika tanpanya saya sudah bisa jalan” menjadi kendala besar dalam sistem sosial budaya di AELI yang harus perlahan-lahan dikikis. Masih beruntung ada beberapa penggiat AELI yang kemudian mengikuti perkuliahan S2 di UNY demi bisa mewarnai lembaga dalam hal akademis praktik yang sudah biasa dilakukan para penggiat outbound Indonesia. Proses proses perkuliahan ini sendiri menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa untuk bisa menyelesaikannya.

Solusi untuk Mengatasi Tantangan Implementasi                          

Solusi untuk mengatasi tantangan implementasi pengintegrasian sistem sosial budaya dan ICT dalam lembaga AELI bisa diidekan sebagai berikut: 

  1. Pengurus di tingkat pusat harus rutin melakukan koordinasi dengan pengurus di tingkat provinsi dalam mengoordinir berbagai progam kerja. Para pengurus perlu lebih tegas dalam menjalankan misi AELI dengan membuat perangkat yang bisa mewujudkan kemanfaatan lembaga.
  2. Peran ICT yang sudah ada dimaksimalkan dengan cara mengajak orang yang ahli di bidangnya untuk mengelola teknis rutinnya. Sedangkan untuk konten pembelajaran, lembaga menyiapkan intensif bagi para anggota atau pengurus yang bersedia menyiapkannya.
  3. AELI menggiatkan himbauan pada para anggotanya terutama yang kerap melaksanakan pendampingan berbasis experiential learning, agar mulai membuat catatan evaluasi kegiatan, minimal untuk kepentingan fasilitator yang bersangkutan. Evaluasi yang didasarkan kaidah ilmiah tentu akan bermanfaat untuk pelaksanaan kegiatan sejenis di masa mendatang. Terbuka juga kemungkinan hasil pendampingan fasilitator dibuatkan artikel ilmiah untuk diterbitkan dalam jurnal-jurnal yang relevan.
  4. AELI perlu melanjutkan kerjasama RPL S2 dengan pihak Universitas Negeri Yogyakarta, sehingga makin banyak anggotanya yang sadar akan pentingnya kajian ilmiah terhadap aneka program experiential learning yang sudah kerap dilakukan. Pihak UNY melalui format kerjasama bisa menjadi mitra yang profesional dalam meninjau dan mengembangkan keilmuan experiential learning secara ilmiah.

Kesimpulan

Ringkasan

Keberadan AELI berperan dalam memerkaya khazanah metode pelatihan pengembangan karakter bagai generasi muda Indonesia, khususnya dengan penggunaan media permainan atau petualangan. Lembaga tersebut lahir dari semangat beberapa penggiat outbound yang ingin melihat sistem sosial dalam masyarakat menjadi lebih baik lagi, khususnya dalam bidang pembelajaran. Perjalanan asosiasi mengalami pasang surut pembelajaran bagi para pengurus maupun anggotanya. Berbagai pendekatan sistem sosial budaya coba diimplementasikan masuk dalam 9 kompetensi inti seorang fasilitator. Salah satu aplikasinya adalah memasyarakatkan outbound di dewa wisata yang sangat sesuai dengan tata nilai masyarakat setempat.

Penggunaan ICT juga sudah digunakan dalam rangka menyosialisasikan keberadaan maupun berbagi manfaat lembaga, walau masih terjadi beberapa kendala. Pergerakan asosiasi menarik beberapa lembaga pemerintah untuk bekerjasama dalam implementasi experiential learning dalam bidang pendidikan dan pariwisata. Kesadaran berorganisasi yang tidak merata pada stakeholder lembaga membuat peluang ini belum termaksimalkan. Unsur edukasi dlam konteks pembelajaran experiential learning juga belum banyak digeluti oleh para anggota lembaga, padahal ini bisa menjadi salah satu kekuatan sebagai entitas pembelajaran. Implementasi pengintegrasian sistem sosial budaya dan ICT dalam lembaga AELI masih perlu diupayakan dengan lebih serius oleh lembaga ini supaya keberadaannya benar-benar bisa menjadi salah satu agen perubahan pembangunan karakter generasi muda Indonesia.

Implikasi dan Rekomendasi

Implikasi dan rekomendasi yang bisa disampaikan pada  AELI agar bisa lebih maksimal memanfaatkan ICT dalam pendekatan sistem sosial budaya adalah penguatan kelembagaan dalam hal kesungguhan pengurus dalam menjalankan program kerja. Lembaga perlu meningkatkan kualitas kerjasama dengan berbagai stakeholder dengan perwujudan program-program yang lebih nyata berdampak pada masyarakat. Melalui bimbingan para akademisi, anggota AELI yang merupakan pengguna metode experiential learning diharapkan bisa melakukan pendampingan dengan metodologi yang baik. Hasil evaluasi kegiatannya pun bisa dilakukan secara ilmiah sehingga bisa menjadi dasar untuk membuat pengembangan pada masa yang akan datang.

Kontribusi terhadap Pengetahuan dan Praktik

Akhirnya, sebagai bentuk kontribusi pada bangsa, AELI perlu mengeluarkan produk yang dihasilkan melalui pemikiran atau penelitian para anggotanya tentang experiential learning itu sendiri. Produk ilmiah yang dimaksud bisa berupa buku, atau jurnal berkala tentang experiential learning citarasa Indonesia. Hal ini akan mekin menegaskan bahwa experiential learning itu tidak semata praktik outbound, namun dipenuhi juga dengan konsep pembelajaran. 

Daftar Pustaka

 [1]        Parsons, Talcott. 1951. The Social System. London: Routledge & Kegan Paul.

[2]        Hisyam, C. J. (2021). Sistem Sosial Budaya Indonesia. Bumi Aksara.

[3]      https://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_informasi_komunikasi

[4]      Suryadi, A. (2007). Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Terbuka Jarak Jauh, Volume 8, Nomor 1, Maret 2007, 83-98

[5]      Woodbridge, J. (2004). Technology Integration as a Transformation Teaching Strategy. An article publised on www.techlearning.com.

[6]        AELI, "Visi dan Misi" [Online] Tersedia: https://www.aeli.or.id/visi-misi/   

[7]      Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja RI, "Penetapan Rancangan Standar Kompetensi Kerja nasional Indonesia Sektor Pariwisata Bidang Kepemanduan Outbound/ Fasilitator Experiential learning menjadi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia." 2011.

 [8]     https://id.wikipedia.org/wiki/Desa_wisata

[9]      Kamus Besar. (2022;29 September). Kearifan Lokal. Diperoleh dari https://www.kamusbesar.com/kearifan-lokal

[10]    Agustinus Susanta (2018; 25 September) Outbound Berbasis Kearifan Lokal. Diperoleh dari https://mancakrida.blogspot.com/2018/09/outbound-berbasis-kearifan-lokal.html

[11]    DPP (2019) Program Kerja Dewan Pengurus Pusat AELI 2019-2022.

[12]    G. Boby, (2022, 10 Juni ),"AELI Siap Jadi Mitra Terbaik Kemenparekraf," PATA Daily News [Online] Tersedia: https://patadaily.id/2022/06/10/aeli-siap-jadi-mitra-terbaik-kemenparekraf/ [diakses 29 Oktober 2022]


Brebes, 7 Juni 2023

Agustinus Susanta

Mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Luar Sekolah Fak. Ilmu Pendidikan & Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2022; Anggota AELI DPD Jateng; Fasel Tingkat Utama, Mantan Ketua DPD AELI Sumsel, Penulis beberapa buku tentang outbound, dan pernah menjadi Asesor Kompetensi BNSP. Bisa di-WA melalui 0812 2680 2639.

Share: