Pelatihan berbasis Permainan


Tampilkan postingan dengan label Writing Camp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writing Camp. Tampilkan semua postingan

Writing Camp III Edisi ABLP-Klawing Embuh

Berawal dari Workshop ABLP yang Tak Mau Berakhir

Writing Camp III edisi ABLP-Klawing Embuh adalah perwujudan niat semua peserta workshop ABLP (Adventure Based Learning Program) yang sudah diadakan oleh Wilayah Plat R DPD AELI Jawa Tengah pada tanggal 13-15 Agustus 2024 di Base Camp Klawing Adventure, Purbalingga Jateng. Pada sesi terakhir, cetusan Mas Soel Winarno-yang bertindak sebagai narasumber- tentang harapan bahwa ada (monumen) tulisan yang dihasilkan akibat workshop, ditanggapi dengan persetujuan 14 pesertanya. Pak Dhe Kusworo sebagai salah satu peserta berinisiatif memformatkan proses penulisan tersebut dengan mendaulat saya sebagai “Temenan” atau dipanjangkan sebagai “Teman Menulis Anda.” Semua berawal dari workshop ABLP yang telah berakhir, namun justru menjadi awal ekspedisi petualangan yang baru. Ya, kini kita akan BELAJAR secara BERTUALANG menggunakan aktivitas tantangan “MENULIS ARTIKEL.”

Generasi Klawing-Embuh siap Bertualang

Kok Bisa?

Mengapa membuat tulisan atau menulis artikel saya samakan dengan kegiatan petualangan atau adventure? Dalam workshop, Mas Soel menyampaikan bahwa “adventure” dapat dipahami sebagai “Serangkian kegiatan yang hasil akhirnya tidak diketahui/ tidak pasti, namun jika berhasil dilakukan bisa memberikan kepuasan/ kebanggaan.” Simon Priest menggambarkan “adventure” sebagai suatu zona tertentu saat terjadi kesesuaian antara kompetensi dan risiko. Suwer, agak susah menjelaskannya jika tanpa melihat skema, maka, nih saya sketsakan apa yang dimaksud oleh PakDhe Priest (sumber http://simonpriest.altervista.org/OE.html)

Paradigma "Adventure" menurut Simon Priest

Paradigma suatu tantangan menurut Priest bisa dikategorikan menjadi 5 area pengalaman tergantung kondisi pelaku, yaitu:

  1. Exploration & Experimentation
  2. Adventure
  3. Peak Adventure
  4. Misadventure, dan
  5. Devastation & Disaster

 6 posisi yang saya buat itu sekedar menjelaskan bahwa suatu aktivitas/ tantangan bisa dihayati secara berbeda oleh tiap orang. Sebagai contoh, aktivitas berkayak bagi Si Satu hanyalah suatu Exploration & Experimentation saja, namun bagi Si Dua, itu adalah petualangan/ adventure; sementara bagi si Tiga dan Empat, berkayak itu sudah mencapai peak adventure walaupun kemampuan mereka dalam berkayak berbeda. Lain lagi cerita si Lima yang orangnya mudah panik, baginya kegiatan berkayak adalah suatu misadventure. Yang lebih parah dan berbahaya itu nasib si Enam yang kemampuan berkayaknya rendah, namun harus menanggung risiko yang tinggi. Dia sejatinya sedang menantang area   Devastation & Disaster.

Mengapa “writing Camp” bisa disebut dengan adventure? Ya karena bagi banyak orang, “menulis” itu bagaikan momok, sesuatu yang dianggap sulit, serta menakutkan. Bagaimana 20an orang (peserta dan panitia) mengikrarkan diri selama selapan (35 hari) bisa menghasilkan Bunga Rampai bertema ABLP? Nah itulah proses ekspedisi dan petualangannya. Hasilnya sih pinginnya sukses, namun hmmm…. siapa bisa menjamin, walau proses ala pakem experiential learning sudah, eh, akan coba diterapkan? Cocok, hasil akhir Writing Camp mengandung ketidakpastian, namun tunggu saja jika bunga rampai itu sudah terbit, maka dijamin para penulis di dalamnya akan merasa puas dan bangga. Sebagai mentor atau Temenan, selain Mas Soel, saya juga melibatkan Mas Ardian Rangga, M.Pd. yang selain duduk dalam jajaran DPP AELI, beliau juga sudah terlibat sejak Writing Camp Pertama.

Okey, cukup ngomongin teorinya ya, kini kita kembali ke urgensi Writing Camp. Apa sih perlunya saya ikut Writing Camp ini? pertanyaan ini mungkin senada dengan peserta ABLP saat bertanya, “Untuk apa Kak Fasilitator kami harus cape-cape mendayung untuk mengarungi sungai?” Mungkin pertanyaannya yang perlu dibalas dengan pertanyaan reflektif, “Bagi kita seorang fasilitator, apa arti keberhasilan menulis sebuah artikel? Apa makna saat bersama tim yang solid berhasil menerbitkan bunga rampai ABLP yang berkualitas” begini pendasarannya.

Ada satu sesi dalam workshop saat Mas Soel mengajak kami berdiskusi tentang hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow. Apa saja itu? Dimulai dari tingkat piramida terbawah lalu ke atas adalah:

  1. Kebutuhan Fisiologi (Physiological Needs)
  2. Rasa Aman (Safety Needs)
  3. Kasih Sayang (Social Needs)
  4. Penghargaan (Esteem Needs)
  5. Aktualisasi Diri (Self Actualization)

Begini penggambarannya.

Apakah “menulis” itu untuk memenuhi kebutuhan Fisiologi? Rasanya sih nggak ya, kecuali pekerjaan kita itu berhubungan dg dunia tulis menuli semisal jurnalis atau novelis. Apakah “menulis” itu memenuhi kebutuhan kita akan Rasa Aman? Hmm bisa jadi bagi brp orang dia akan merasa aman setelah menulis karena berhasil mengamankan/ mendokumentasikan sebuah gagasan. Kalau kebutuhan akan memiliki & Kasih Sayang, apakah bisa dipenuhi dg (tantangan) menulis artikel? Hmm … abstrak ya, silakan dicari jawab sendiri deh. Menulis mungkin bgai sebagian orang bisa memenuhi kebutuhan akan penghargaan; dia merasa dihargai karena sudah berhasil menulis suatu artikel. Walaupun gini-gini saya juga punya pengalaman atau gagasan tentang ABLP lho, tuh saya sudah tuliskan dengan rapi walau prosesnya penuh perjuangan; keren khan, Bro? Kalau yang saya ingin, semoga writing camp kita kali ini bisa menyentuh kalbu para peserta dalam hal memenuhi kebutuhan Aktualisasi Diri. Saya seorang Fasel, punya pengalaman, punya kehendak untuk berbagi, maka saya tuliskan dalam sebentuk artikel yang bisa menjadi sarana aktualisasi siapa saya sejatinya. Semoga keberhasilan kita nanti dalam menyelesaikan target bisa menjadi fondasi bagi aktualisasi diri pribadi sebagai seorang fasilitator experiential learning, dan juga aktualisasi Workshop ABLP Klawing-Embuh.

Oh ya, Writing Camp ini merupakan edisi ke-3 di bawah naungan AELI. Writing Camp ke-1 dan ke-2 sudah dilaksanakan pada tahun 2020 dengan keseruan yang bisa diintip di sekitar  https://mancakrida.blogspot.com/2020/06/experiential-learning-yang-perlu-kamu.html Tema Writing Camp III adalah ABLP; kenapa diimbuhi dg kata Klawing-Embuh? Karena saat workshop ada 2 kelompok yang terbentuk yaitu kelompok Klawing dan Kelompok Embuh; gitu aja sih penjelasahnnya he he he… Beberapa catatan atau materi pembelajaran yang digunakan dalam ekspedisi ini, dipungut dari proses terdahulu, sehingga peserta perlu rajin membaca juga supaya tidak gampang bingung.

Ice Breaking, Games 4T



Writing Camp III yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 2024 dibuka dengan games 4T yaitu merumuskan:

  1. Topik/ tema tulisan,
  2. Tujuan,
  3. Tesis, dan
  4. Titel/ judul artikel.

Pada masa pembekalan atau oreientasi ini, Peserta Writing Camp diminta menuliskan 4 hal tersebut, dan langsung dikirim pada grup WA writing camp III. Perbekalan untuk menyelesaikan games ini bisa didapatkan melalui https://mancakrida.blogspot.com/2020/05/ayo-bikin-pengalaman-pendampinganmu.html   sebagai peninggalan Writing Camp sebelumnya.

Permainan 4T diakhiri pada hari Senin Pon pukul 22.22. 18 dari 23 peserta sudah menyelesaikan games ini, dengan gagasan/ judul sebagai berikut:

  1. Proses/komponen dalam ABLP
  2. Ketrampilan dan kemampuan yang diperlukan dalam ABLP
  3. Pemanfaatan teknologi modern dan dunia digital dalam proses ABLP
  4. Disiplin management waktu dalam ABLP
  5. Zona Pengembangan Manusia dalam Program Pembelajaran Berbasis Petualangan
  6. Mengarahkan dan mengembangakan potensi Manusia pada kegiatan ABLP
  7. Mengelola Resiko Dalam Pelatihan Berbasis Petualangan di Alam Bebas
  8. Manajemen waktu dalam ABLP
  9. Aktifitas memasak dalam program  bertualang,  "bukan memasak biasa"
  10. Management  Resiko Tinggi
  11. Membuat program petualangan anak
  12. Petualang akan memunculkan kreatifitas baru
  13. Debriefing itu Mengasyikkan
  14. Meningkatkan Kesadaran diri dan kesadaran sosial melalui ABLP
  15. – belum –
  16. – belum –
  17. – belum –
  18. Safety briefing dalam kegiatan ABLP
  19. Mengelola Perilaku Individu Melalui Adventure Based Learning Program (ABLP)
  20. – belum –
  21. Perubahan Perilaku peserta dalam Kegiatan ABLP
  22. Silent Trekking
  23. – belum –

Pos BENDUNGAN

Helow, Ayo Bnetuk Dahulu Kerangka Tulisanmu...

Baru mulai ekspedisi, peserta sudah tertahan di POS BENDUNGAN. Bendungan dibuat agar bisa membendung aliran air yang lalu terkumpul untuk dimanfaatkan dan diatur secara terukur untuk berbagai kepentingan, misalnya irigasi, air minum, pembangkit listrik, dan rekreasi. Mirip dengan Bendungan Slinga di Sungai Klawing, dalam ekspedisi kali ini, BENDUNGAN adalah singkatan dari Bentuk Dahulu Kerangka Tulisanmu. "Bendungan" akan membantu kita agar tidak kebanjiran ide, namun juga tidak kering gagasan.

Aktivitas dalam pos ini adalah membuat Kerangka Tulisan, melengkapi 4 T yang sudah dibuat.

Sebagai bahan bacaan tentang bagaimana membuat KERANGKA TULISAN, peserta diajak mengunjungi kunjungi jejak Writing Camp sebelumnya di https://mancakrida.blogspot.com/2020/05/kerangka-artikel-dalam-kisah.html

Peserta  akan beraktivitas di Pos Bendungan ini sampai Hari Jumat Pahing 17 Sapar 1958 pukul 23.45, yang berarti sekitar 12 jam dari artikel ini dibuat.

Setelah membaca-baca referensi dan merenung-renung sambil ngopi, barangkali ada peserta yang bertanya, “Apakah 4T bisa direvisi, bahkan diganti?”... oooo boleh, selama kita masih berada di Pos Bendungan ini hal itu nggak masalah. Justru itulah tujuan utama saya membuat catatan atau tulisan ini, “Mengabarkan perkembangan peserta Writing Camp sekaligus memberi inspirasi penajaman proses menulis”

Jadi begini sodara-sodara… Kita menulis itu tidak bisa lepas dari 3 KON. Jare wong banyumas, Apa maksudde? Maksudde, Artikel adalah segepok informasi tertulis yang hendak disajikan pada pembaca. Bagaimana supaya artikel kita bisa tersajikan secara tepat? Ternyata kuncinya ada pada 3 KON, yaitu Konteks, Konten, dan Kontrol. Penjelasan lebih lanjut bisa dibaca di https://mancakrida.blogspot.com/2020/07/3-kon-dalam-menulis-artikel.html

Konteks besar kita adalah membuat Bunga rampai atau kumpulan artikel bertema ABLP. Sepembacaan sayasebagian besar hal ikhwal tentang Adventure Based Learning Program sudah coba diulas/ dikupas/ ditinjau dari berbagai sisi. Teori adventure, teori pembelajaran, manajemen pelaksanaan, manajemen risiko, kompetensi fasilitator, contoh-contoh aktivitas, dan variasi programnya. Sebagai suatu tema sudah okey, namun mari kita renungkan seberapa “ngotot” kita akan menuli tema tersebut? Artinya, jika kita memang sudah punya pengalaman atau gagasan, atau berniat mencari tahu tentang tema yang diidekan, nggak masalah lah; proses menulis bisa menjadi petualangan atau adventure bagi kita. Namun bagi yang memilih temanya dirasa jauh dari kemampuan kita mewujudkannya dalam sebuah artikel, silakan bisa dipertimbangkan lagi dengan 2 alternatif tindakan memertajam/ memerjelas atau mengganti.

Memertajam/ memerjelas tema itu maksudnya mengambil 1 gagasan/ studi yang lebih rinci dari gagasan besarnya. Misal  jika kita malah bingung dg tema besar “Mengarahkan dan mengembangakan potensi Manusia pada kegiatan ABLP” maka bisa saja dipertajam dengan gagasan “Mengembangakan potensi manusia melalui kegiatan arung jeram.” Pada gagasan pertama yang luas, kita nanti perlu menjelasakan tentang potensi manusia itu apa maksudnya, lalu wajib menjelasakan apa itu ABLP, dan konsekuensinya memaparkan keterkaitan 2 variabel tadi. Pada contoh tema yang dipertajam, kita cukup menjelasakan variabel potensi manusia, dan arung jeram. Nah, bagi yang sehari-hari berkecimpung dalam dunia arung jeram, tentu itu akan lebih familier dan membumi untuk ditulis.

Maksud mengganti 4T rasanya jelas ya, ya mengganti dengan gagasan yang memang sekiranya bisa kita tuntaskan tanpa serasa masuk zona “Misadventure” atau bahkan “disaster,” hihhh, ngeri banget ya. Menyitir kasus arung jeram tadi, jika tema “Mengembangakan potensi manusia melalui kegiatan arung jeram.” Hendak ditulis oleh seorang fasilitator bahkan yang tidak pernah ber-arung jeram, ya teorinya sih bisa… namun sebarapa “soul” akan didapat itu yang jadi pertaruhan. Belum lagi jika nanti sidang pembaca langsung menilai, Eh, kok si Anu nulis tentang arung jeram, jangan-jangan kita sedang bermimpi. Weh, hiperbola ya.

Yang Minat, yang Minat!

Bagi yang masih mau memertajam atau mengganti tema, berikut ini saya sampaikan beberapa tema sederhana yang mungkin lebih asyik ditulis oleh beberapa peserta Writing Camp III, melengkapi tema-tema yang sudah beredar

  • Metode survey lokasi kegiatan pembelajaran berbasis petualangan di hutan (atau di waduk/ telaga),
  • Teknik pemanasan sebelum beraktivitas trekking,
  • Wana Wisata Baturraden (misalnya) sungguh tempat yang cocok untuk bertualang,
  • Teknik berkemah,
  • Mengenali tumbuhan yang aman dikonsumsi di alam liar,
  • Arung jeram sebagai media sarana pengembangan diri,
  • Tips melakukan ABLP di daerah pesisir utara Pulau Jawa,
  • Membangun relasi dengan penduduk setempat saat berkegiatan; studi kasus … anu…
  • Dan sebagainya.

Sudah cukup saya ngepoin 4T teman-teman peserta. Ayo saatnya menuntaskan kerangka artikel yang akan dikumpul paling lambat nanpi malam pukul 23.45. Sampai saat ini baru 1 yang sudah setor Kerangka Tulisan; saya tidak mau sebut namanya, cukup inisianya saja yaitu NW; maka bisa saja kepoin lebih dahulu; begini.

  • Tema: Komponen dalam ABLP
  • Tujuan: Menguraikan komponen yang harus ada dalam ABLP
  • Thesis: Kegiatan petualangan pada ABLP harus memiliki komponen yang tepat agar dapat menyampaikan muatan pembelajaran yang diinginkan
  • Title: "Why ABLP?"
  • Kerangka Tulisan

1. Pendahuluan

2. Isi (deskripsi variabel)

  • Apa itu ABLP: apa itu kegiatan petualangan dan apa itu program pembelajaran
  • Apa saja komponen yang harus ada dalam ABLP

3. Isi (hubungan antar variabel)

  • Bagaimana komponen-komponen yang harus ada dalam ABLP tersebut memiliki pengaruh terhadap penyampaian muatan pembelajaran

4. Penutup

  • Alasan kenapa harus menggunakan media kegiatan petualangan dalam menyampaikan muatan pembelajaran. "Why ABLP?"

Komentar saya simpel, yaitu:

Alur berpikir sudah oke, namun sebaiknya kerangka pada bagian isi itu ditulis dengan kalimat positif, bukan kalimat tanya. Maksudnya lugas saja, misal;

Pengertian ABLP (hati-hati ya, mau sedalam apa menjelaskan jargon ini? kalau diperlukan tulis juga sub-nya)

Penjelasan (misal) 7 Komponen dalam ABLP, yaitu:

  • Komponen ke-1,
  • Komponen ke-2,
  • Komponen ke-3,
  • Komponen ke-4,
  • Komponen ke-5,
  • Komponen ke-6,
  • Komponen ke-7,

Pengaruh komponen (yang mana) terhadap penyampaian muatan pembelajaran

Keunggulan menggunakan media kegiatan petualangan dalam menyampaikan muatan pembelajaran (bisa diperbandingkan dg metode anu misalnya)

Semoga umpan balik ini bisa juga menjadi inspirasi bagi semua peserta sehingga bisa membentuk kerangka tulisan dg taktis. Menulis artikel pada hakekatnya adalah mengorganisasikan ide, yang diawali dengan membuat kerangka. Ingat ya…, Kerangka Tulisan merupakan susunan apa saja hal-hal yang mau dituliskan dalam suatu artikel. Fungsi kerangka ini antara lain:

  1. Memudahkan pengendalian variabel,
  2. Memerlihatkan pokok bahasan,
  3. Mencegah pembahasan melenceng dari tema, judul, tujuan, dan kalimat tesis yang sudah dibuat,
  4. Mencegah ketidaklengkapan pokok bahasan,
  5. Mencegah pengulangan pembahasan ide.

Selamat berproses adventure di Pos Bendungan ini dengan merenungkan sketsa berikut.



Brebes, Jumat Pahing Agustus, 12 jam sebelum deadline.

Salam Temenan: SAR (Soel-Agus-Rangga)

Share:

WRITING CAMP; Outbound di dalam Komputer

WRITING CAMP merupakan suatu Pelatihan pengembangan kreativitas dan logika berpikir menggunakan media (permainan) menulis artikel. Jika kita sudah familier dengan kegiatan outbound dalam konteks pengembangan kapasitas seseorang, maka WRITING CAMP juga sama prinsipnya. hal yang membedakan adalah media aktivitasnya; jika outbound identik dengan aneka permainan baik di darat, air, maupun ketinggian; maka dalam WRITING CAMP, "permainan" tersebut diganti dengan proses MENULIS.

Ayo Menulis

WRITING CAMP idealnya diikuti 8-20 peserta dalam satu angkatan, serta dapat dilakukan secara tatap muka (2-3 hari), online (2-4 minggu) atau hybrid.

Salah satu contoh keseruan WRITING CAMP dapat disimak di halaman ini, sedangkan jika suatu komunitas (profesional atau pendidikan) menghendaki tujuan tertentu melalui WRITING CAMP ini, nanti bisa kami modifikasi skenario prosesnya. Misalnya, bagi mereka yang memerlukan pendampingan penulisan supaya karya tulis (ilmiah)nya cepat selesai; misal skripsi atau tesis; kami siap memfasilitasi pendampingannya dengan gambaran materi yang bisa diintip di sini.


Jadi, sudah siap untuk menulis?


Share:

Menulis itu Seperti Membuat Kompos


Menuang aktivator kompos
Minggu ini saya sedang giat membuat kompos. Pada kesempatan ini, saya akan cerita tentang proses pembuatan kompos, yang ternyata, setelah dipikir-pikir, ada kemiripan dengan proses membuat artikel. Di mana miripnya? Segera saja kita nikmati.
Apa itu kompos? Berdasarkan wikipedia, kompos adalah hasil penguraian parsial/ tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organis  yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi  berbagai macam  mikrob dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik  (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikrob-mikrob yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Proses pembuatan kompos dimulai dari perencanaan material, tempat, serta peralatan yang akan digunakan. Dalam satu kesempatan, Saya menyiapkan 3 material organik sebagai bahan utama kompos, yaitu:
  1. 3 karung kotoran hewan kambing,
  2. 2 karung cacahan daun “ekor kucing” (Typha latifolia), dan
  3. 1 karung sekam padi.
Beberapa perlengkapan yang disiapkan antara lain cangkul, sekop tukang/ trowel, ember, pengaduk, dan terpal. Adapun aktivator yang dipilih adalah Pupuk Organik Cair (POC) berbasis mikroorganisme POC merek GITA, serta molase yang terbuat dari tetes tebu. Kompos akan dibuat di suatu bekas kolam ikan terbuat dari pasangan bata dengan ukuran lubang 68x88 cm., kedalaman 48 cm.
Persiapan bahan, alat, dan tempat pembuatan kompos
 Oh ya, sebelum semua bahan tadi tersedia, saya tentu mengupayakan ketersediaannya. Kotoran hewan saya ambil dari kandang kambing yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah, dan diangkut menggunakan sepeda motor. Typha latifolia saya ambil sendiri dari sawah, diangkut dengan gerobak, baru dicacah. Sementara itu, sekam padi saya beli dari tempat penggilingan padi. 
Proses perjuangan mengangkut 3 karung kotoran kambing
Dalam semangat menggelora, saya tuangkan 1 karung kotoran hewan, lalu ditimpa 1 karung cacahan daun ekor kucing, di atasnya sekarung sekam padi, lalu 1 karung kotoran hewan lagi. Saya lalu berusaha membuat 3 material tadi campur baur dengan mengaduknya menggunakan cangkul dan sekop, seperti syarat pembuatan kompos yang baik. Namun ternyata sulit mecampurkan 3 bahan tadi secara merata karena massa material terlalu banyak dan tebal sementara wadahnya kecil. Daripada tidak tercampur merata, saya lalu mengeluarkan lagi sebagian besar kotoran hewan, cacahan 'ekor kucing,' dan sekam tadi. Nah, material yang tersisa di kolam tadi kini lebih mudah saya aduk-aduk menggunakan trowel.
Menuang karung kedua kotoran hewan
Saya lalu melarutkan seperempat liter POC dalam 20an liter air, lalu ditambah 3 sendok makan molase tetes tebu. Setelah saya aduk secara merata, saya siram bahan organik yag sudah tercampur di dalam kolam. Tak cukup dengan sekali siram, setelahnya saya aduk-aduk lagi dengan trowel, lalu sekali lagi saya siram secara merata.
Proses mencampur POC dengan air
Kini sepertiga material organik kedua saya masukkan kolam lagi, ditambah setengah karung kotoran hewan, lalu diaduk, disiram campuran air dan POC dan molase, diaduk, lalu disirami lagi. Dalam proses ini, saya membuat lagi larutan air dan mikroba sebanyak 1 galon. Demikian sampai sepertiga bahan organik terakhir saya masukkan ditambah 1 karung kotoran hewan lagi, diaduk, disiram, dan diaduk lagi.
Mengaduk-aduk semua material pembuat kompos supaya tercampur merata
Proses pencampuran bahan organik, aktivator, dan molase usai, menyisakan 1 karung cacahan tanaman “ekor kucing” yang ternyata tidak muat lagi dimasukkan dalam kolam. Saya lalu menutup kolam dengan terpal yang tepi-tepinya diperberat dengan kayu. Apakah proses pembuatan kompos sudah selesai? O, belum karena saya harus menunggu minimal 2 minggu lagi supaya terjadi proses fermentasi antara material organik dan aktivator kompos tadi. Tanda proses pengomposan berjalan baik adalah adanya kenaikan suhu dalam campuran tadi. Sampai tulisan ini dibuat, proses masih berlangsung dengan secara berkala saya meraba bagian atas tepal yang memang menjadi hangat, tandi di dalam kolam sedang terjadi pengomposan. Konon teorinya, setelah suhu menjadi normal lagi, maka kompos sudah jadi, namun perlu diangin-anginkan lebih dahulu sebelum bisa digunakan.
Nah, cerita tentang pembuatan kompos sudah selesai, kini saya akan menanalogikan tentang proses penulisan yang sebenarnya serupa dengan membuat kompos.
Tempat bersemayam material pembuatan kompos yang sudah ditutup terpal
Sama seperti saat mau membuat kompos, untuk membuat sebuah artikel, kita perlu NIAT, iya, niat itu bukan sekedar semangat memulai, tetapi kehendak kuat untuk menyelesaikannya. Hayooo… kita sudah niat belum untuk menulis artikel? Tentu ada bahan-bahan utama pembuat kompos yang perlu disiapkan (kotoran hewan, sampah organik, dan sekam), sama halnya untuk membuat tulisan tentu kita perlu juga data-data atau informasi yang akan diolah menjadi tulisan. Bahan tulisan bisa berupa “data primer” atau “data sekunder” yang mungkin belum semuanya lengkap sehingga perlu diupayakan penggenapannya. Kita perlu mengupayakan data-data tadi terpenuhi supaya penyajian tulisan bisa kontekstual. Sama halnya ketika saya harus mengambil kotoran hewan dari kandang kambing, lalu mengangkutnya menggunakan motor, maka kita juga perlu memerjuangkan urusan pelengkapan data, paling sederhana ya dengan riset atau membaca literatur.
Kerja keras mengumpulkan tahi kambing,
sama halnya dengan kita bekerja keras menyiapkan data-data untuk artikel.
Paragraf kedua artikel ini, saya isi dengan data sekunder tentang pengertian kompos yang saya cuplik dari wikipedia. Kenapa? Karena saya ingin menghadirkan definisi “Kompos” dan “pengomposan” yang kredibel, daripada saya sekedar mengira-ira. Kalau sudah ada data yang valid, kenapa tidak kita gunakan selam mencantumkan sumbernya? Dalam hal menulis, konteks yang sama juga terjadi. Kita mungkin sudah biasa atau familier menggunakan atau menggeluti “sesuatu,” namun tidak/ belum pernah melakukan pendefinisian yang tepat. Maka demi bisa mendapatkan kualitas penulisan yang bernas, kita bisa mencari data sekunder untuk menutupi kekurangan kita tadi tersebut.
Salah satu contoh praktis lain adalah perkara tanaman “Ekor Kucing” yang sudah saya sebut dalam proses pembuatan kompos menjadi sampah organik yang dicacah-cacah. Saya sudah sering melakukan pencacahan “sesuatu” tersebut, namun baru tahu nama populernya, termasuk nama latinnya (Typha latifolia) ya satu jam terakhir setelah saya “googling” di internet. Ada kebutuhan dalam proses penulisan untuk menyajikan data (nama) yang lebih pasti tentang apa yang saya lakukan, maka jika saya tidak punya informasi tentangnya, ya konsekuensi logisnya adalah riset. Maka, yuk kita daftar dahulu, apa sih data-data yang kita perlukan untuk melengkapi tulisan, jika belum lengkap ya dicari dong.
Tanaman ekor kucing (Typha latifolia)
Ada “godaan” saat saya ingin menjelaskan tentang kompos secara lebih lanjut, misalnya menjelaskan tentang manfaat kompos. Kan keren tuh, bikin tulisan dengan referensi yang lengkap, apalagi kelihatan ilmiah (walau dikutip dari sumber lain). Namun saya akhirnya saya menampik godaan tersebut terkait konteks tujuan saya menulis artikel ini, yaitu hendak menjelaskan kesamaan proses membuat kompos dengan proses menulis. Karenanya saya membatasi menyajikan data yang relevan saja, yang benar-benar menunjang pembahasan. Toh, ada lebih banyak artikel lain yang lebih detil menjelaskan tentang serba-serbi pengomposan yang bisa diakses pembaca yang memang tujuannya ingin memerdalam perihal kompos; bukan dengan membaca artikel ini.
Saat mengawali proses penulisan, apakah semua data yang sudah kita miliki harus masuk dalam artikel? Tentunya tidak. Dalam cerita membuat kompos, saya sudah menyiapkan 2 karung cacahan tanaman “ekor kucing,” namun ternyata yang digunakan hanya 1 karung saja. Saya menyiapkan juga 3 karung kotoran hewan, namun saya ternyata perlu menambah setengah karung lagi. Kenapa hal tersebut terjadi? Karena tenyata sebanyak itulah material yang saya perlukan supaya pas memenuhi wadah tempat pengomposan. Hal ini mirip dengan proses menulis artikel yang tentunya baik jika kita sudah mempunyai banyak data sebelum penulisan dimulai. Ada suatu seni ketika ide demi ide mulai mengalir dan tertuang dalam tulisan. Selama masih sesuai konteks, sangat jamak terjadi variasi rencana pengolahan berbagai data tadi, termasuk untuk menambah atau sebaliknya tidak menggunakannya. Jadi, yuk kita niati untuk mencari data yg memang urgen, namun juga iklas jika ada data yang kurang menunjang konteks lalu tidak kita gunakan. 

Proses penghangusan sekam padi yang saya lakukan sebelumnya,
namun toh dengan pertimbangan tertentu, hasilnya tidak saya gunakan untuk membuat kompos
Proses pengomposan yang baik mensyaratkan semua material pembentuknya dicampur secara merata, hal yang pada awalnya sulit saya lakukan sebab ingin semuanya bisa instan dan cepat. Saya pikir, dengan menuang semua material, akan mempermudah proses pencampurannya; ternyata malah susah sampai akhirnya saya harus membongkarnya dan mengaduknya bertahap. Sama dengan proses menulis artikel, kita perlu mengolah aneka data itu secara integral kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Jangan harap kita bisa menumpukkan semua data dan bisa mengolahnya sekaligus secara efektif, terus mengklaim bahwa pesan kita sudah tersampaikan. 
Salah satu kontrol penulisan artikel adalah tata tertib penulisan artikel, misalnya terkait jumlah kata. Pada awal penulisan, saya membatasi dan menyadari, hanya akan menulis sebanyak 1.000 - 1.500 kata saja. Kontrol ini membantu saya untuk bisa lebih selektif memilah dan memilih data/ informasi apa yang perlu dibahas dalam artikel. Kehebatan artikel itu bukanlah karena panjang dan bertele-telenya bahasan, tetapi bisa menjelaskan sesuatu secara efektif dan efisien sesuai tujuan penulisannya. Bagaimana jika kita punya banyak (sekali) ide/ gagasan yang mau dituliskan? Hmmm... jangan-jangan yang kita perlukan itu membuat buku, bukan sekedar artikel. Nah, kalau konteksnya membuat buku, tentu ceritanya akan beda lagi; termasuk permisalan dalam pembuatan komposnya.
Berikut ini foto contoh proses lain yang pernah saya alami dalam urusan pembuatan kompos dengan skala lebih besar, yang bisa diibaratkan dalam hal penulisan dengan "wadah" yang lebih besar dan kompleks.
Mengangkut salah satu material organik batang pisang dengan mobil.

Proses pencacahan material kompos di sawah

Proses penyebaran bahan pembentuk kompos yang telah dicampur, langsung di sawah
Semoga 3 foto di atas bisa memberi gambaran lebih lanjut bahwa walau konteks pembuatan kompos atau penulisan beda, namun prinsip dasarnya sama. Tetap perlu bahan/ data, pencampuran, serta  proses fermentasi.

Saya berpikir artikel ini akan lebih efektif diserap kemanfaatannya jika dilengkapi dengan foto pendukung, maka saya sengaja minta difotokan oleh anggota keluarga dalam beberapa tahap proses pembuatan kompos. Diniati, iya, saya memang niat membuat artikel ini, walau temanya sederhana “membandingkan pembuatan kompos dengan penulisan artikel,” namun jika bisa dibuat dengan maksimal itu membuat saya puas dengan harapan pembaca bisa menyerap sebanyak mungkin gagasannya.
Kini saatnya saya menutup artikel ini dengan menyimpulkan bahwa ada kemiripan proses antara saat kita menulis artikel, dengan proses pembuatan kompos. Dimulai dengan niat untuk memulai dan kehendak untuk menuntaskannya, maka proses perlu dilakukan dengan cerdas. Konteks penulisan tetap menjadi pegangan penulisan artikel terutama dalam upaya mimilah dan memilih data.  Tentu diperlukan perjuangan untuk menghasilkan artikel yang singkat, padat, namun informatif.

Selamat membuat kompos, eh, selamat menulis artikel.


Agustinus Susanta
Brebes, 5 Agustus 2020

Catatan: jumlah kata dalam artikel ini jadi 1.600 kata (dari target 1.000-1500 kata) di luar keterangan foto, lebih banyak 100 kata dari kuota maksimal, he he he…


Share:

Surat dari Kakak Angkatan yang Kepo


Salam jumpa adik angkatan baru Writing Camp II, apa kabar? Semoga seru suasana campnya ya, seperti camp kami dulu juga asyik. Camp ke II ini makin rame ya, semoga prosentase yang lolos juga makin bagus daripada yang kemarin. Nah ini kami kakak angkatan mau kasih sedikit bocoran tentang gambaran tugas akhir camp kedua ini, maksudnya supaya ada persiapan gitu. Namun ya karena informasinya kakak dapat dari berbagai sumber yang kadang nggak jelas, kadang kabur, kadang pake asumsi, ya mohon nanti dimaklumi kalo akurasinya tidak tepat 100% ya. Ini sih tentang konteks artikel yang akan ditulis oleh peserta camp kedua, tapi ingat ya, ini baru desas-desus lho.


Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI) adalah wadah bagi pengguna metode pembelajaran berbasis pengalaman (Experiential Learning) baik perorangan maupun lembaga yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan pengguna metode EL yang bertanggung jawab terhadap pengembangan manusia Indonesia. AELI yang didirikan 13 tahun lalu ini punya komitmen untuk selalu meneliti, menganalisa, dan mengembangkan penerapan metode EL di Indonesia agar dapat  menjadi metode pembelajaran yang efektif untuk peningkatan kualitas masyarakat Indonesia.
Visi dan misinya keren lho, yakni:

Visi
Menjadi Wadah dan/atau Mitra yang berkualitas bagi seluruh pengguna metode
Pembelajaran Berbasis Pengalaman di Indonesia, serta bertangungjawab terhadap pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Misi
  1. Meningkatkan kualitas Pembelajaran Berbasis Pengalaman sehingga menjadi metode pembelajaran yang efektif dan diakui di Indonesia.
  2. Meningkatkan kualitas pengguna metode Pembelajaran Berbasis Pengalaman yang
    bertanggung jawab terhadap pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
  3. Memasyarakatkan Pembelajaran Berbasis Pengalaman kepada masyarakat Indonesia.

Penetapan diri menjadi asosiasi berbasis keilmuan membawa konsekuensi keilmuan tersendiri bagi AELI. Salah satu tantangan yang terbentang adalah minimnya referensi experiential learning yang bercitarasa Indonesia. Maksudnya; harus diakui bahwa metode experiential learning ini “terbawa” masuk ke Indonesia dan menjadi populer karena eksistensi Outward Bound Indonesia yang bibitnya berasal dari Inggris sana. Berbagai referensi, teori, ataupun literatur lain diimpor dari luar negeri, tentunya dalam bahasa asing.

Belum banyak referensi tertulis tentang experiential learning dalam bahasa Indonesia, baik secara keilmuan maupun praktik di lapangan yang diketahui, bahkan dimiliki oleh AELI. Memang sudah ada beberapa artikel, buku, naskah akademik, materi workshop/ seminar yang beredar, namun belum bisa dikatakan memadahi untuk dikoleksi oleh asosiasi sekaliber AELI. Upaya asosiasi untuk secara mandiri membuat buku referensi tentang experiential learning pun masih terus diupayakan dengan segala dinamikanya.

Nah, kami para kakak angkatan yang kepo ini dengar desas-desus dalam desahan bahwa salah satu tujuan Writing Camp II ini, selain memfasilitasi para pesertanya untuk bisa berlatih menalarkan kata dan kalimat, juga untuk mendapatkan referensi tentang experiential learning yang bercitarasa Indonesia. Maksudnya gini ya adik angkatan. Dulu final project kami itu kan bikin ebook untuk dijadikan kado ulang tahun asosiasi, sekarang kayaknya, konon kabarnya, final projectnya itu bikin semacam kumpulan artikel yang lebih komprehensif tentang experiential learning.

Dulu saat camp pertama dengan peserta kami-kami ini yang masih unyu-unyu, tema artikel boleh pilih sendiri; itupun kami kembang kempis menyelesaikannya. Di camp II ini kabar burungnya, tema artikel sudah ditentukan oleh tim mentor yang menamakan dirinya “Temenan,” nama yang antik. Tapi memang sih Mas Agus mentor kita itu orangnya rada gimana gitu, susah ditebak. Dia kadang-kadang kejam dan tegaan juga lho, dulu ada teman kami yang nggak ngerjain games dengan santainya dikeluarkan dari camp, emang sih sebelumnya sudah diperingati dulu. Sekarang enak ya, mentornya ada 3, ditambah Mas Agus Supriyo yang pernah nulis buku games, serta Mas Gigih sang pujangga yang suka nulis artikel di website AELI. Jadi seru deh pasti prosesnya. Eh, kok kita malah ngomongin para mentor sih, baik ke topik yuk.

Jadi nanti di suatu pos ada games yang materinya ngambil dari aktivitas dan games di Pos-pos sebelumnya; semacam ulangan gitu. Peserta akan dapat poin usai ngerjain games, lalu dibuat ranking. Isunya nih, peserta yang ranking paling atas boleh milih topik tulisan yang sudah disiapkan, disusul rangking di bawahnya milih topik yang lain, dan seterusnya sampai semua topik terbagi. Kabarnya sih, tiap topik atau tema hanya akan ditulis oleh 2 orang, maksudnya itu ya temanya saja sama, tapi artikelnya tentu beda-beda dong.
Salah satu teman kawan adik ipar saudara sepupu sahabat kakak angkatan juga kasih info kalo nanti ada 10 tema yang disiapkan, yaitu:
  1. Merencanakan Kegiatan Program Rekreasi,
  2. Merencanakan Kegiatan Program Pembelajaran,
  3. Mengatur Sumber Daya Program,
  4. Melaksanakan Pemanduan Kegiatan Rekreasi,
  5. Melaksanakan Pemanduan Kegiatan Pembelajaran,
  6. Melakukan Pemanduan Kegiatan Tali Rendah,
  7. Melakukan Pemanduan Kegiatan Tali Tinggi,
  8. Menganalisa Resiko dalam Kegiatan,
  9. Menolong Korban, dan
  10. Experiential Learning dalam Norma Baru

Trus bagaimana jika ada peserta yang kebagian tema yang nggak diakrabinya? Mungkin itu jadi pertanyaan adik angkatan, terutama yang skor gamesnya kecil. Bisa jadi nanti ada peserta yang sebenernya sudah sangat lihai di bidang tertentu, tetapi ternyata karena dapat urutan buncit, maka kesisaan tema yang kurang familiar. Wah kalo itu kami dari alumni nggak tahu persis gimana nanti ceritanya, belum ada bocoran kayaknya. Tapi yakinlah, tim Temenan pasti sudah mengantisipasi hal-hal semacam itu, yang penting kalian itu enjoy saja ngikuti proses. Mirip-mirip kalo program experiential learning gitu, suka nyeburin peserta dalam kondisi yang tidak nyaman kan? Nah rasain itu besok, he he he… eh hanya becanda ini. Tapi yakinlah, nggak usah terlalu dipikirin sekarang, toh masih kabar burung ini, burung siapa juga nggak jelas.
Target
Nah, kalo info ini rada valid lho. Demi memuluskan target camp dalammendapatkan referensi tulisan yang berbobot dari para peserta, maka Temenan memang menyiapkan sungguh materi-materi kebahasaan sebelum kalian bener-bener mulai nulis artikel. Pasti mereka sudah atur itu sedemikian rupa dengan latar belakang peserta yang beragam. Angkatan kalian keren-keren lho; pendiri AELI saja ada 3 orang yang ikut, trus ketua umum asosiasi pun ikutan juga. Belum lagi teman-teman fasilitator lain yang pengalamannya juga bejibun; asyik deh pokoknya.
Eh, sudah ya, cukup bocoran dari kami para kakak angkatan tentang konteks penulisan artikel pada Camp II ini. Sekali lagi ini baru desas-desus ya, percaya boleh, nggak percaya ya kebangeten, he he he… pokoknya ikuti saja prosesnya pos demi pos dengan semangat yang asyik; santai tapi serius.
Selamat melanjutkan proses,

Salam menulis dari kami kakak angkatan yang kepo.

PALU ERICA
Persatuan Alumnus Experiential Writing Camp

Share: