Yuk membelajarkan diri melalui pengalaman asyik Outbound/ penjelajahan asyik.


Banteng, Si Benteng (Taman Nasional) Baluran

Taman Nasional

Saya dan beberapa rekan sedang menjalani misi yang diberikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Reprublik Indonesia, untuk menyusun buku Pola Perjalanan Wisata (PPW) dengan tema Indonesia National Park Discovery. Pola perjalanan wisata adalah karakteristik perjalanan yang dilakukan dari dan ke destinasi pariwisata, termasuk pengalaman berwisata yang didapat selama perjalanan. Pola perjalanan merupakan kombinasi tujuan yang wisatawan pilih untuk dikunjungi, urutan yang mereka pilih untuk dikunjungi, dan mengapa mereka membuat keputusan ini. (Flogntfeldt Jr, 2005; Nickerson, dkk, 2009; Hughes dkk, 2015, Alison Course, 2020)

Kali Topo
Di berbagai literatur, secara akademis Pola Perjalanan Wisata dijelaskan sebagai designed touristic routes, sebagai materi dasar penyusunan themed routes yang kemudian dikomersilkan sebagai paket perjalanan. Nah, ceritanya, Indonesia juga pengen mencontoh punya PPW sebagai salah satu strategi yang dilakukan oleh kemenparekraf guna menyiapkan dan mengembangkan kepariwisataan. Apa boleh buat, pariwisata saat ini  menjadi  salah satu tumpuan pendongkrak perekonomian nasional saat pandemi Virus Corona 19. Tema yang kami lakoni hanya salah satu dari 12 tema yang dicanangkan, yaitu: Indonesia Coffee Trail, Journey For Healthy Life, Indonesia  Food Culture, Journey of Toba Caldera, Indonesia National Parks Discovery, Overland Wonderful Flores, Borneo Adventur, The Classical Indonesia Batik Route, Trail of Java Civilization, Bird of Paradise, Indonesia Volcano Summit, dan Wallace Line Expedition Route.

Keluaran PPW ini adalah referensi bagi para wisatawan, travel agent/tour operator/online travel agent Indonesia maupun di luar negeri maupun pemangku kepentingan lainnya dalam mengemas produk wisata yang berorientasi kepada peningkatan length of stay wisatawan dan kualitas pengalaman berwisatanya.

Mengapa Taman Nasional menjadi salah satu pilihan tema? karena sebetulnya keindahan dan esotika taman nasional itu dapat dijadikan atraksi wisata yang sangat memikat para wisatawan. Emang seberapa memikatkah pesona TN? Sabar ya dalam catatan berikutnya pesona tersebut akan terkuar.

Taman Nasional adalah  kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Itu yang bilang “Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” lho. Sedangkan, pengertian kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Hmmm… itu juga ada aturannya juga lho.

Kawasan pelestarian alam terdiri dari 3 jenis, yaitu Taman Nasional, Taman Hutan Raya (Tahura), dan Taman Wisata Alam (TWA). Taman Nasional menempati hirarki tertinggi sebagai kawasan yang harus dilestarikan, sehingga aturan mengenai seluk beluknyapun paling ketat. Kawasan Taman Nasional terdiri dari beberapa zona, yaitu: Zona Inti; Zona Rimba; Zona Pemanfaatan; dan Zona Lain. Adapun kegiatan wisata di  Taman Nasional hanya dapat dilakukan di zona pemanfaatan, yang ketentuannya sudah dibuatkan regulasi khusus oleh pemerintah. Saat ini terdapat 54 Taman Nasional di Indonesia, yang tersebar mulai dari pulau Sumatera sampai Papua, dengan macam-macam karakternya, mulai dari ekosistem laut, dataran rendah, dan dataran tinggi/ gunung.

Rusa di Baluran
Membahas pelestarian alam, pasti terkait dengan konservasi, yang tujuannya ‘mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.’ Eh, kok jadi serius sih. Tapi sebentar, dikit lagi nih seriusnya, soalnya kita kudu paham dahulu konteks urgensi Taman Nasional sebelum cerita lebih lanjut tentang urusan pariwisatanya. Pakem menurut undang-undang, konservasi dilakukan melalui 3 jenis kegiatan, yaitu:

  1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan;
  2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan
  3. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Kami melakukan eksplorasi Taman Nasional Baluran dan beberapa obyek wisata sekitarnya selama seminggu. Taman Nasional ini ditetapkan oleh negara berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 279/ Kpts.-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997. Kisah per harinya tidak perlu lah disampaikan di sini karena pasti akan membosankan sebab akan ada spot atraksi yang kami observasi beberapa kali dalam hari yang berbeda. Kita nikmati saja titik-titik daya tarik wisata yang sudah kami eksplorasi ya…

Eksotika Baluran

Pos Batangan adalah tempat kantor Taman Nasional Baluran berada, sekaligus pintu masuk terdekat dari arah Banyuwangi. Terdapat bunker serdadu jepang di halaman kantor yang disebut dengan “Goa Jepang,” sayang keberadaannya kurang ditonjolkan. Di Pos inilah pengunjung membeli tiket masuk serta bisa mdp penjelasan tentang Baluran. Menara pandang terletak di samping tempat parkir. Dari atas menara pandang, pengunjung bisa menikmati keindahan gunung Baluran sekaligus mengamati hutan di sekitarnya sambil mencoba menemukan aneka binatang yang berkeliaran. Puas mejeng di menara pandang, kita bisa melanjutkan meluncur masuk ke dalam Taman Nasional melalui jalan aspal hotmix mulus yang masih baru. Biasanya, saat melintas di sana kita bisa melihat atau bersua dengan binatang monyet kera (Macaca fascicularis), rusa (Cervus Rusa timorensis),  merak hijau (Pavo muticus), dan kerbau liar (Bubalus bubalis). Ikon Taman Nasional Baluran, yaitu banteng Jawa (Bos javanicus javanicus), saat ini sudah sulit dijumpai, apalagi ketemu dengan macan tutul (Panthera pardus melas). Kalo anjing hutan atau ajag (Cuon alpinus javanicus), kadang masih bisa dijumpai, walau sudah jarang memerlihatkan diri.


Menara Pandang di Pos Batangan

Setelah melaju sekitar 8 kilometer, kita akan masuk ke daerah yang disebut dengan “Evergreen” yang diklaim selalu ditumbuhi pohon dan semak sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Karena penampakannya yang selalu menghijau akibat suburnya tanaman, dibandingkan bagian lain yang biasanya kering/ meranggas saat musim kemarau, tempat tersebut disebut dengan evergreen. Pada malam hari, dengan penamatan yang beruntung kita bisa melihat Banteng dan Macan Tutul di salah satu sumber mata air yang berada dekat dengan jalan.

Kerbau Liar (foto oleh M. Rubini Kertapati)

Pada kilometer ke-11 sampai 13 kita akan menjumpai Sabana Bekol yang sangat luas di sisi kanan. Sabana adalah padang rumput yang dipenuhi oleh semak atau perdu dan diselingi oleh beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar. Di bekol ini juga terdapat Pos/ kantor Taman Nasional, penginapan yang bisa digunakan untuk umum, menara pandang, dan tempat makan. Binatang yang paling banyak bisa dilihat di sabana adalah rusa, macaca, dan burung merak. Pemandangan ke arah gunung baluran bisa tampak dengan jelas dari sabana ini, apalagi jika kita naik ke menara pandangnya. Di menara pandang Bekol ini, kita bisa memandang luasnya Taman Nasional Baluran, dari gunung hutan, sabana, sampai ke arah pantai, bahkan Pulau Bali di seberang selat.

Savana Bekol (foto oleh M. Rubini Kertapati)

Di Bekol, terdapat kubangan lumpur dan sumber air minum yang biasa digunakan oleh berbagai jenis binatang untuk berendam atau minum. Dasar pinter-pinternya pengelola, di dekatnya dibuat instalasi kamuflase yang bisa digunakan para pengamat, khususnya fotografer yang ingin mengabadikan tindaktanduk binatang yang sedang minum atau berendam di sana.

Pantai berpasir putih biasanya menjadi tujuan akhir para wisatawan usai wildlife sepanjang 15 kilometer jalur jalan Batangan – Pantai Bama. Berbagai fasilitas melengkapi Bama, baik sebagai tempat rekreasi maupun kantor konservasi. Sangat mudah menemui macaca di sana, karena mereka juga biasa berseliweran layaknya manusia. Namun kita perlu hati-hati dengan kondisi yang sepertinya adem ayem ini, sebab mereka sangat sensitif terhadap makanan, dan punya nafsu besar untuk merebutnya dari tangan pengunjung. Jika ada pengunjung yang (terlihat seperti) membawa makanan, maka berarti sebenar lagi akan terjadi perampasan aset.

Macaca di Pantai Bama

Bibir pantai Bama membentang sekitar 1 kilometer sampai arah muara Kalitopo yang membentuk laguna saat surut. Kita bisa berjalan-jalan, kadang di pasir pantai, namun sesekali perlu menerobos kerumunan tanaman. Mau mandi di pantai, boleh juga, yang penting hati-hati terhadap batu karang yang mendasari pantai itu, juga terhadap ombak Selat Bali. 

Bersebelahan dengan Pantai Bama, kita bisa masuk ke hutan mangrove yang ditembus dengan jalur jalan panggung sampai ke pantai. Rumpunnya gedhe-gedhe lho, menarik untuk difoto, tetapi harus hati-hati jika mau petakilan di antaranya.



Gerbang masuk Dermaga Mangrove; abaikan saja modelnya, he he he...

Cuplikan keelokan Taman Nasional tadi merupakan jalur eksisting yang sudah populer bagi wisatawan saat menikmati kunjungan ke Baluran. Namun ternyata, Baluran masih menyimpan potensi jalur pesisir yang asyik. Kami sudah membuktikannya saat eksplorasi hari ketiga, yang lantas disebut dengan Geotrek Kakapa.

Geotrek Kakapa

Pagi itu, rombongan dibagi 2 moda; darat dan laut. Saya dan Kang Bibin kebetulan dapat moda laut sehingga berangkat menggunakan perahu nelayan dari pelabuhan Ketapang Sijile; Karang Tekok. Sebagian besar lainnya menggunakan sepeda motor untuk menelusuri pantai Baluran. Pertemuan pertama kedua  tim dilakukan di Pantai Sijile, dan yang kedua di Pantai Balanan.

Ternyata asyik lho, menikmati Gunung Baluran dari arah laut yang pagi itu dihembusi angin sedang. Hutan pantai serta hutan dataran tinggi tampak menghijau, serasi dengan birunya air laut; menjadikan Kang Bibin kalap untuk sebentar-sebentar menjepretkan tustelnya. Hari yang cerah mendukung kami untuk menikmati perjalanan laut selama sekitar 30 menit itu untuk bertemu tim darat di Pantai Sijile.

Menikmati Gunung Baluran dari laut

Pantai yang berada di pesisir utara Taman Nasional dan berbatasan dengan Selat Madura. Ini berpemandangan indah memerlihatkan laguna dengan latar belakang Gunung Baluran, atau laut lepas. Karena pantainya berpasir landai, maka kita bisa berenang di sana dengan nyaman. Kegiatan snorkling dan berkayak juga asyik dilakukan di pantai yang pencapaiannya bisa menggunakan sepeda motor melalui Pos Watu Numpuk, seperti yang tim “darat” lakukan dengan sepeda motor. Dalam setengah jam koordinasi, serta ngopi, tim darat menceritakan betapa menarik gugusan batu-batu di daerah Watu Numpuk yang mereka lewati.

Eksplorasi kami lanjutkan kembali, Mas Eko dari tim darat berpindah naik perahu kini. Pertemuan selanjutnya terjadi di Kampung Merak yang dikenal dengan keberadaan ribuan sapi. Perkampungan yang sudah ada sejak sebelum penetapan kawasan menjadi Taman Nasional ini sampai saat ini menyimpan dilema. Mestinya kawasan di dalam Taman Nasional itu steril dari pemukiman, namun toh keberadaan penduduk di sana masih ada saja. Ceritanya panjang mengapa hal hal problematik tersebut masih terjadi sampai saat ini, kita tidak akan cerita di sini. Siang itu rumah-rumah di Kampung Merak sepi, barangkali penghuninya sedang pergi ke ladang atau sawah. Nah ini juga bagian dari problematika juga karena kok bisa-bisanya di dalam taman nasional ada Sawah/ ladang.

Pawai Sapi di Kampung Merak

Eksplorasi via peraian berakhir di sini, karena kami semua lalu menggunakan jalur darat menuju Pos Balanan. Jalur yang kami lalui kadang menembus hutan pantai, kerumunan mangrove, ladang, pemukiman, bebatuan yang terserak di padang, lereng gunung, bibir pantai, juga sabana mini. Sebagian besar jalur cenderung landai, namun di beberapa lereng menjadi curam sehingga perlu ekstra hati-hati dalam mengendarai sepeda motor. Pemandangan menarik kerap tertemui, termasuk perjumpaan dengan beberapa sapi di pinggir jalan.

Hai sapiiii...

Balanan merupakan nama pemukiman tempat salah satu resor/ pos kantor Taman Nasional. Keseruan balanan adalah habitat hutan mangrove yang lebat. Untuk menuju ke sana, kita bisa menggunakan sepeda motor, atau perahu dengan jarak sekitar 21 kilometer dari Desa Karang Tekok.

Mangrove di Balanan

Bersisian dengan Balanan, kita bisa menikmati Pantai dan Pulau Kakapa yang berpasir putih dan relatif bersih serta sepi. Kegiatan snorkling dan kayaking juga bisa dilakukan di sini. Tebing di kakapa menghasilkan bukit yang curam dari sisi pantai. Wisatawan bisa mencapainya dari Balanan dengan treking sepanjang 3 kilometer, baik dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor. Bukit kakapa berasal dari patahan laut yang lalu terangkat karena proses geologi, hal tersebut membuat kita bisa menemukan fosil atau kulit kerang di permukaan atau bawah tanah permukaan. Pandangan dari atas bukit Kakapa sungguh indah, terutama jika melihat laut lepas.

Pulau Kakapa dilihat dari Bukit Kakapa

Sabana "batu"

Saat perjalanan pulang, dari Kampung Merak kami mengambil jalan lain melalui jalur pemeliharaan yang biaanya dilalui oleh para polisi hutan. Jalanan dipenuhi bebatuan membuat laju sepeda motor kami kadang tersendat melambat sambil melompat-lompat kecil. Tunas-tunas akasia dan perdu yang berada persis di pinggir jalan setapak tak terhitung lagi membelai betis, bahkan kadang tubuh kami, rasanya… hmmm… pedas; maklum namanya juga tersabet pohon, apalagi jika berduri. Sabana yang luas justru dipenuhi batu, sehingga saya menyebutnya sebagai hamparan batu yang diselingi rumput dan pohon. Perjalanan sekitar setengah jam melalui jalan berbatu menembus debu akhirnya membawa kami sampai di jalan besar Situbondo-Banyuwangi, di dekat Pos Karang Tekok.

Satu lagi obyek menarik yang bisa kita nikmati adalah Waduk Bajul Mati. Instalasi waduk memang terletak di kawasan Taman Nasional Baluran, namun pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Akses yang sangat mudah, hanya sekitar 1 kilometer langsung dari Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi, menjadikan area ini juga cocok menjadi tempat istirahat bagi pengendara mobil jarak jauh. Pemandangan pucuk-pucuk bukit, termasuk puncak Gunung Baluran yang dilatardepani air waduk menjadi andalan rekreasi di sana.

Waduk Bajul Mati, Baluran

Tantangan si Banteng

Pada suatu petang, saat kami melintas di jalan hotmik baru yang membelah Taman Nasional baluran, tersua seekor kera, Macaca fascicularis yang tergeletak di tepi jalan. Di sudah tewas dengan kepala berdarah, kemungkinan besar ditabrak oleh kendaraan yang melintas di jalan itu. Sungguh ironis, seekor binatang mati tertabrak kendaraan, justru di tempat dia seharusnya terlindung, pun negara sudah memberikan payung hukumnya melalui undang-undang.

Malam harinya, peristiwa “ironis” tersebut kami obrolkan. Terkuak fakta bahwa jalan hotmix mulus yang membelah Taman Nasional tersebut itu baru saja dibuat, menutupi bebatuan yang sebelumnya menjadi pelapis jalan. Dulu, kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor tidak bisa melaju dengan kencang, namun kini kecepatannya bisa menjadi 2-4 kali lipat lebih cepat. Dulu, jalanan batu menyisakan genangan usai ujan, tempat kupu-kupu beterbangan di sekitarnya; indah sekali.

Jalan Hotmix nan mulus menuju "Cafe Baluran" (foto oleh M. Rubini Kertapati)

Analisis yang kami simpulkan, si  kera malang tadi, mewakili para kera lainnya, belum bisa beradaptasi bahwa kendaraan yang dulu dipastikan berjalan lambat di jalan itu, sekarang sudah bisa ngebut. Jika dulu dia berada di tengah jalan, dan bisa menghindari kendaraan dalam waktu tertentu, kini dengan waktu yang sama dia rupanya ketemu naas; kendaraan lebih cepat menabrak dirinya.

Kenapa kera itu sampai tertabrak? Dugaan kami karena kebiasaan dia untuk berdiri di pinggir jalan atau menghadang pengunjung untuk berharap mendapat makanan. Secara aturan, pengunjung Taman Nasional tidak boleh memberi makan pada hewan yang ada di dalamnya, karena itu tidak sesuai dengan kebiasaan aslinya untuk mencari makan di hutan. Namun toh pengunjung kadang dalam ketidaktahuannya, dengan alasan kasihan justru berniat memberi makan hewan-hewan di dalam Taman Nasional. Sungguh sesuatu yang pada akhirnya bisa merugikan semua pihak.

Melanjutkan dugaan kami, pengaspalan jalan dalam Taman Nasional mungkin karena ada pihak yang ingin “memanjakan” pengunjung, dalam hal ini wisatawan. Asumsinya, makin mulus jalan di dalam Taman Nasional Baluran, maka akan makin makin banyak mengundang wisatawan. Memang di satu sisi pasti akan ada peningkatan nilai tiket masuk, tapi di sisi konservasi, sudah tepatkah kebijakan yang menyebabkan orang lebih mudah masuk dan berekreasi di Taman Nasional?

Memang saat ini Taman Nasional Baluran sedang melakukan pembangunan, seperti tersua dalam berita di https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5108054/tn-baluran-situbondo-akan-bangun-rest-area-berkelas-internasional

Saat kami survey, ada restoran yang sedang dibangun persis di tepi sabana Bekol; kalau tidak salah, salah satu menunya adalah hamburger, iya hamburger.

Saat kami mengunjungi Batu Hitam, sudah tersua pula patok-patok proyek tempat bangunan akan didirikan di tempat yang sebelumnya terpencil dan menjadi lintasan hewan-hewan endemik.

Truk proyek dan patok resort di puncak Kalitopo nan indah
Pantai Sijile

Pun di Pantai sijile, landainya pasir sudah dipatok beton calon proyek resort.

Berbagai pembangunan di dalam Taman Nasional tentu sudah melalui perijinan oleh negara. Apakah kajiannya memang betul-betul menunjang ketercapaian tujuan Taman Nasional sesuai undang-undang? Saya juga nggak tahu. Apakah memertimbangkan visi dan misi Taman Nasional baluran? ya tambah nggak tahu saya. Oh ya, saya cantumkan saja sekalian visi dan misi Taman Nasional Baluran

Visi: Mengembalikan kondisi satwa dan habitatnya seperti pada kondisi awal tahun 1960-an

Misi:

  1. Melakukan pengelolaan satwa dan habitatnya secara efektif, efisien dan lestari guna mengembalikan kondisi satwa dan habitatnya seperti pada kondisi awal Tahun 1960-an.
  2. Melakukan pengelolaan wisata alam pengembangan ekowisata dan wisata minat khusus untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan pendapatan negara.
Hmmm.... 

Pantai Kalitopo

Semoga berbagai kebijakan yang diobyekkan pada Taman Nasional Baluran memang bisa Mengembalikan kondisi satwa dan habitatnya seperti pada kondisi awal tahun 1960-an; bukan malah secara langsung atau tidak langsung merusak bahkan meniadakan habitat satwa endemiknya. Jangan sampai Baluran menjadi sasaran konsumsi pariwisata massal, namun justru para Banteng entah hilang ke mana.


Jangan sampai aku punah ya...

 

 


Share:

Bule di Ketambe

Perjalanan sekitar 8 jam dari Kota Medan akhirnya membawa kami sampai di tanah Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Sebelumnya, kami sempatkan singgah di Restoran Garuda Sibolangit untuk makan siang dengan hidangan melayu yang lezat. Perhentian kedua untuk makan malam kami lakukan di Kota Kotacane yang juga merupakan Ibu Kota Kabupaten Aceh Tenggara. Separuh perjalanan kami tempuh dalam hujan dan gerimis, yang menjadi ciri khas rimba di Taman Nasional Gunung Leuser. Dibalut kelelahan, kami segera menyambut kamar di “Ketambe” Gusthouse untuk mandi dan segera beranjak ke peraduan. Keindahan alam Ketambe hanya kami lihat samar-samar karena masih berkerudung gelap malam dan tirai gerimis. Ditingkahi suara-suara hewan dari hutan, kamipun terlelap sampai pagi menjelang.

Hawa pegunungan yang sejuk-dingin membangunkanku dari tidur nyenyak. Begitu jendela kamar kusingkap, langsung terlihat hijau hutan rimba yang menjulang di Perbukitan Barisan. Sungguh pemandangan yang indah permai menyapa sejak dari peraduan. Beranjak ke restoran di guesthouse, terjumpai rekan saya, Mas Eko, juga sedang tercenung menikmati suasana. Kami lalu berjalan-jalan keluar kompleks untuk menyesap keelokan alam Ketambe, khususnya yang berpemandangan kabut di sela-sela perbukitan.

Sekembali ke penginapan, bergabung juga Bang Meeng di teras guest house. Dia merupakan fixer kami dalam misi survey penulisan buku Pola Perjalanan Wisata, khususnya di Taman Nasional. Meeng memesankan minuman kopi guna melengkapi obrolan ringan sembari menikmati alam sekitar yang sungguh asri.

Tak disangka, seorang Noni Belanda keluar dari dapur restoran mengantarkan pesanan kopi kami. Saya heran saja, melihat seorang bule cantik mengenakan jilbab, pagi-pagi sudah nongol melayani kami. ia saja. Usut punya usut, bule yang minta dipanggil dengan nama Dewi ternyata dipersunting oleh pemilik “Ketambe” Guest House. Diapun dengan bangga menyebut dirinya sebagai wanita Gayo; Ya, benar, bukan Aceh. Hmm… sungguh kejutan bisa menyaksikan seorang wanita “bule” yang dengan kesadarannya mau menjadi bagian dari keluarga Gayo.

Noni Dewi dan Bang Iwan
foto oleh M. Rubini Kertapati
Omong-omong tentang “bule,” pada tahun 80an, Ketambe menjadi salah satu tujuan wisata konservasi yang dikunjungi seribuan turis asing tiap tahunnya. Hal itu tak lepas dari pendirian stasiun riset orangutan sumatera pertama di dunia pada tahun 1971 di Ketambe. Ternyata animo para bule: untuk melihat orangutan langsung di habitat aslinya membawa berkah bagi masyarakat Ketambe yang lalu bersibuk memersiapkan berbagai sarana akomodasi berupa penginapan/ guest house, restoran dan sejenisnya. Bahkan, pada Tahun 2016, aktor pemeran Jack Dawson dalam film Titanic yang memenangkan Piala Oskar, Leonardo DiCaprio, mengunjungi juga stasiun riset ini sebagai bagian dari kepeduliannya melestarikan satwa endemik, khususnya di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Selain sebagai titik utama penelitian orangutan, faktor lain kemeriahan Ketambe adalah keberadaan Sungai Alas yang merupakan sungai terpanjang di Aceh. Sungai ini menjadi favorit bagi atlet maupun penikmat olahraga arung jeram karena karakter sungai dan keindahan alam di tepiannya. Boleh dibilang, ini adalah sungai terbaik di Indonesia yang menyajikan suasana arung jeram terasyik, baik dari sisi panjang lintasan, karakter jeram, keindahan alam yang sebagian besar melalui TN Gunung Leuser, maupun keramahan masyarakat Gayo dan Alas di tepiannya. Berbagai kejuaraan, bahkan sampai tingkat internasional pernah diadakan di sungai ini, dengan Ketambe sebagai pusatnya. Hal ini juga yang membuat Ketambe pada musim kejuaraan arung jeram dihiasi juga dengan bule-bule atlet arung jeram. Dengan berbagai latar belakang tadi, maka kami tak lagi heran bahwa lalu ada bule yang jatuh hati dengan penduduk Ketambe, untuk lalu berkeluarga dan dengan senang hati menetap di sana. Noni Dewi yang menghidangkan kopi ini salah satunya.

Amboy, bangun tidur langsung menjumpai pemandangan seperti ini dari jendela "Ketambe" guest house

Pohon yang gondrong jurainya menyambut tamu sebelum masuk guest house


Nikmat lontong sayur yang tak kuasa ditolak

Usai mandi dan santap sarapan lontong sayur yang nikmat, kami berlima sebagai tim penyusun buku wisata sudah siap menjelajah ketambe. Bergabung pula 3 orang pemandu yang akan menemani perjalanan kami hari itu. Tak sabar rasanya mengeksplorasi keseruan Ketambe yang kisahnya sudah sekilas kami cecap.

Rencananya, kami akan mengunjungi Stasiun Riset rangutan yang hanya bisa dicapai dengan naik perahu; namun karena pagi itu arus sungai masih deras dan terlalu bahaya untuk diseberangi, maka kami lanjut dahulu menuju Hutan Lawe Gurah. Setelah berkendara sekitar 15 menit melalui jalan mendaki yang menembus Hutan Taman Nasional Gunung Leuser sampailah kami di bibir pintu masuk treking hutan. Ada banyak pilihan eksplorasi yang ditawarkan di lokasi yang  merupakan bagian dari resor Lawe Gurah, Seksi Pengelolaan TN Gunung Leuser wilayah IV Badar, Bidang Pengelolaan TN Wilayah II Kutacane ini, misalnya:

  • Treking masuk ke rimba untuk mengamati ekosistem dan siapa tahu melihat orangutan di habitat aslinya,
  • Menikmati air terjun di sungai Gurah,
  • Menikmati sumber air panas,
  • Treking di seputar bungalow,
  • Camping,
  • Main arung jeram di sungai Alas, namun tentunya perlu persiapan sehari sebelumnya, atau
  • Sekedar santai menikmati keindahan alam tepian Sungai Alas.

Pilihan pertama kami adalah menikmati hutan hujan tropis seperti tagline TNGL. Melalui jalan setapak, rombongan masuk ke hutan yang dipenuhi pohon-pohon besar nan tinggi. Masa pandemi selama lebih dari 6 bulan membuat jalur treking yang dulu minimal seminggu 2 kali dilalui pengunjung atau wisatawan,kebanyakan bule, kini menjadi lebih rimbun alami. Di beberapa tempat, jalur sudah ditumbuhi aneka perdu kembali, sehingga pemandu kami perlu menebaskan parang tajamnya untuk membersihkan jalur.

Ketemu batang tumbang? sudah jamak

Saya betul-betul menyesapi suasana sepi ketika masuk hutan ini dengan sesekali pandangan mata mengarah ke atas; sambil menyipitkan mata mencoba melihat barangkali terlihat orangutan yang sedang bergelantungan di pucuk-pucuk pohon. Sayang sekali sudah 1 jam kami berjalan, tak tersua batang hidung orangutan. Justru yang kami jumpai  adalah sebatang pohon rambung raksasa (Ficus). Tidak sekedar besar dan tinggi, sehingga saya sebut itu pohon raksasa, namun yang unik pohon tersebut membentuk celah setinggi kurang lebih 5 meter dan ada rongga-rongga di bagian bawahnya. Saya melongok ke dalam beberapa rongga itu dan terlihatlah seakan-akan ada api yang memancar dari dalam pohon, padahal itu adalah refleksi sinar matahari yang menembus lebat hutan dan kebetulan sekali masuk ke celah-celah batang pohon tersebut. Wow, kereeennn… Kami berhenti untuk beristirahat di situ sambil tak lupa jepret sana jepret sini mengabadikan eksotika pohon tersebut. Puas mengeksplorasi pohon yang luar biasa tersebut kami melanjutkan perjalanan.

Pohon bolong

Menjulang

Kondisi jalan setapak makin tertutup oleh rumpun-rumpun dan rimbunnya perdu, namun tak menyurutkan langkah kami untuk menjelajah hutan di wilayah Lawe Gurah ini. Para pemandu kadang-kadang berhenti untuk melongok ke atas sambil mengeluarkan suara yang katanya mirip dengan suara yang bisa memanggil atau mendekatkan orangutan. Namun toh usaha yang akhirnya saya tiru juga belum membuahkan hasil. Kami hanya menjumpai beberapa sarang orang hutan yang dibangun di atas ketinggian pohon

Selain menjumpai beberapa jenis jamur di jalan setapak, ternyata dalam perjalanan kami ada pengikut setia yang menempel pada kulit kaki dan badan kami, yaitu binatang pacet. Saya heran, bagaimana binatang yang mungil seperti anak cacing itu bisa-bisanya menempel pada kulit kaki kami bahkan bisa menerobos celana atau baju kami. Sebenarnya digigit atau lebih tepatnya dihisap oleh pacet tidak terasa sakit, hanya geli saja ketika tahu bahwa ada binatang yang menempel erat di tubuh kami. Untunglah pacet ini binatang yang tahu diri sehingga ketika dia sudah kenyang menghisap darah, dia akan lepas dengan sendirinya. Namun, kadang ada pacet yang sial karena sebelum dia puas, ketahuan oleh pemilik badan dan kemudian dicabut paksa dari kulit serta dibuang, lebih sial lagi jika ada yang gemas sampai memijitnya.  Para pemandu kami justru santai saja bahkan tertawa melihat kami yang kadang merasa repot memindai dan memencet pacet di sekujur tubuh. Mereka bilang itu adalah oleh-oleh yang lumrah ketika ada manusia yang treking masuk ke hutan, apalagi jalur yang kami lalui sudah berbulan-bulan tidak pernah dirambah akibat pandemi corona.

Jamur yang keren.
foto oleh M. Rubini Kertapati
Di pertengahan perjalanan kami ditawari apakah mau melihat camping ground? air terjun atau air panas melalui hutan tersebut. Kami sebetulnya ingin menengok semua tempat tersebut, namun mengingat bahwa agenda pertama kami mengunjungi Stasiun Penelitian orangutan belum terlaksana, maka kami memutuskan untuk kembali lagi ke posko melalui jalan yang lain.

Akhirnya setelah hampir 2 jam menjelajah hutan hujan tropis di Lawe Gurah-tanpa melihat orangutan- kami kembali ke pos pintu masuk Lawe Gurah. Usai beristirahat sejenak, kami naik kendaraan sekitar 5 menit ke arah bawah untuk masuk pada wilayah Ekowisata Lawe Gurah. Kami kembali berjalan kaki saat mengeksplorasi tempat tersebut. Suasana hutan masih terasa walaupun sudah ada sentuhan penataan di dalamnya. Orangutan belum bisa kami lihat, namun justru tupai dan burung rangkong yang tersua.

Kami beristirahat sejenak di depan paviliun penginapan yang menghadap Sungai Alas. Sepelempar batu darinya, terdapat sebuah Aula serbaguna yang saat itu sedang digunakan untuk pertemuan oleh sekitar 40 orang. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak, lebih mendekat ke arah sungai tempat beberapa fasilitas bangunan yang penunjang kegiatan wisata berada. Setlah menembus hutan dan semak, trsualah tempat makan, pondok-pondok souvenir, camping ground, dan tentu saja tempat bersantai menikmati sungai alas. Jejak sungai Alas sebagai tempat keren berarung jeram tampak pada sebuah gapura dengan baliho bertuliskan ”Alas International Rafting Championship 2019.” Bang Meeng selaku ketua panitia beberapa kejuaraan arung jeram di sana, bercerita dengan antusias betapa lokasi tersebut menjadi ramai dan semarak. Treking kami akhiri dengan makan siang di pendopo Kantor TNGL Resot Lawe Gurah.

Pavilyun penginapan di Ekowisata Ketambe

Menyesap kedamaian Sungai Alas

Tak lama usai makan, bercangkir-cangkir kopi gayo muncul untuk kami sesap kenikmatannya. Sungguh pengalaman yang seru saat keterkenalan kopi dari gayo tak hanya sebatas didengar saja, namun bisa dinikmati justru di daerah asalnya. Lelah yang ditumpas dengan makan siang serta secangkir kopi, angin semilir, serta pemandangan yang indah menyebabkan godaan kantuk melanda, namun toh kami harus bergerak lagi menuju Stasiun Penelitan Ketambe. Maka kamipun beringsut kembali masuk ke mobil untuk menuju tempat penyeberangan yang pagi tadi sempat kami singgahi.

Arus air Sungai Alas yang biasanya jernih  namun kini keruh karena hujan semalam masih tetap deras, walau sedikit lebih menyusut daripada kondisi pagi. Kami menyeberang menggunakan perahu kayu dengan teknik unik. Perahu bisa bergerak bukan karena didayung, melainkan memanfaatkan arus sungai. Ada sling/ tali baja melintang sungai selebar sekitar 80 meter tersebut. Single pulley dan karabiner menempel di bentangan sling tersebut, mengikat 2 utas tali tambang; yang sepanjang 15 meteran terikat kuat pada moncong perahu, sementara yang lebih panjang lagi dipegang pengemudi yang duduk di belakang mengendalikan laju perahu.  Sedikit demi sedikit badan perahu yang sejajar arah aliran air digeser sampai “melawan” arus sehingga perahu bisa beringsut ke tengah sungai. Perahu tidak hanyut karena diikat oleh tambang yang terhubung dengan puley pada sling baja, namun dengan pengendalian yang tepat justru bisa bergerak ke tengah lalu seberang sungai. Namun sebaliknya, pengendalian arah perahu yang tidak tepat menyebabkan badan perahu bisa terlalu melintang dan melawan arus sehingga berpotensi membalikkan perahu kayu.

Cara Leonardo DiCaprio nyebrang ke Stasiun Penelitian Ketambe

Nggaya sejenak

Hmmm… ngeri-ngeri sedap ya, cara menyeberangkan penumpang dengan teknik semacam itu. Mungkin pada 2016 lalu Leonardo DiCaprio juga mengalami perasaan yang sama saat menyeberangi sungai alas ini. Karena kami juga sudah dibekali jaket pelampung, walau agak gimana gitu, akhirnya kami lebih percaya diri saat diseberangkan dalam beberapa trip.

Kami menjumpai beberapa bangunan di Stasiun Penelitian Ketambe ini, ada ruang tamu, kantor tempat informasi, ruang penelitian dan juga kamar-kamar atau pondok tempat tinggal para peneliti. Kebetulan kami bersua dan menyempatkan diri ngobrol dengan beberapa peneliti. Melalui obrolan, saya mendapatkan perspektif baru bahwa ada keseriusan dari lembaga juga para peneliti yang melakukan riset terhadap orang hutan. Tak hanya dalam hitungan minggu, bahkan ada peneliti yang selama berbulan-bulan melakukan penelitian dan tinggal di tempat itu; sungguh sebuah dedikasi yang luar biasa demi melakukan upaya-upaya konservasi khususnya dalam bidang ke orangutanan.

Selepas pulang dari Stasiun Penelitian Ketambe, sisa sore itu kami habiskan untuk meninjau salah satu satu objek wisata baru yaitu Air Terjun Dewisila, singkatan dari Desa Wisata Pancasila, yang baru saja dibuka untuk umum. Letak obyek wisata baru tersebut di desa ketambe serta hanya membutuhkan waktu jalan kaki sekitar 10 menit saja jari jalan. Air terjun yang terdiri dari beberapa aliran yang turun dari tebing curam sekitar 40 M di atas dasar sungai itu, dari jauh suara gemerciknya mengundang orang untuk mendekat. Sungai tempat air terjun mengalir di buat beberapa tanggul yang dijadikan kolam yang direncanakan untuk tempat mandi atau bermain air. Di sana-sini juga disiapkan tempat untuk duduk, berswafoto, serta menikmati air terjun. Puas menikmati air terjun tersebut kami lalu kembali ke guesthouse karena acara eksplorasi hari tersebut sudah selesai. Tak sabar menantikan hari esok untuk arung jeram di Sungai Alas.

Sore ke petang, lalu malam… usai membersihkan diri dan beristirahat, kami disuguhi Mi Aceh oleh Noni Dewi, Bule Ketambe pemilik guesthouse. Guyuran gerimis membuat badan yang seharian bergerak ini sangat mengapresiasi hangat dan lezat Mi Aceh tersebut. Duduk di balkon kamar yang dilingkupi rimbun taman asri, kami bercengkerama menikmati hidangan mi yang di legendaris, langsung di tempat asalnya, Aceh. Beberapa teman pemandu yang sesiang menemani kami lalu bergabung ngobrol, saling berbagi kisah tentang kepariwisataan yang asyik namun kadang ribet jika berurusan dengan kelembagaan.

Salah satu topik obrolan kami misalnya tentang  siapa yang paling diharapkan mengembangkan fasilitas pariwisata di suatu tempat, katakanlah Ketambe. Sungai alas jelas punya kelas internasional untuk urusan arung jeram; selain pemandangannya yang memesona untuk sekedar dinikmati dalam lamunan.  Orangutan di habitat aslinya, ditambah Stasiun Riset membuat reputasi Ketambe makin mendunia. Pendek kata, Ketambe sangat potensial untuk melanjutkan kejayaannya seperti 20an tahun lalu. Namun persoalannya, bagaimana mengurai hal-hal yang saling berkelindan dalam bidang pariwisata ini?

Komplek ekowisata yang siang tadi kami datangi itu status lahannya milik Taman Nasional Gunung Leuser, namun dipercayakan pada pemerintah daerah untuk pengembangan fasilitasnya. Secara alami, di tmpat tersebut kelompok pegiat wisata, olahraga arung jeram, juga masyarakat sekitar mempunyai gerakan untuk menghidupkan ekonomi melalui aktivitas sesuai karakter kelompoknya.  Aneka aktivitas itulah yang idealnya diwadahi dalam suatu ruang, baik dalam wujud dalamruang/ indoor atau luarruang/ outdoor. Para pegiat wisata ini juga bermacam wujudnya; ada yang mengatasnamakan kumpulan pemuda, organisasi pramuwisata/ pemandu wisata, federasi olahraga arung jeram, kelompok sadar wisata, kumpulan pemilik penginapan, atau sekedar pribadi yang punya intensi tertentu terkait pariwisata. Kami mendiskusikan betapa kacau dunia kepariwisataan di suatu tempat/ obyek wisata jika tidak ada koordinasi yang mulus antar berbagai pihak atau lembaga tadi. Obyeknya satu dan sama, sementara kepentingan yang diharapkan oleh tiap pihak yang terkait bisa berbeda-beda tanpa upaya menyinergikan.

Salah satu hal yang dikeluhkan salah seorang penggiat wisata adalah keberadaan sebuah “gundukan” plesteran yang ditata sedemikian rupa membentuk sebuah ampitheater. Denahnya melingkar, dengan area yang mungkin dimaksudkan semacam panggung terbuka dan diseberangnya ada terasering tempat duduk penonton. Namun sayangnya, tempat duduk ampitheater yang dibangun itu justru membelakangi Sungai Alas. Padahal jika orientasi gundukan itu diputar 180 derajat, maka fungsi sebagai tempat pertunjukan masih kena, namun tempat duduk itu juga bisa digunakan untuk aktivitas menikmati sungai, terlebih jika ada kejuaraan arung jeram di sana.

"Ampitheater" di tepi Sungai Alas

Cerita punya cerita, konon hal tersebut terjadi karena pembangunan dilaksanakan secara proyek oleh pemerintah, namun justru tidak melibatkan pihak pegiat wisata yang sebenarnya sudah mengajukan usul penataan disain, dalam bentuk gambar. Hmmm… sebagai seorang Arsitek, saya bisa memahami jika pembangunan dilakukan tanpa perencanaan dan kajian yang matang, minimal tentang aktivitas yang akan diwadahinya, maka bangunan tetap bisa berdiri, namun pemanfaatannya kurang maksimal. Dalam kasus ini, disain yang bagus sudah diajukan langsung oleh penggiat wisata, namun justru dalam pembangunan, disain tersebut diabaikan. Kalau hasilnya lebih asyik sih nggak masalah. Lha kalau yang terjadi justru kontraproduktif, kan sayang….

Ya, kadang di balik serunya kita berwisata, ada banyak hal yang perlu dikolaborasikan oleh pihak atau lembaga terkait, sehingga proses berwisa menjadi menarik dan asyik. Hal-hal tadi tentunya mencakup sisi kebijakan dan pelaksanaan di lapangan.

Malam makin larut, 3 jam tak terasa kami ngobrol ngalor ngidul ditemani hujan. Jika pada awal obrolan kami merencanakan teknis pengarungan (arung jeram) besok, maka di akhir obrolan kami dan tim pemandu arung jeram memutuskan pengarungan di tunda, sebab kondisi hujan menerus berpotensi membuat arus Sungai Alas terlalu deras sehingga beresiko lebih tinggi untuk bermain di sana. Kami agak kecewa dengan kenyataan tersebut, namun toh faktor alam yang jelas ada di luar kendali kita perlu diperhatikan ketika akan melakukan aktivitas wisata di luar ruangan. Akhirnya kami merubah jadwal dengan merencanakan perjalanan ke Kedah di Kabupaten Gayo Luwes, sambil mengeksplorasi keseruan wisata di sepanjang perjalanan.

Sampai jumpa lagi pacet, si kawan dari Leuser

Gerimis tipis menyambut pagi kedua kami di Ketambe. Hal tersebut tidak menyurutkan kami untuk bergegas memersiapkan perjalanan menuju Kedah, tempat pos awal pendakian ke gunung Leuser. Musabab kami akan menginap lagi di Ketambe, maka berpamitanlah kami pada pemilik guesthouse, Bang Andi dan Istrinya, Non Dewi, si Bule Belanda dari Ketambe. Walau tak menemui orangutan di ketambe, namun kami enjoy saja melanjutkan eksplorasi wisata di TNGL. Apakah kami akan bersua orangutan di perhentian berikutnya? Ikuti saja catatan kami berikutnya.

 Brebes, 2 Desember 2020.



Share:

Menulis itu Seperti Membuat Kompos


Menuang aktivator kompos
Minggu ini saya sedang giat membuat kompos. Pada kesempatan ini, saya akan cerita tentang proses pembuatan kompos, yang ternyata, setelah dipikir-pikir, ada kemiripan dengan proses membuat artikel. Di mana miripnya? Segera saja kita nikmati.
Apa itu kompos? Berdasarkan wikipedia, kompos adalah hasil penguraian parsial/ tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organis  yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi  berbagai macam  mikrob dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik  (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikrob-mikrob yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Proses pembuatan kompos dimulai dari perencanaan material, tempat, serta peralatan yang akan digunakan. Dalam satu kesempatan, Saya menyiapkan 3 material organik sebagai bahan utama kompos, yaitu:
  1. 3 karung kotoran hewan kambing,
  2. 2 karung cacahan daun “ekor kucing” (Typha latifolia), dan
  3. 1 karung sekam padi.
Beberapa perlengkapan yang disiapkan antara lain cangkul, sekop tukang/ trowel, ember, pengaduk, dan terpal. Adapun aktivator yang dipilih adalah Pupuk Organik Cair (POC) berbasis mikroorganisme POC merek GITA, serta molase yang terbuat dari tetes tebu. Kompos akan dibuat di suatu bekas kolam ikan terbuat dari pasangan bata dengan ukuran lubang 68x88 cm., kedalaman 48 cm.
Persiapan bahan, alat, dan tempat pembuatan kompos
 Oh ya, sebelum semua bahan tadi tersedia, saya tentu mengupayakan ketersediaannya. Kotoran hewan saya ambil dari kandang kambing yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah, dan diangkut menggunakan sepeda motor. Typha latifolia saya ambil sendiri dari sawah, diangkut dengan gerobak, baru dicacah. Sementara itu, sekam padi saya beli dari tempat penggilingan padi. 
Proses perjuangan mengangkut 3 karung kotoran kambing
Dalam semangat menggelora, saya tuangkan 1 karung kotoran hewan, lalu ditimpa 1 karung cacahan daun ekor kucing, di atasnya sekarung sekam padi, lalu 1 karung kotoran hewan lagi. Saya lalu berusaha membuat 3 material tadi campur baur dengan mengaduknya menggunakan cangkul dan sekop, seperti syarat pembuatan kompos yang baik. Namun ternyata sulit mecampurkan 3 bahan tadi secara merata karena massa material terlalu banyak dan tebal sementara wadahnya kecil. Daripada tidak tercampur merata, saya lalu mengeluarkan lagi sebagian besar kotoran hewan, cacahan 'ekor kucing,' dan sekam tadi. Nah, material yang tersisa di kolam tadi kini lebih mudah saya aduk-aduk menggunakan trowel.
Menuang karung kedua kotoran hewan
Saya lalu melarutkan seperempat liter POC dalam 20an liter air, lalu ditambah 3 sendok makan molase tetes tebu. Setelah saya aduk secara merata, saya siram bahan organik yag sudah tercampur di dalam kolam. Tak cukup dengan sekali siram, setelahnya saya aduk-aduk lagi dengan trowel, lalu sekali lagi saya siram secara merata.
Proses mencampur POC dengan air
Kini sepertiga material organik kedua saya masukkan kolam lagi, ditambah setengah karung kotoran hewan, lalu diaduk, disiram campuran air dan POC dan molase, diaduk, lalu disirami lagi. Dalam proses ini, saya membuat lagi larutan air dan mikroba sebanyak 1 galon. Demikian sampai sepertiga bahan organik terakhir saya masukkan ditambah 1 karung kotoran hewan lagi, diaduk, disiram, dan diaduk lagi.
Mengaduk-aduk semua material pembuat kompos supaya tercampur merata
Proses pencampuran bahan organik, aktivator, dan molase usai, menyisakan 1 karung cacahan tanaman “ekor kucing” yang ternyata tidak muat lagi dimasukkan dalam kolam. Saya lalu menutup kolam dengan terpal yang tepi-tepinya diperberat dengan kayu. Apakah proses pembuatan kompos sudah selesai? O, belum karena saya harus menunggu minimal 2 minggu lagi supaya terjadi proses fermentasi antara material organik dan aktivator kompos tadi. Tanda proses pengomposan berjalan baik adalah adanya kenaikan suhu dalam campuran tadi. Sampai tulisan ini dibuat, proses masih berlangsung dengan secara berkala saya meraba bagian atas tepal yang memang menjadi hangat, tandi di dalam kolam sedang terjadi pengomposan. Konon teorinya, setelah suhu menjadi normal lagi, maka kompos sudah jadi, namun perlu diangin-anginkan lebih dahulu sebelum bisa digunakan.
Nah, cerita tentang pembuatan kompos sudah selesai, kini saya akan menanalogikan tentang proses penulisan yang sebenarnya serupa dengan membuat kompos.
Tempat bersemayam material pembuatan kompos yang sudah ditutup terpal
Sama seperti saat mau membuat kompos, untuk membuat sebuah artikel, kita perlu NIAT, iya, niat itu bukan sekedar semangat memulai, tetapi kehendak kuat untuk menyelesaikannya. Hayooo… kita sudah niat belum untuk menulis artikel? Tentu ada bahan-bahan utama pembuat kompos yang perlu disiapkan (kotoran hewan, sampah organik, dan sekam), sama halnya untuk membuat tulisan tentu kita perlu juga data-data atau informasi yang akan diolah menjadi tulisan. Bahan tulisan bisa berupa “data primer” atau “data sekunder” yang mungkin belum semuanya lengkap sehingga perlu diupayakan penggenapannya. Kita perlu mengupayakan data-data tadi terpenuhi supaya penyajian tulisan bisa kontekstual. Sama halnya ketika saya harus mengambil kotoran hewan dari kandang kambing, lalu mengangkutnya menggunakan motor, maka kita juga perlu memerjuangkan urusan pelengkapan data, paling sederhana ya dengan riset atau membaca literatur.
Kerja keras mengumpulkan tahi kambing,
sama halnya dengan kita bekerja keras menyiapkan data-data untuk artikel.
Paragraf kedua artikel ini, saya isi dengan data sekunder tentang pengertian kompos yang saya cuplik dari wikipedia. Kenapa? Karena saya ingin menghadirkan definisi “Kompos” dan “pengomposan” yang kredibel, daripada saya sekedar mengira-ira. Kalau sudah ada data yang valid, kenapa tidak kita gunakan selam mencantumkan sumbernya? Dalam hal menulis, konteks yang sama juga terjadi. Kita mungkin sudah biasa atau familier menggunakan atau menggeluti “sesuatu,” namun tidak/ belum pernah melakukan pendefinisian yang tepat. Maka demi bisa mendapatkan kualitas penulisan yang bernas, kita bisa mencari data sekunder untuk menutupi kekurangan kita tadi tersebut.
Salah satu contoh praktis lain adalah perkara tanaman “Ekor Kucing” yang sudah saya sebut dalam proses pembuatan kompos menjadi sampah organik yang dicacah-cacah. Saya sudah sering melakukan pencacahan “sesuatu” tersebut, namun baru tahu nama populernya, termasuk nama latinnya (Typha latifolia) ya satu jam terakhir setelah saya “googling” di internet. Ada kebutuhan dalam proses penulisan untuk menyajikan data (nama) yang lebih pasti tentang apa yang saya lakukan, maka jika saya tidak punya informasi tentangnya, ya konsekuensi logisnya adalah riset. Maka, yuk kita daftar dahulu, apa sih data-data yang kita perlukan untuk melengkapi tulisan, jika belum lengkap ya dicari dong.
Tanaman ekor kucing (Typha latifolia)
Ada “godaan” saat saya ingin menjelaskan tentang kompos secara lebih lanjut, misalnya menjelaskan tentang manfaat kompos. Kan keren tuh, bikin tulisan dengan referensi yang lengkap, apalagi kelihatan ilmiah (walau dikutip dari sumber lain). Namun saya akhirnya saya menampik godaan tersebut terkait konteks tujuan saya menulis artikel ini, yaitu hendak menjelaskan kesamaan proses membuat kompos dengan proses menulis. Karenanya saya membatasi menyajikan data yang relevan saja, yang benar-benar menunjang pembahasan. Toh, ada lebih banyak artikel lain yang lebih detil menjelaskan tentang serba-serbi pengomposan yang bisa diakses pembaca yang memang tujuannya ingin memerdalam perihal kompos; bukan dengan membaca artikel ini.
Saat mengawali proses penulisan, apakah semua data yang sudah kita miliki harus masuk dalam artikel? Tentunya tidak. Dalam cerita membuat kompos, saya sudah menyiapkan 2 karung cacahan tanaman “ekor kucing,” namun ternyata yang digunakan hanya 1 karung saja. Saya menyiapkan juga 3 karung kotoran hewan, namun saya ternyata perlu menambah setengah karung lagi. Kenapa hal tersebut terjadi? Karena tenyata sebanyak itulah material yang saya perlukan supaya pas memenuhi wadah tempat pengomposan. Hal ini mirip dengan proses menulis artikel yang tentunya baik jika kita sudah mempunyai banyak data sebelum penulisan dimulai. Ada suatu seni ketika ide demi ide mulai mengalir dan tertuang dalam tulisan. Selama masih sesuai konteks, sangat jamak terjadi variasi rencana pengolahan berbagai data tadi, termasuk untuk menambah atau sebaliknya tidak menggunakannya. Jadi, yuk kita niati untuk mencari data yg memang urgen, namun juga iklas jika ada data yang kurang menunjang konteks lalu tidak kita gunakan. 

Proses penghangusan sekam padi yang saya lakukan sebelumnya,
namun toh dengan pertimbangan tertentu, hasilnya tidak saya gunakan untuk membuat kompos
Proses pengomposan yang baik mensyaratkan semua material pembentuknya dicampur secara merata, hal yang pada awalnya sulit saya lakukan sebab ingin semuanya bisa instan dan cepat. Saya pikir, dengan menuang semua material, akan mempermudah proses pencampurannya; ternyata malah susah sampai akhirnya saya harus membongkarnya dan mengaduknya bertahap. Sama dengan proses menulis artikel, kita perlu mengolah aneka data itu secara integral kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Jangan harap kita bisa menumpukkan semua data dan bisa mengolahnya sekaligus secara efektif, terus mengklaim bahwa pesan kita sudah tersampaikan. 
Salah satu kontrol penulisan artikel adalah tata tertib penulisan artikel, misalnya terkait jumlah kata. Pada awal penulisan, saya membatasi dan menyadari, hanya akan menulis sebanyak 1.000 - 1.500 kata saja. Kontrol ini membantu saya untuk bisa lebih selektif memilah dan memilih data/ informasi apa yang perlu dibahas dalam artikel. Kehebatan artikel itu bukanlah karena panjang dan bertele-telenya bahasan, tetapi bisa menjelaskan sesuatu secara efektif dan efisien sesuai tujuan penulisannya. Bagaimana jika kita punya banyak (sekali) ide/ gagasan yang mau dituliskan? Hmmm... jangan-jangan yang kita perlukan itu membuat buku, bukan sekedar artikel. Nah, kalau konteksnya membuat buku, tentu ceritanya akan beda lagi; termasuk permisalan dalam pembuatan komposnya.
Berikut ini foto contoh proses lain yang pernah saya alami dalam urusan pembuatan kompos dengan skala lebih besar, yang bisa diibaratkan dalam hal penulisan dengan "wadah" yang lebih besar dan kompleks.
Mengangkut salah satu material organik batang pisang dengan mobil.

Proses pencacahan material kompos di sawah

Proses penyebaran bahan pembentuk kompos yang telah dicampur, langsung di sawah
Semoga 3 foto di atas bisa memberi gambaran lebih lanjut bahwa walau konteks pembuatan kompos atau penulisan beda, namun prinsip dasarnya sama. Tetap perlu bahan/ data, pencampuran, serta  proses fermentasi.

Saya berpikir artikel ini akan lebih efektif diserap kemanfaatannya jika dilengkapi dengan foto pendukung, maka saya sengaja minta difotokan oleh anggota keluarga dalam beberapa tahap proses pembuatan kompos. Diniati, iya, saya memang niat membuat artikel ini, walau temanya sederhana “membandingkan pembuatan kompos dengan penulisan artikel,” namun jika bisa dibuat dengan maksimal itu membuat saya puas dengan harapan pembaca bisa menyerap sebanyak mungkin gagasannya.
Kini saatnya saya menutup artikel ini dengan menyimpulkan bahwa ada kemiripan proses antara saat kita menulis artikel, dengan proses pembuatan kompos. Dimulai dengan niat untuk memulai dan kehendak untuk menuntaskannya, maka proses perlu dilakukan dengan cerdas. Konteks penulisan tetap menjadi pegangan penulisan artikel terutama dalam upaya mimilah dan memilih data.  Tentu diperlukan perjuangan untuk menghasilkan artikel yang singkat, padat, namun informatif.

Selamat membuat kompos, eh, selamat menulis artikel.


Agustinus Susanta
Brebes, 5 Agustus 2020

Catatan: jumlah kata dalam artikel ini jadi 1.600 kata (dari target 1.000-1500 kata) di luar keterangan foto, lebih banyak 100 kata dari kuota maksimal, he he he…


Share: