Yuk membelajarkan diri melalui pengalaman asyik Outbound/ penjelajahan asyik.


Experiential Learning yang Perlu Kamu Tulis (2/2)

----- lanjutan dari sepakterjang pertama ----

Pos IV

POS IV saya buat pada  1 April 2020 dengan personil 8 mentee yang berhasil menyelesaikan permainan di Pos III. Ke mana yang 6 mentee lain dari Pos III? Ya… karena mereka memilih jalan untuk tidak melanjutkan proses dengan cara tidak membuat artikel, ya tidak saya undang di Pos IV lah.
Pos IV diawali dengan kondisi yang kurang ideal karena:
  • Molor 3 hari dari waktu yang saya rencanakan,
  • Belum semua artikel saya komentari, terutama yang baru pada ngumpul,
  • Belum semua artikel terakhir yang masuk melalui revisi (ada beberapa yang sudah mengirim lagi artikel revisi pascakomentar dari mentor),
  • Saya curiga sebagian artikel belum mengalami masa “inkubasi” alias pembiaran selama 1-3 hari oleh penulisnya,
  • 6 teman se Pos III ada yang tidak bisa melanjutkan kebersamaan, mungkin ini bisa menciutkan mental para mentee.

 Namun nggak apa-apa, apapun kondisinya, tetap disyukuri karena dalam proses experiential learning, tahap demi tahap tetap harus dilakoni walau dengan beberapa intervensi atau penyesuaian yang ditolerir. Berdasarkan perenungan akan kondisi tersebut, maka saya langsung “menggeber” mentee dengan beberapa materi selama 2 hari pertama. Materi tanggal 1 Juni 2020 yang berisi tentang: Kalimat, Contoh kesalahan diksi, dan tautan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
Saya tetap memotivasi mentee (yang tinggal 8 dari 17), salah satunya dengan menyatakan, “Semoga semua masih tetap semangat ya, proses kita tinggal 4 hari lagi. Mari kita ingat saat 3 minggu lalu mengisi kuis dan menyatakan mau ikut mentoring sampai tuntas. Jangan kecewakan diri Anda dengan tidak menuntaskan naskah secara layak. Memang bagi sebagian orang, menulis itu (katanya) sulit, ya....... kalo sudah dipikir sulit, ya itulah yang akan terjadi. Namun sejatinya, proses menulis/ membuat artikel itu mencerminkan cara kita berpikir kok. Melalui tulisan yg kita buat, kita bisa bercermin apakah kita orang yang (sangat) praktis, muter-muter, rumit, teratur, susah dipahami, terstruktur, konseptual, dsb...” 
Gimana Pembaca, apakah cukup memotivasi? Entah karena terharu atau tertekan, besoknya ada seorang mentee yang lalu berkomentar, “Baru dah baca petunjuk dari mentor dengan teliti... Benar2 daging nih info nya... Saya baru menyadari ada materi menulis yang bagus seperti ini...👍👍” diikuti dengan kewaspadaan, “Benar gk mas,,, kalimatnya?”

3 Juni 2020, kegiatan mentoring diisi dengan materi “paragraf.” Kelak, 2 pelajaran bahasa di Pos IV tersebut dan dijuduli “MENGATA-NGATAI ARTIKEL,” saya muat ulang pada tanggal 5 Juni 2020 di sini ya
Kami mendapat kesukacitaan karena pada tanggal 2, dan 3 Juni, ada 2 orang mentee yang bergabung ke Pos IV ini, ditandai dengan diam-diam 2 orang tadi kirim artikel langsung ke saya. Lha mau kirim ke mana lagi? Saya sudah tidak di Pos III lagi, di Pos IV merekapun tidak ada. Ucapan selamat datang mengalir pada mereka berdua yang akhirnya ikut bergabung melanjutkan perjalanan mentoring. Salah seorang mentee lama berinisiatif mengirimkan kembali di Pos IV, materi-materi yang pernah saya sampaikan di sana. Terharu juga saya dengan solidaritas para mentee ini. Kini 10 orang peserta mentoring siap melanjutkan permainan yang lebih seru.
SANGKO; Permainan di Pos IV

3 Juni 2020 Permainan Pos IV digelar usai materi “paragraf” diposkan dalam grup.
Permainan ini bernama SANGKO, alias Saling Komentar.
Untuk itu, tiap peserta bisa segera mengirimkan kembali artikelnya ke Pos IV ini, baik yang sudah pernah dikirim terakhir di Pos III, atau yang sudah diedit/ revisi kembali; intinya produk terbaru lah.
Komentator boleh nagih jika artikel belum dikirim ke Pos IV ini ya.
Setelah artikel yang mau dikomentari muncul, silakan komentator memberi komentar terhadap artikel tersebut khususnya terkait teknis penulisannya ya, yaitu tentang tata bahasa/ kalimat/ paragaraf
Permainan kita mulai sekarang dan akan berakhir pada Hari Sabtu, 6 Juni 2020 pukul 10.10.

Dalam poster permainan, saya cantumkan juga dari 10 orang mentee siapa mengomentari artikel siapa.
Permainan SANGKO berlangsung seru karena tiap mentee saling terkait. Materi si A akan dikomentari si B, sementara dia sendiri akan mengomentari artikel si F. Bagi yang sudah mengisi 3 tahapan tadi akan mengisi lis cek dalam grup WA dalam bentuk ikon sayur, buah ceri, dan buah pisang. Berikut beberapa cuplikan keseruan yang terjadi di Pos IV
  • Mohon dibantu dengan mencoret atau menandai dg warna berbeda untuk tata bahasa/kalimat/paragraf yang butuh diperbaiki
  • Hm.... Demi Allah saya bisa fokus kalo malem kalo siang gini kan jagain kolam renang takut ada yang kelelep
  • Saya momong pagi hari sampai 24.00
  • Utk artikel saya, boleh di ketik langsung pake text merah ya Mas
  • Pak A, artikelku  punyaku gimana?
  • Om B, penulisan yang  kurang  pas atau salah, silahkan coret coret aja, seperti memeriksa skripsi itu lho, 😁. Ditunggu komentarnya.
  • Sudah saya WA Pak C feedback/komentarnya... 2 file: coretan asli (agar sesuai asli dari Pak C) dan hasil feedback nya... terima kasih boleh ikutan komentar di artikelnya😊👍🙏
  • Maaf sebelum nya buat para senior kalau junior ini salah menilai ya ,, 😁😁 Menurut saya secara keseluruhat artikelnya udah joss gandos,, cuman ada beberapa yang  menurut saya kurang pas sebagai pembaca,, " Untuk sub judul menurut saya di besarin sedikit atau di bedakan font nya aja Mas,, karna kelihatan sma dengan deskripsinya "Untuk yang lain aku rasa ga ada kometar,,, Maaf buat para senior klo penilaian saya ada yang  salah atau pun ada yg kurang,,
  • Terimakasih yaa Mas E feedback nya,,,, bisa dipahami gk yaa tujuan tulisan? Rumit gk bahasanya?
  • “Oke Om F... komentar saya, ada kata yang  saya  kurang mengerti dengan  pas... "mesti" apakah artinya pasti atau meski? 😊 btw selain itu ada typo di beberapa kata, lainnya josss gandos👍” lalu dibalas oleh Om F, “Siap Mas Om G, Matur nuwun masukannya. Nanti tak coba goyang gesar geser lagi ben rodo nganu.”

Itu tadi beberapa komentar yang berseliweran di Pos IV. Sengaja saya tampilkan yang pendek-pendek saja, walau yang panjang dan serius juga ada beberapa. Saya sendiri tidak sempat membaca semua komentar para mentee karena ada juga yang proses “Sangko” ini dilakukan langsung oleh komentator dan komentee (ini saya bikin istilah sendiri, kalo peserta mentoring disebut mentee, apakah peserta yang dikomentari disebut dengan komentee?) melalui jalur pribadi, baik email maupun WA. Ah saya juga nggak terlalu memusingkan hal itu walau idealnya apa yang ditulis serta dikomentarkan para mentee merupakan aktivitas yang harus terdeteksi oleh Mentor. Saya memilih menyiapkan materi terakhir dan games pamungkas.
Saya yakin bahwa hasil tidak menodai proses. Artinya apa? Artinya toh di akhir proses saya akan membaca artikel akhir tiap mentee, dari situ saya bisa menakar (selain kompetensi penulis) kompetensi komentatornya. Jika para komentator menjalankan fungsi dengan baik, maka pada akhir proses saya berharap tidak menemukan (terlalu) banyak hal dalam artikel yang perlu diedit/ diperbaiki. Apakah harapan saya akan terwujud? Sabar, tunggu cerita berikutnya ya…
5 april 2020, sehari sebelum “Sangko” berakhir, Saya mengirimkan materi terakhir mentoring yang berjudul  “APA SIH MAUNYA TULISANMU?” yang berisi tentang: Merangkai pengalaman, dan Mengembangkan paragraf. Saya juga berpesan bagaimana para mentee bisa ambil posisi ketika menuliskan artikel tentang experiential learning. Penasaran apa isinya? Silakan bisa langsung meluncur ke sini saja
Penampakan Lis Cek SANGKO dalam satu masa Pos IV

Sabtu 6 Juni 2020 pukul 10.10, sesuai waktu yang ditetapkan untuk menutup permainan “Sangko,” ternyata yang terjadi adalah kebelumsesuaian kegiatan komentar-mengomentari. Baru sebagian yang tuntas artikelnya dikomentari, sekaligus mengomentari artikel lain. “Hmmmfh….. molor lagi deh” begitu dalam hati saya mendesah. Namun ya gimana lagi, inilah seni pendampingan experiential learning; kita harus siap dengan setiap kondisi perkembangan proses, termasuk yang tidak sesuai rencana A. Berbekal adagium “Fasilitator yang keren adalah mereka yang bukan sukses melaksanakan Plan A, tetapi yang bisa mengeksekusi Plan B dengan sama baiknya.” Maka saya hadapi saja kenyataan tersebut dengan senyum… cie, melankolis banget nih mentor. Waktu permainan saya toleransi untuk ditambah lagi; sederhana khan jalan keluarnya, he he he….
Berita duka datang pada tanggal 6 April 2020 sore. Setelah sebelumnya memberitahu saya secara langsung, seorang mentee pamit mengundurkan diri karena ada prioritas kegiatan lain di luar mentoring. Ya, bagaimana lagi selain kami mengikhlaskan kepergiannya dari (grup WA) Pos IV.
Malam hari, saya meniup peluit peringatan pada para mentee di Pos IV, bahwa besok Minggu pukul 08.08 Pos akan ditutup dan mereka masuk pada permainan pamungkas mentoring, alias “Final Challenge”

Final Challenge

Minggu, 7 April 2020, tepat pukul 08.08 saya cek di Pos IV, siapa saja mentee yang (sudah bangun) dan monitor. Ternyata baru sebagian kecil presensinya, hmmmm saya toleransi lagi 1 jam untuk meluncurkan permainan terakhir, tepatnya sampai pukul 09.09 WIB (Eh ada juga lho mentee yang di daerahnya pake WITeng).
Untunglah pada sekitaran pukul 09.09 sebagian besar mentee bisa monitor Pos IV, walau ada yang baru bangun, ada yang baru beres-beres kasur, ada yang abis sarapan, dan ada pula yang baru dapat sinyal; he he he… seru deh. Saya mulai dengan “sedikit” pengantar sambil mengimajinasikan saat-saat dahulu menyampaikan “Final Challenge” pada peserta experiential learning di lapangan/ aula pertemuan.
“Setelah sebulan kita berproses dimulai dari mengikuti sesi seminar online via zoom tentang "Yuk Menuliskan Pengalaman Pendampinganmu." Mengisi quis, seleksi peserta, masuk ke sesi Mentoring dengan beberapa Pos di dalamnya, kini sampailah kita pada penghujung sesi Mentoring ini. Saya ucapkan selamat karena Teman-teman kini sudah berhasil menulis artikel (terbaru) yang berbasis pada pengalaman pendampingan. Kita akan manfaatkan itu lebih jauh guna menginspirasi lebih banyak orang, khususnya teman-teman Fasel lain. Seumumnya program pengembangan tim dalam yang dikemas ala EL, maka setelan aneka kegiatan/ permainan/ penugasan individu dan kelompok kecil. Tahap akhir proses ditandai dengan pryek bersama semua peserta; ada yang menyebutnya dengan proyek akhir, final project, atau final challenge. Ya, apapun sebutannya, dalam tahap tersebut, kelompok besar "ditantang" untuk menyelesaikan sesuatu yang melibatkan potensi dan kontribusi aktif semua anggota tim. Keberhasilan final challenge bukan melulu sekedar ketercapaian target, namun juga bentuk perwujudan soliditas tim setelah menempuh proses. Inisiator kegiatan kita ini adalah DPP AELI melalui bidang Litbang; kebetulan Mas Rangga, salah satu anggota tim kita ada di dalamnya. Saya sendiri hanya ditodong oleh DPP untuk memfasilitasi program ini. Omong-omong, eh, tulis-tulis, adakah yang tahu, kapan AELI berulang tahun?”
Lalu ada mente yang njawab “Tanggal 9 Juni dong
Saya lalu melanjutkan pengantar, ”Ya, tanggal 9 Juni lusa, AELI akan berulang tahun, tepatnya yang ke-13. Final Challenge kita erat terkait dengan momentum Ultah tersebut. Kita akan mempublikasikan artikel tulisan kita sebagai bentuk hadiah Ultah ke-13 AELI. Itulah Final Challenge kita.” Lalu jeng jeng jeng…. Saya poskan poster “Final Challenge” tersebut, tanpa bisa tahu respon / ekspresi para mentee.
Poster Final Project / FC kelas mentoring

“Saya akan menyampaikan beberapa gagasan prinsipnya, selanjutnya nanti silakan bagaimana teman-teman mengeksekusinya, itulah permainan terakhir kita.” Selanjutnya saya menyampaikan beberapa hal terkait penerbitan tersebut, semisal mengenai publikator, format terbitan, isi terbitan, latar belakang, serta usulan tim kreatif penerbit. Saya juga sertakan 3 contoh terbitan yang pernah dibuat AELI 7 tahun sebelumnya, salah satunya diulas di http://catatanpenggiatoutbound.blogspot.com/2013/04/berambut-gondrong-pakaian-dekil-dan.html.
Para mentee antusias menyambut Final Challenge tadi (selanjutnya saya singkat dengan FC saja ya), itu saya simpulkan dari beberapa komentar, semisal:
  • Idenya keren sekali Mas @Agustinus Susanta dan Kak @EL Rangga. Sya mendukung penuh ide ini dan sangat mengijinkan artikel sya di-publish. Tentunya dengan catatan bahwa nanti akan diedit, direvisi, dan diedit lg sama editor naskah agar lbh caem dan asyik.
  • Jika ada pembagian kerja, sya siap menjadi bagian dr tim pencari sponsor.
  • Mantap  👍🏼💪
  • Klo menurut saya jadi 1 Ebook saja : Persembahan spesial 13th AELI + Inspirasi di Masa Pandemi.  Seperti buku yg dikeluarkan pas event Kopdarnas Jogja 2016.
  • Kalo boleh minta posisi sepertinya saya di editor naskah saja. Bisa kerjanya malem soalnya, pas sepi🏽😁
  • Klo disepakati , kita langsung gerak, hari ini : 1. Semua penulis mengirimkan tulisan ke Folder Google Drive. 2. Tim desain dan tata letak mulai membuat desain dasar. 3. Tim Sponsor langsung gerak juga. 4. konsep event soft launching nya. 5. Editor mulai melakukan review semua tulisan.
  • Saya ikut siap support

Saya lalu nama grup Pos IV dan mengganti ikon menjadi tema “The Final Challenge” lengkap dengan posternya. Namun saya juga dengan berat hati mengeluarkan 1 mentee yang tidak menyelesaikan permainan “Sangko.” Jadi secara resmi hanya 8 mentee yang bermain di FC. Tetap Semangat!
Dalam khazanah pedampingan kegiatan experiential learning, inilah saat sebuah kelompok masuk tahap “performing” setelah sebelumnya melalui 3 fase “forming, storming, dan norming.” Ini adalah permainan mereka, tantangan yang harus dicapai, dan harus terpersiapkan hanya dalam waktu 2 hari. Saya membiarkan teman-teman mentee berproses dengan membatasi diri untuk tidak berkomentar. Kecuali ada hal yang langsung ditujukan pada misal, ada yang minta saya jadi editor, dan langsung saya jawab saya bantu jadi asisten editor saja, karena sebaiknya editor dari peserta, apalagi sudah ada yang menyediakan diri.
Karena FC terkait dengan AELI, maka saya minta tolong Mas Rangga untuk memasukkan pula ke grup, beberapa person DPP yang terkait dengan program FC mentoring ini, supaya koordinasi lebih lancar. Ada 4 person DPP yang lalu ikut terlibat dalam FC kami, termasuk Sekretaris Jenderal DPP AELI.
Sore belalu ke malam, diskusi dalam grup FC terus berlangsung simultan, sampai ada inisiatif dari salah satu peserta untuk mengadakan sesi “zoom” guna mendiskusikan FC secara lebih langsung. Ide dadakan ini berlangsung hampir 1,5 jam lamanya sampai menjelang dini hari, diikuti 5 mentee dan 1 mentor. Poin yang kami bahas adalah:
  • Design & Layout Ebook
  • Strategi Sponsorship
  • Usulan penggunaan dana hasil Sponsorship
  • What next Mentoring Menulis?
  • Launching Moment

Tidak perlu saya sampaikan di sini ya apa isi pembahasan tersebut, biarlah itu menjadi kenangan kami saja, he he he… Yang jelas, sebagai mentor, saya bangga terhadap semangat para mentee yang dengan potensi serta inisiatif tabah sekaligus kreatif dalam mengeksekusi FC; zoom dadakan contohnya.
Tabir keseriusan para mentee mengerjakan FC, dibela-belain zoom dadakan malam hari.

Usai berzoomria saya yakin beberapa mentee masih melanjutkan otak atik ini itu urusan FC. Saya sendiri lalu mengedit artikel terpanjang dalam proses mentoring ini. Ya, mengedit secara harafiah; saya pelototi kata demi kalimat demi paragraf sampai 5000an kata dalam belasan lembar halaman. Jika ada yang nurut saya salah, segera dibetulkan. Jika ada kata/ kalimat yang kurang efektif, segera saya efektifkan. Mana yang perlu dihilangkan ya saya coret, mana kata hubung yang diperlukan saya tambahkan. Namanya editor, ya itulah tugasnya. Pada saat itu, ketika besok artikel harus siap terbit, saya tidak bisa sekedar berkomentar bahwa ini keliru, itu kurang efektif, paragraf ini begini dan begitu.
Besoknya, hari Senin, 8 Juni 2020, sehari sebelum kami ngasih kado ultah AELI berupa terbitan antologi artikel, teman-teman mentee terus berproses memersiapkan FC dengan aneka koordinasi, baik sesama mentee, maupun dengan pihak asosiasi. Saya sendiri sebagai asisten “editor kepala,” (begitu sebutan gurauan saya pada mentee yang menyediakan diri jadi editor)  seharian dari pagi sampai malam maraton menyelesaikan proses editing pada 7 artikel. Lho, kok hanya 7 artikel, khan ada 8 penulis, Iya, yang Edior kepala sengaja tidak saya edit, masa tulisan editor kepala diedit oleh asisten editor? he he he…. Namun pada dasarnya saya baca artikelnya sih tidak ada hal signifikan yang mengganggu sehingga perlu perbaikan.
Selain memerbaiki hal-hal yang salah atau kurang efektif, saya ngasih komentar juga pada para penulis untuk menyelesaikan poin-poin yang nurut saya menjadi domain penulis untuk menuntaskannya. Tiap artikel saya edit dalam waktu bervariasi, mulai dari setengah jam sampai 2 jam, tergantung tingkat “keparahan” artikel, terutama dalam urusan penulisan atau kebahasaan. Mengenai urusan tema dan alur, rata-rata sudah bagus. Gimana nggak bagus, kalo sudah sebulan ikut mentoring tetapi urusan alur materi masih jeblok, berarti mentornya yang nggak becus, itu prinsip saya.
“Jika para komentator menjalankan fungsi dengan baik, maka pada akhir proses saya berharap tidak menemukan (terlalu) banyak hal dalam artikel yang perlu diedit/ diperbaiki. Apakah harapan saya akan terwujud?” Masih ingat dengan pertanyaan tersebut? Ternyata jawabnya adalah terwujud sebagian. Saya masih perlu kerja keras dalam hal mengedit artikel, artinya para komentator belum maksimal dalam berkomentar terhadap artikel, atau para penulis yang kurang serius memerbaiki artikel sesuai komentar komentator. Ah, saya tidak tahu persis karena memang tidak mengikuti secara intens tiap komentator; resiko. Namun saya tidak berbagi kegelisahan tersebut dengan para penulis dan komentator, karena saat itu mereka pasti juga sedang kerja keras mengejar tenggat penerbitan karya.
Informasi yang kami terima, pihak DPP AELI akan melangsungkan siaran langsung terkait Ulang Tahunnya, pada hari Selasa 9 Juni 2020, pukul 15.00 – 17.00. Dalam salah satu sesinya, mereka akan memberi kesempatan pada tim penulis untuk presentasi terkait program mentoring, dan lebih penting lagi adalah hasil FC berupa ebook yang dipersembahkan untuk asosiasi. Hal itulah yang membuat kami makin bergairah melakukan koordinasi dalam kesempatan yang makin terbatas. Ada yang sibuk mencari iklan buku yang diistilahkan sebagai donasi, ada yang sibuk bikin format ebook, ada yang mulai bikin materi promosi, sementara secara pribadi ada penulis yang harus membuat revisi artikel berdasar komentar mentor. Artikel yang sudah siap naik cetak harus dikirim kembali ke bagian tataletak dengan mengirim dalam file berbeda tiap foto/ gambar yang menyertainya. Ketika satu proof/ contoh ebook dikirim ke grup, langsung dikomentari, jadinya gini lah, kurang inilah, masih ada salah itu lah, dan sebagainya. Untung mentee bagian layout orangnya cekatan namun sabar sehingga tidak emosian. Dia revisi lagi, dikirim, dan…. Dikomentari lagi. Demikian sampai hari ini 12 Juni 2020, saat saya nulis artikel ini, tampaknya baru kelar ebook kami,. Pokokke seru deh dinamika kami, setidaknya yang tercermin melalui grup WA.
Kampanye pencarian donasi yang digagas para Penulis

Experiential Learning yang Sebaiknya Anda Tahu

9 Juni 2020, tepat pada hari ulang tahun ke-13 AELI, kami di grup “The Final Challenge” makin intens melakukan penyempurnaan ebook, termasuk makin getol nyari iklan.  Sementara itu pagi hari masih ada tercecer 1 artikel yang belum disempurnakan oleh penulisnya, padahal sore sudah mau serah terima. Sambutan dari DPP belum masuk, saya juga ternyata diminta nulis sekapur sirih. Para donatur juga masih diklarifikasi mana yang sudah bayar dan kirim logo perusahaan. Jangan sampailah ada yang sudah kirim donasi, tetapi iklannya tercecer; bahaya itu.
Melalui proses FC, saya juga belajar tentang urusan ebook. Saya pikir membuat ebook itu sekedar merubah tulisan format file “words” menjadi format “pdf,” ya selugu itu pemikiran mentor kegiatan ini, ha ha ha… Ternyata, ada aplikasi khusus untuk merancang pembuatan ebook, yang pembacaannya bisa juga menggunakan berbagai aplikasi “reader,” baru tahu saya. Urusan inilah yang dalam 2 hari terakhir menggemaskan kami. Jadi gini ceritanya. Tim lay-out ebook kan sudah bikin format ebook melalui laptop yang bersangkutan. Saat file sudah jadi, dikirim ke grup lalu dikomentari. Lha, ternyata beda media dan aplikasi baca bisa membedakan tampilan lembar-demi lembar ebooknya lho. Misal, ketika saya buka contoh ebook via handphone dengan aplikasi tertentu, tampilannya beda dengan mente lain yang buka di laptop dengan aplikasi yang sama, apalagi yang beda. Untunglah dalam masa yang makin menciut, kami tetap intens mengoordinasikan kesebelan kolektif kami terkait format ebook. Suatu pengalaman yang seru.
Pukul 15.00 acara Ultah AELI yang dihadiri jajaran pengurus pusat dimulai, serta disiarkan secara langsung via zoom. Acara demi acara berlangsung lancar menuju waktu tim mentoring harus serah terima ebook. Padahal, dalam grup WA, kami masih kedebugan menuntaskan produk FC. Akhirnya beberapa menit sebelum sesi serah terima, usai juga ebook kami. Salah satu penulis mewakili kami menyampaikan presentasi tentang proses mentoring dan penyerahan ebook berjudul “Experiential Learning yang Sebaiknya Anda Tahu” Ada kelegaan yang kami rasakan, sekaligus kebanggaan ketika target FC tercapai. Malam itu kami saling berbagi komentar, sembari tetap mengerjakan beberapa bagian ebook yang ternyata perlu diedit lagi. Berikut ini beberapa komentar yang terlontar:
  • Sukses untuk launching... luar biasa ... kita bersama bisa menyelesaikan. Om @Agus Supriyo  kerennn layout nya Tinggal coach @Agustinus Susanta  mengumumkan kelulusan dan memberikan closing statement di grup ini ya
  • Kereen temen temen dan saya ikut keren, Sayang saya gak bisa gabung di zoom
  • Prosesnya amazing .... EL bangeett
  • Mau ngetik banyak ucapan terimakasih. Tapi meskipun ketik apresiasi sebanyak Profil Bang Rahman, rasanya masih blm  bisa mewakili  rasa senang, rasa Bangga bisa berdinamika bersama orang2 hebat  & pro aktif ini. Ini yg saya bilang high Impact Easiest To Do...Tp saya yakin buat bbrp orang ini gk easy,,, bahkan masih di repotkan hingga malam ini😁😁😅 Besar banget,, harapan saya & juga teman2 semua,, Mentoring Menulis ini  bisa terus berlanjut hingga jadi club'
  • Pesan Coach @Agustinus Susanta , yang paling nyentil saya pas di Pos 3. Tugas saya di Pos 3, sebenarnya belum selesai, baru sampai Bagian Pembuka (4 halaman), lalu, H+1 sejak Pos 3 ditutup, ternyata diajak ke Pos 4 dan terpaksa harus ngebut ngejar ketinggalan , gak nyangka akhirnya bs jadi 24 halaman 😅. Makasih Coach dan semua teman2 yang saling menyemangati. Tema tulisan sendiri, jadi saya terapin langsung di proses menulis ini , masa sih gak bisa nyampe puncak... EL bgt dah
  • Siap ikutan belajar lagi.
  • Saya juga sudah telat 3 hari di pos 3 .... 😅 tapi Alhamdulillah bisa nyusul juga.
  • Alhamdulillah,,, semoga launching awal ini, jadi pemantik bagus. kalau di Design Thinking, start small giving values to customer. Jangan mau nya yang grande/ ide mercusuar, tapi lama kasih value ke customer. Nanti kita lihat, respon/ feedback dari pembaca/pengiklan di ebook... masukan mereka sangat-sangat berarti... Misal, kalo mayoritas suara mengatakan lebih suka dibuat format Android Apps, jadi kapan pun bisa akses di playstore. Klo bosen tinggal uninstall. Atau format Blogger. Ya itu yang  akan kita penuhi...
  • Terimakasih banyak buat teman-teman yang  gercep (gerak cepat)  banget kerjanya di sesi FC,, Karena dibatasi (time box) yaa.😁😅 Terimakasih kesediaan, untuk tidur lebih lama untuk menyiapkan yg terbaik... Menatap laptop lebih lama untuk membantu tim agar mencapai progres. Bahkan Mentor pun mantengin laptop buat edit dengan jeli... Ah top lah.
  • Terimakasih Banget buat Mas Agustinus,,, semoga karya nya lekat selama AELI ada & terus support banyak orang utk jadi mentor menulis , terutama di AELI 😁😁😁😊😊😊... Yg saya suka juga, moment ini lintas DPD.

Babak Tambahan Waktu

Rabu 10 Juni 2020, pagi pagi ada penulis yang kirim kabar beserta bukti, bahwa ada calon donatur yang sudah transfer dana untuk ikut partisipasi dalam ebook. Kabar yang bikin gimanaaa… gitu, soalnya ebook khan sudah jadi, walau belum diserahterimakan pada AELI. Kami lalu sepakat bahwa ebook masih bisa diperbaharui lagi.
Mungkin yang bikin donatur luluh hatinya sehingga ikut berpartisipasi dalam gerakan Writing Camp AELI
Saya sebagai mentor lalu memberi pengantar begini. “Jadi konteksnya gini ya teman-teman semua. 1. Sebenarnya proses mentoring sudah selesai dengan dibuatnya ebook; namun ternyata ada beberapa umpanbalik terhadap ebook tersebut, termasuk masih ada donasi masuk. 2. Ebook perlu dibuatkan strategi sosialisasi/ woro-woroisasi yang baik (baik dalam arti tidah harus mewah-megah & rumit, sederhana saja, tapi memang dipersiapkan sungguh). Jadi saya berharap jika memang teman-teman masih berkenan, kita tuntaskan urusan Penerbitan ebook ini (bukan penulisan lho), serahkan kado pada DPP, bantu sosialisasi kemanfaatan ebook, lalu kita "tutup buku" tahap mentoring ini. Seandainya ada rumor untuk meningkatkan/ melanjutkan/ menyebarkan gerakan menulis artikel EL lebih lanjut, ya kita "buka buku" lagi lah... Ibarat permainan sepak bola nih, saat kemarin kita sampaikan ebook ke DPP, kesebelasan kita sudah dalam posisi unggul nih, siap menang. Eee... ternyata kita kebobolan 1 gol dengan beberapa feedback dari kita sendiri/ calon pembaca, termasuk ada iklan lagi masuk. Priiittt..... peluit tanda pertandingan dalam waktu normal pun ditiup; kemenangan yang sudah di depan mata tertunda karena kedudukan seri. Kini saatnya kita mainkan babak tambahan waktu untuk mencetak gol lagi dan memenangkan pertandingan. Sudah siap bertanding lagi teman-tman?”
Dalam babak tambahan waktu, fokus kami adalah membuat materi sosialisasi keberadaan dan kemanfaatan ebook. Semangat kami terdongkrak juga ketika ada pihak yang menyatakan, “Kalau ebook ini dah jadi, Saya bersedia jadi penerbit. Bentuk hard paper masih jd rujukan. Jd minimal di meja meja orang HR atau Pemerhati EL Buku tersebut ada.” Sungguh suatu angin segar ketika tenaga kami sebenarnya sudah berkurang saat masuk babak tambahan waktu.

Injury Time

Seperti halnya permainan sepak bola, masa tambahan waktu tentu ada akhirnya. Saya menyadari bahwa proses mentoring pasti akan ada selesainya. Nah, proses penulisan kami walau sudah mencapai puncak, namun masih menyisakan beberapa hal yang belum matang terkait strategi sosialisasi dan koordinasi/ pertanggungjawaban donasi. Maka pada hari kamis, 11 Juni 2020 pukl 6 pagi saya sampaikan pengumuman.
 “Dengan telah terselesaikannya Ebook, baik dalam bentuk Epub maupun PDF, maka usai sudah perjumpaan kita di kelas ini ya.Silakan Mas Rangga sebagai "perantara" kami dengan DPP untuk bisa menyampaikan hasil karya kita. Saya akan membubarkan grup ini pukul 12.12 nanti siang. Jika masih ada hal-hal yang perlu dikoordinasikan (misalnya pendapatan iklan yang perlu disinkronkan dengan  DPP, atau strategi woro-woroisasi artikel) teman-teman masih ada waktu obrolkan sekitar 6 jam lagi di grup ini. Terimakasih atas kebersamaannya, mohon maaf jika ada kesalahan dan khilaf yang saya perbuat; baik yang tidak disengaja, maupun sangat tidak disengaja. Ditunggu karya-karya artikel berikutnya ya,”
Para teman-teman penulis lalu bergiat lagi sampai menelurkan usulan resensi yang bagus semacam ini.
AYO BELAJAR DARI SIMPUL DELAPAN
Buku antalogi yang berjudul “Simpul Delapan” ini merupakan untaian kisah, ilmu dan inspirasi dari para Fasilitator Experiential Learning yang bernaung di Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI). Penulisan buku ini diawali dari kelas menulis yang diselenggarakan oleh AELI, hingga kemudian, dilanjutkan dalam proses mentoring selama 34 hari yang difasilitasi oleh Agustinus Susanta dengan sangat menarik, sampai akhirnya berhasil menyimpulkan 8 artikel dari 8 orang dalam sebuah buku, yang dipersembahkan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-13 AELI pada 9 Juni 2020. Semua artikel akan menceritakan keseruan pengalaman penulis selama menjalankan program experiential learning, tentunya dengan bumbu-bumbu ilmu dari experiential learning itu sendiri. Bagi Anda para praktisi dan pemerhati experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman, buku ini wajib Anda miliki dan baca, untuk menambah khasanah Anda mengenai experiential learning.
Dalam buku ini, 8 orang menceritakan kisahnya yang beraneka ragam dengan sangat apik, ada Ardian Rangga dari Bengkulu yang berbagi tentang Design Thinking dan kaitannya dengan Experiential Learning, ada Rahman Mukhlis dari Jakarta yang berbagi pengalamannya menggapai 7 Puncak Tertinggi Indonesia dan kaitannya dengan Penguasaan Pola Pikir Pendaki dalam menghadapi tantangan kehidupan, Ada Agus Supriyo dari Jogja yang berbagi tentang Media Online sebagai Alternatif Baru Penyelenggaraan Program Experiential Learning, ada Dian “Aconk” Wibowo dari Jogja yang berbagi kisah tentang Optimalisasi Kemampuan Empati dalam Proses Fasilitasi Program Experiential Learning, ada Gonny T. Wicaksono dari Sumatera Selatan yang berbagi kisah bagaimana Mendapatkan The Best Impact dalam kegiatan Experiential learning melalui Observasi, ada Herman Lesmana dari Makassar yang berbagi tentang proses Membangun Tim melalui Aktivitas Archery Combat, ada Arif Musa dari Jawa Tengah yang berbagi tentang aktivitas Rope Access sebagai media Program Experiential Learning dan terakhir ada Al Agus Dwi Santoso dari Jawa Tengah yang berbagi kisah tentang Program Dolan Desa yang Memajukan Desaku.
Mengutip sambutan Ketua Umum AELI, Nur Fahmi, dalam buku ini, bahwa “ Buku elektronik (e-book) AELI dalam pusaran pandemi, merupakan karya nyata Anggota AELI yang berusaha untuk terus berkarya bagi perkembangan Experiential Learning di Indonesia. Selamat menikmati dan menyelami buah pikir yang menjadi karya dari sesama praktisi Experiential Learning Indonesia. Semoga langkah kecil ini dapat memberikan inspirasi untuk kita semua. SELAMAT MEMBACA !

Siang itu juga, muncul pula komentar dari salah satu penulis yang membuat saya bimbang untuk membubarkan grup, begini bunyinya, “Pak mentor @Agustinus Susanta mohon di ulur di jam cantik yang berikutnya ya” Mengingat bahwa salah satu ciri mentoring, seperti tersebut pada awal artikel ini adalah “Menimbulkan berbagai hubungan pendampingan jangka panjang antara mentee dan mentor,” maka alih-alih membubarkan grup mentoring pada pukul 12.12. Saya menganugerahkan masa Injury Time. Dalam pertandingan sepak bola, ini berarti perpanjangan waktu yang dilakukan sebagai pengganti waktu yang hilang akibat tertundanya permainan berupa pelanggaran-pelanggaran atau peristiwa lain yang mengganggu pertandingan. Jadi misal waktu normal pertandingan sudah selesai, tetapi karena ada beberapa hal tadi, wasit memutuskan ada tambahan waktu sekian menit sebelum peluit akhir tanda pertandingan selesai.
Dalam masa Injury time itu pula, muncul satu lagi usulan materi promosi berupa tulisan pendek begini
Menjadi Fasilitator Experiential learning merupakan salah satu anugerah indah dari sekian anugerah indah lain yang Tuhan berikan kepada kita. Kita diberi kesempatan melakukan sebuah pekerjaan sekaligus kita juga dituntut belajar dan selalu mengembangkan diri.
Berawal dari sebuah kelas menulis yang diselenggarakan oleh AELI ( Asosiasi Experiential Learning Indonesia) dan setelah berdinamika selama 34 hari dengan basic pengalaman dan skill yang dimiliki oleh 8 peserta yang tentunya berbeda beda didampingi 1 orang mentor,
Tepat saat AELI di usia ke 13 tahun, kelas tersebut mampu menggali sekian pengalaman dari masing masing anggota dalam kelas menulis dan di tuangkan dalam buku ini.
Pengalaman yang mungkin sangat bermanfaat bagi kita semua, bagaimana menguasai tehnologi, bagaimana menguasai diri, bagaimana menyiapkan sebuah kegiatan fasilitasi dengan penguasaan materi dan berbagai media sehingga menghasilkan dampak yang akurat, sampai beride tentang bagaimana kegiatan kita punya dampak positip yang lebih bagi lingkungan masyarakat

Eee…. Masih muncul lagi media sosialisasi berupa cuplikan video animasi 34 detik yang mengabarkan tentang keberadaan ebook kami. Saya belum tahu bagaimana nanti teman-teman penulis akan menyinkronkan aneka media promosi tadi, saya percaya, mereka punya kreasi, bahkan yang tidak saya duga.

Kini masa injury time selesai, proses mentoring berakhir sudah. Barangkali ada ketidaksempurnaan saat kami menulis, mohon bisa dimaklumi, karena bagi sebagian dari kami, menulis secara terstruktur dan terencana adalah hal yang sama sekali baru. Semoga persembahan kami ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman fasilitator yang lain untuk bisa menuliskan pengalaman pendampingannya dalam bentuk artikel. Kami menyadari bahwa teknik menulis adalah sekadar alat, namun yang lebih penting lagi adalah kemauan untuk mau belajar dari pengalaman kita sendiri, dan semangat untuk memberi inspirasi pada orang lain. Aneka teori dan teknik menulis hanyalah sarana yang digunakan oleh kami untuk menstrukturkan cara pikir dan logika berpikir kami. Hal penting itulah sebetulnya yang sangat bermanfaat bagi kami untuk saatnya nanti  beraksi lagi melakukan pendampingan pendampingan experiential learning di masa mendatang.

Sekali lagi, terimakasih para mentee yang kini sudah lulus menjadi Penulis versi Writingcamp AELI angkatan I. Maturnuwun untuk teman-teman dari DPP AELI yang sudah mendukung kami. Terimakasih untuk para donatur; semoga Writingcamp berikutnya bisa lebih berdayaguna. Terimakasih para Pembaca.

Untuk teman-teman Fasilitator lainnya, ditunggu di petualangan berikutnya.

Brebes, 12 Juni 2020
Agustinus Susanta
Share:

Experiential Learning yang Perlu Kamu Tulis (1/2)


Artikel ini merupakan penutup yang sekaligus jadi oleh-oleh untuk para mentee selepas program mentoring; diplesetkan dari judul ebook "Experiential Learning yang Anda Perlu Tahu." Bagi pembaca yang langsung menuju pos penutup ini, jika mau lebih tahu konteksnya, bisa mulai dari sini

Ada beberapa istilah yang nanti banyak kita jumpai dalam artikel ini, maka akan baik sekali jika saya sodorkan beberapa pemahamannya. Saya mengutip dari situs wikipedia ya.

Pendampingan atau lebih dikenal dengan istilah MentorshipMentorship berakar kata dari Mentor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/ KBBI memiliki makna pembimbing atau pengasuh.[1] Secara istilah ditemukan banyak sekali definisi terhadap kata Mentoring, tercatat hingga tahun 2007 ada lebih dari 50 definisi yang menggambarkan makna dari Mentoring. Dalam buku karya Gendro Salim yang berjudul Effective Coaching, ia memberikan memaknai Mentoring sebagai sebuah aktivitas bimbingan dari seseorang yang sudah sangat menguasai hal-hal tertentu dan membagikan ilmunya kepada orang yang membutuhkannya.[2] Orang yang melakukan kegiatan mentoring disebut dengan Mentor sedangkan orang yang di-mentor-i disebut Mentee.

Perbedaan Mentoring (Pendampingan) dan Coaching
Kedua terminologi ini sering kali dianggap memiliki makna yang sama, bahkan tidak jarang orang-orang mengunakan terma ini dalam ranah yang sama. Berikut ini adalah perbedaan antara Mentoring dan Coaching.[3]
Coaching:
  • Membantu individu untuk mengembangkan solusi mereka sendiri dan melatih proses berpikir, yang kemudian dapat diterapkan secara mandiri di masa depan.
  • Coach umumnya tidak diperlukan untuk ahli dalam bidang usaha klien

Mentoring:
  • Biasanya melibatkan bimbingan dari seorang individu yang lebih berpengalaman atau senior.
  • Menimbulkan berbagai hubungan pendampingan jangka panjang antara mentee dan mentor.
  • Mentor akan diharapkan untuk mengetahui jawaban atas tugas yang dilakukan oleh mentee

Dalam proses mentoring, saya sering disapa dengan “mentor” namun kerap juga disebut dengan “coach,” ya biarkan saja lah.



Mentoring sambil nungguin Kedai Pempek marega
Semua berawal ketika saya  didaulat menjadi pengobrol webinar berjudul Ayo bikin pengalaman pendampinganmu jadi ARTIkEL menarik,” pada tgl 7 Mei 2020. Acara diadakan oleh DPP AELI melalui Bidang Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diketuai Mas Rangga. Obrol punya obrol, saat merencanakan webinar, kami merancang bahwa acara tersebut akan dirangkaikan dengan semacam kelas pelatihan menulis artikel, bagi para fasilitator experiential learning. Maka, jadilah seminar online tadi sebagai pintu pembuka bagi para mentee yang ingin mengikuti kelas pelatihan/ mentoring menulis artikel.

Quisioner dalam bentuk aplikasi daring menjadi media pendaftaran sekaligus seleksi bagi para calon mentee, baik yang ikut seminar maupun yang tidak. Pendaftaran yang hanya dibuka 3 hari saja menghasilkan 30an orang pengisi kuisioner, yang diseleksi berdasarkan keseriusan dan kesanggupan mengikuti mentoring, dimampatkan lagi menjadi 17 orang mentee.

Awalnya, media mentoring saya usulkan melalui aplikasi facebook, namun ternyata setelah dibuatkan grup, malah kurang responsif mengundang mentee. Haluan agak digeser sehingga media mentoring dibantu aplikasi Whatsapp yang dibentuk 13 Mei 2020, berisi 17 mentee “Mentoring Menulis AELI” ditambah saya sebagai fasilitator atau malah sering disebut mentor (kadang-kadan “coach”) oleh teman-teman.

Terus terang, ini pertama kali saya berperan sebagai mentor/ fasilitator pelatihan menulis, kalo menjadi mentee sih sudah beberapa kali. Ada perasaan gamang juga sih, semacam ke-harus-PeDean gitu. Lha wong sudah dipercaya asosiasi je…. masak mau dijalani asal-asalan? Saya pun memutar imajinasi dan kreasi dalam merancang proses mentoring.

Bukan pertama-tama pelajaran menulis yang kami geluti bersama Tetapi lebih pada saling memotivasi untuk bisa berbagi pengalaman pendampingan kami masing-masing yang dituangkan dalam bentuk artikel. Itulah konsep yang mendasari kelas mentoring ini. Saya coba merancang skenario proses mentoring menulis seperti halnya ketika kami menjalankan kegiatan experiential learning. Ada mentee, ada tujuan, ada media, ada permainan, ada tugas, ada materi, ada diskusi, ada sharing, dan ada Saya yang didaulat jadi fasilitatornya. Terakhir ditutup final challenge atau final project. Bagaimana konsep itu mewujud? Inilah yang mau secara singkat saya ceritakan.

Pos I

Hari ke-1 proses (13 Mei 2020) diawali dengan pembentukan grup WA oleh perwakilan Bidang Litbang DPP AELI yang kebetulan menjadi mentee. Mas Rangga memberikan pengantar yang menarik dalam sapaan awal grup, “Apabila proses ini berjalan baik dengan hasil maksimal, berarti karena  kontribusi positif kita bersama. Semoga pola berkelompok sesuai minat/ hobi ini bisa menjadi contoh bagi kita di pada praktisi EL. Contoh, bagaimana kita memberikan kontribusi bagi dunia EL sesuai hobi/ minat kita.” Acara pertama adalah perkenalan dan haha hihi sesama mentee dan fasilitator.

Hari ke-2 proses, Materi pertama bertajuk “Merencanakan Artikel,” disajikan dalam Pos I. selain dibagi dalam grup, saya beri tautan tempat materi saya masukkan blog, yang tautannya sudah disenggol pada awal artikel ini.
Bagi pembaca yang enggan membaca lengkap materi tersebut, saya bocorkan sinopsisnya, yaitu:
  • Ulangan materi webinar,
  • Skenario mentoring berpola “Saya memposting beberapa materi/ ulasan/ penugasan terkait penulisan artikel, lalu para mentee merespon materi/ ulasan/ penugasan, baik secara umum, atau berdasarkan topik/ artikel yang sudah dipilihnya, dengan target sebelum Bulan Juni 2020, 17 artikel dari 17 mentee sudah tertulis manis.
  • Tema yang baik; berbasis kompetensi penulis, memenuhi ekspektasi pembaca, cakupan terbatas.
  • Kalimat tesis, adalah rumusan singkat gagasan utama sebuah artikel


Keseruan dimulai saat Permainan di Pos I digelar. Permainannya sangat sederhana, yaitu cukup menuliskan Tema, Tujuan, dan Tesis (3T) dari artikel yang akan mentee buat. Permainan harus diselesaikan paling lambat Hari Sabtu 16 Mei 2020 pukul 08.08, dengan cara dikirim ke grup WA mentoring.
Wow, teman-teman mentee langsung asyik bermain, tercermin dalam beberapa komentar berikut:
  • 1,5 jam belum nemu tema yang tepat. Sekali nemu bingung mulai dari mana; tantangan berat iki.”
  •  “Wow baru baca contoh-contoh yang  dibuat rekan-rekan semua, Putri langsung narik nafas. Bisa ga ya Putri nyelesein pos 1 ini dengan baik. Mana belum muncul ide sampe sesiang ini.”
  • “Selamat malam. Dari siang sampai malam ini saya mengamati rekan-rekan yang begitu antusias dalam memberikan tulisannya. Dalam pengamatan saya, betapa cepat dan terampilnya menyajikan ide-ide tersebut menjadi sebuah tema tulisan. Saya jadi perlu berpikir dan mengingat hal-hal yang pernah saya alami selama pendampingan kegiatan EL.”
  • Jujur saja saya ikut ini setengah nekat pengen bisa berbagi tentang yang pernah saya alami. Tapi jujur saja. Jangankan nulis.... baca buku saja males. Saya paling gak bisa duduk diam lama dengan berpikir. Kalo mikir mesti sambil tiduran tapi kan gak bisa sambil nulis. Mungkin nanti dalam proses belajar saya paling agak terpothal-ponthal mohon dimaklumi semoga gak ada DO diantara kita.”

 
Fokus sejak awal dalam menulis artikel, dimulai dari perencanaan.
(foto dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)
Sebenarnya, seperti apa sih bentuk jadi permainan Pos I ini? Nih, salah satunya saya bocorkan:
Tema    : Peluang bisnis seorang FasEL menjadi pengusaha Outbound Provider
Tujuan : Memberikan pemahaman dasar tentang peluang usaha Outbound Provider bagi FasEL
Tesis    : Dengan memahami konsep dasar Bisnis,seorang FasEL dapat mengupgrade diri menjadi seorang Bisnis Owner bidang Outbound Provider sehingga dia mampu menerapkan nilai2 seorang FaEL serta meningkatkan sisi Ekonomi diri dan fasEL lainnya.

Ya, sesederhana itulah permainannya. Dalam proses saya juga memberi komentar terhadap draft 3T yang dibuat mentee, misalnya ada yang buat seperti ini
Tema: Wanita dalam praktek EL
Tujuan: Menggambarkan kesan pribadi terhadap pekerjaan di dunia outdoor untuk praktek training dengan metode EL
Tesis: mengulik pengalaman aktivitas outdoor, sistem kerja freelance, hingga ilmu-ilmu yang diserap selama saya bekerja sebagai fasilitator.

Ini 3T yang unik, namun saya melihat ada yang belum klop di sana, maka saya berkomentar: “Eh, omong-omong apa sih tujuan awal mau nulis? Tentang kontennya saya belum menangkap urgensi "wanita" dalam tema yang malah tidak (belum kali ya....) tercermin dalam Tujuan dan Tesis. Ada apa jika "wanita" mengulik pengalaman aktivitas outdoor, sistem kerja freelance, hingga ilmu-ilmu? Garis besarnya, tolong rumuskan ulang apa relasi 2 variabel artikel: wanita, dan praktik EL.”

Ketika digali (dalam grup Pos I) ternyata ada latar belakang mengapa tercetus ide tadi, yakni
“Narik dari pengalaman pribadi sih Mas. Karena sering banget banyak yang nanya, terutama dari lingkungan keluarga: saya kerjanya apa? Kok mau ngefreelance, gamau kerja kantoran aja? Apalagi kadang harus berangkat sore-sore, nginep berapa hari ninggalin keluarga. Gaji juga ga tetap. Buat lingkungan saya, ini masih bukan pekerjaan yang lumrah.
Makanya saya mau bikin tulisan sebenernya dengan tujuan ngejabarin kenapa saya yang seorang perempuan (anak perempuan satu2nya lagi di keluarga) bisa cinta dengan dunia EL ini. Juga biar suatu hari saya bisa jelasin ke anak2 saya, ibunya nih kerjanya apa sih 😂 Lah jadi panjang hehe. Tapi begitulah latar belakang penulisannya Mas.” Terkait komentar saya terhadap 3Tnya dia juga sadar sehingga balik berkomentar, “Dan iya, setelah saya kirim saya juga merasa masih lemah banget tesisnya, malah kurang menggambarkan tema dan tujuan tulisan. Siap diperbaiki Mas.”

Dalam grup mentoring ini, ternyata suatu tema yang hendak ditulis salah satu mentee, bisa dieksplorasi pengembangannya melalui pengalaman yang mungkin dialami sesama mentee. Sebagai contoh tema “Fasilitator Wanita” tadi, ada mentee lain yang nimpali, “Saya pernah waktu masih mbina di salah satu lokasi outbound, terpaksa harus ngajarin ustadzahnya dadakan 30 menit sebelum mulai karena mereka gak mau 150 siswinya kontak dengan team highrope cowok ....  Setelah itu waktu pelaks, mata saya gak berani kedip ngawasin 4 bordes high rope. Sore harinya marketing ama PIC lokasi outbound saya “cuci” karena tidak menginformasikan kondisi mentee secara lengkap, bhuwahahaha....”
Atau ada juga mentee lain yang kemudian berkisah bahwa dia punya teman-teman pasukan fasilitator lain yang semuanya wanita; cerita yang lalu diimbuhi foto-foto aktivitas fasilitator wanita. Ya, dalam grup WA, memang mudah sekali orang untuk bisa berkomentar termasuk dengan berbagi aneka gambar, video, dan foto. Maka, mengobrolkan suatu tema, bisa asyik sekali jadinya, apalagi diantara sesama fasilitator. Inilah salah satu keseruan yang kami alami dalam Pos I.

Pos II

Tanggal 16 Mei 2020, 12 orang menyelesaikan Permainan Pos I ketika kami masuk ke Pos II, yang ditandai dengan pemberian materi “KERANGKA ARTIKEL DALAM KISAH EXPERIENTIAL LEARNING” yang saya posting melalui tautan ini Materi singkat dalam pos ini memaparkan pentingnya membuat kerangka artikel dalam perencanaan artikel yang akan dibagi dalam 3 bagian, yaitu pengantar, isi/ pembahasan utama, dan penutup. Saya luncurkan Pos II ini pada pukul 11.06 WLM (Waktu Laptop Mentor), kenapa WLM? Karena perangkat saya itu aneh, penunjuk waktunya lebih cepet sekitar 1,5 jam dari kondisi realita; beberapa kali dipaskan, eee… meleset lagi.

Pos II juga ditandai dengan permainan, berupa “Menuliskan Tema, Judul, Tujuan, Tesis, dan Kerangka Artikel dari tulisan yang akan dibuat” permainan ditunggu sampai Senin pagi tanggal 18 Mei 2020, pukul 07.07. Kok menulis Tema-Tujuan-Tesis (3T) lagi sih, bukankah itu sudah dilakukan di Pos I? Iya memang, Kalau 3T dari permainan I sudah dirasa oke, berarti tinggal nyari judul dan bikin kerangka artikelnya dong. Namun siapa tahu ada mentee yang mau merevisi 3T dari Pos I, ya silakan bikin lagi yang baru di Pos II, sekalian ditambah Judul dan Kerangka artikelnya. Kok pengumpulan permainan pukul 07.07 sih bukan pukul 07.00 saja? Ya saya gantian balik bertanya nih, “Emang kenapa ya kalo dibuat pukul 7 lewat 7 menit?”
Yuk, bikin Kerangka Artikel.
(foto dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)

Sama polanya dengan di pos sebelumnya, saya ngasih komentar terhadap permainan yang sudah dikirimkan mentee. Bedanya, kini lebih banyak materi yang dikomentari. Saya berikan 2 contoh hasil permainan Pos II ya, nih.

Mentee Pertama
Tema : FasEL Bilingual
Judul : Peluang menjadi FasEL Bilingual
Tujuan : Menginspirasi pembaca tentang pentingnya kemampuan bilingual dalam proses memfasilitasi sebuah aktivitas EL
Tesis : Memiliki kemampuan bilingual akan menjadi nilai tambah seorang FasEL dan dapat membantu proses kepemanduan aktivitas yang ada serta melancarkan komunikasi dengan baik ketika menghadapi mentee yang bukan orang Indonesia atau tidak bisa berbahasa Indonesia
Pengantar: Pentingnya kemampuan bilingual dalam dunia kerja secara umum
Isi :
  1. Penjelasan umum tentang Experiential Learning, Jenis-jenis aktivitas berbasis Experiential Learning, serta Profesi Fasilitator Experiential Learning
  2. Kebutuhan bilingual dalam lingkup profesi FasEL
  3. Pengalaman memandu aktivitas EL dengan bilingual
  4. Manfaat menjadi FasEL Bilingual


Penutup:
Manfaat menjadi seorang FasEL bilingual yang sudah pasti dapat dirasakan secara langsung dan yang paling nyata adalah peluang kemudahan mendapatkan pekerjaan, khususnya ketika ada kebutuhan akan FasEL Bilingual, dan hal lain yang menarik adalah : honor nya biasanya lebih tinggi! Nah, para FasEL bisa memulainya dengan belajar sendiri ataupun mengikuti kursus-kursus yang ada untuk meningkatkan kemampuan bilingualnya. Jadi, apakah Anda berminat menjadi FasEL Bilingual?

Mentee Kedua yang merupakan salah satu pendaki gunung yang telah mendaki 7 puncak tertinggi di Inonesia menyelesaikan permainan dengan begini:
Tema: Penguasaan Pola Pikir Pendaki dalam Mencapai Tujuan Hidup
Judul: Hadapi Tantangan Raih Kebahagiaan. Sub judul : (Kisah Pencapaiaan 7 Puncak Tertinggi Indonesia) 
Tujuan: Menjadi inspirasi diri sendiri dan orang lain, untuk terus mengasah pola pikir pendaki dalam mencapai tujuan hidup
Tesis: Penguasaan Pola Pikir Pendaki yang sistematis dan terlatih akan membawa kita berhasil mencapai tujuan hidup.
Kerangka tulisan:
Pembuka: Cerita awal hobi mendaki gunung dan cita2 pendakian yang diinginkan. Sekilas perjalanan ikut organisasi pecinta alam. Awal kisah menerima tantangan untuk memimpin suatu ekspedisi.

Isi:
  1. Konsep Pendakian 7 Summits & kaitannya dengan aktualisasi diri/tujuan hidup
  2. Prinsip2 umum manajemen ekspedisi /pendakian gunung
  3. Sekilas konsep adversity quotiont
  4. Sekilas konsep "Climber" /pendaki
  5. Kisah Pendakian Gunung Semeru & nilai utama pembelajarannya
  6. Kisah Pendakian Gunung Rinjani & nilai utama pembelajarannya
  7. Kisah Pendakian Gunung Carstensz & nilai utama pembelajarannya
  8. Kisah Pendakian Gunung Bukit Raya & nilai utama pembelajarannya
  9. Kisah Pendakian Gunung Kerinci & nilai utama pembelajarannya
  10. Kisah Pendakian Gunung Rantemario & nilai utama pembelajarannya
  11. Kisah Pendakian Gunung Binaiya  & nilai utama pembelajarannya


Penutup:
Rangkuman nilai pembelajaran dari perjalanan pendakian 7 puncak  yang menjadi satu konsep pola pikir pendaki dalam mencapai tujuan
"Tujuan atau cita-cita dalam kehidupan dapat dicapai dengan penguasaan pola pikir dan sikap pendaki yang sistematis dan terlatih"
Saran untuk selalu mengasah penguasaan pola pikir pendaki dalam kehidupan sehari-hari.

18 Mei 2020 pagi pukul 7 lewat 7 menit, semestinya semua hasil permainan dikumpul, tetapi nyatanya baru 4 mentee yang menyelesaikannya. Saya lalu memberi semangat teman-teman untuk segera menyelesaikan permainan dengan mengirim motivasi bergenre humor begini, “Tetap semangat untuk lebih serius bengong memikirkan artikel yang sudah kita niati tulis ya; cukup 2 x 10 menit deh, pasti akan banyak penampakan ide terkait 3T. Sebaiknya jangan terlalu pilih-pilih dahulu atau berandai-andai nanti detilnya akan nulis ini itu ini itu pake gaya anu ini anu ini. Selama subtema tersebut relevan dengan 3T, langsung masukkan saja ke dalam Kerangka. Dalam Pos III nanti, kita akan belajar bareng gimana cara memberi daging dalam kerangka artikel. (eh... kok sudah bocor ya 🤦🏻🤫 ). Dari kami yang menantimu ;ttd; 😘 A, B, C, dan D.” ABCD adalah nama-nama mentee yang sudah menyelesaikan permainan. Jadi  saya seolah-olah mewakili mereka untuk mengajak teman-temannya menyelesaikan permainan; inilah yang saya sebut humor; semoga agak lucu, he he he…
 
Bahan inspirasi bahwa mencari ide itu bisa dilakukan dalam rutinitas keseharian.
Ketika mentor sedang merumput pun bisa mendapat ide untuk bahan-bahan mentoring.

Pos P3K

19  Mei 2020; pukul 09:02 Mentee yang sudah main di Pos 2 bertambah jadi 13 orang, dari total 17. Artinya, sudah lewat sehari dari waktu yang ditetapkan, tetapi belum semau mengumpulkan permainan. Apa yang perlu saya lakukan? Selain memotivasi lagi? Akhirnya saya buatkan Pos P3K. Layaknya saat kita menyelenggarakan program experiential learning, maka jamak pula diadakan Pos kesehatan atau Pos P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan).

Pos ini menjadi semacam pos taktis dalam proses mentoring karena terpantau beberapa mentee masih megalami kebuntuan dalam menuangkan rumusan perencanaan artikel. Namun dalam “permainan menulis,” Pos P3K  itu dipanjangkan jadi Pertolongan Pertama pada Ketersendat-sendatan.  Ini sebenarnya bukan pos utama dalam perjalanan penulisan artikel, namun dirasa perlu dimasuki supaya dapat inspirasi guna mengurai kemacetan beberapa teman dalam menyelesaikan permainan Pos II.
Pos taktis P3K ini diisi 2 kiat mengimajinasikan suatu artikel. Yang pertama adalah mengenal Konten & Konteks artikel, yang diuraikan terkait dengan 6 hal berikut, yaitu: sasaran pembaca, nada artikel, kompetensi penulis, waktu penulisan, dan media publikasi. Untuk menjelasakan tentang “nada artikel,” saya sempat mengangkat contoh mengenai Mendiang Mas Didi Kempot. Jika penasaran apa isi selengkapnya Pos P3K ini, silahkan meluncur saja ke  sini ya
Poin kedua dalam Pos P3K adalah  perlunya merancang bagaimana mencari isi tulisan berdasarkan Data Primer dan Data Sekunder. Guna memerjelas uraian, saya berikan juga contoh penelusuran data untuk salah satu tema yang diusung mentee.
Seperti halnya pos sebelumnya, diluncurkan juga semacam permainan yang saya sebut dengan “vitamin” berupa quis tentang mengimajinasikan merangkai aneka pengalaman pendampingan. Hasil quis tentu saja diobrolkan di grup WA kami.

Malam harinya saya umumkan bahwa berapapun yang besok menyelesaikan permainan Pos II, rombongan akan melanjutkan ke Pos berikutnya.

20 Mei 2020, pukul 14:47 saya umumkan pembagian 3 kelompok untuk 14 mentee yang menyelesaikan permainan dari Pos II. Saya tugasi mereka memilih salah satu dari anggota grup untuk  jadi ketuanya, membuat grup WA khusus beranggotakan anggota grup ditambah saya. Nama grup mentee ditentukan sendiri. Bagaimana dengan 3 mentee lain? Ya tidak saya grupkan karena tidak sampai selesai di Pos II.
Setelah itu, saya pamit dari Grup Mentoring tersebut, alias “left.” Saya berpikir, ya kalo dalam program experiential learning di lapangan sudah waktunya bergerak ke tempat lain, ya kita jangan terus terpaku atau memandang ke belakang tempat sebelumnya kita asyik berproses, apapun hasilnya. Saya mencoba mengedukasi bahwa jika sudah saatnya “pergi” ya tekadkan hati, pergi. Dalam pos berikutnya saya juga terapkan hal yang sama, ketika misi Pos sudah usai, saya “left” juga dari grup Pos III untuk menuju proses berikutnya.

POS III

Sore sampai malam saya diundang masuk oleh 3 grup, yang bernama Awal, Mandalika, dan Kelompencapir untuk melanjutkan mentoring di Pos III. Apa yang dilakukan di sana? ini saya cuplikan permainannya
Selamat datang di Pos III. Permainan kita mulai ya; sederhana kok😀
Di Pos ini saya tidak memberi briefing khusus, termasuk tentang "menulis yang baik dan benar." Bagi teman2 yang menginginkan langsung menulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, silakan bisa cari sumber-sumber sendiri ya. Sebelum mengarungi permainan di Pos III ini, Saya hanya punya ekspektasi, artikel-artikel di Pos I, II, dan Pos P3K sudah sempat rekan2 baca; itu saja. Jadi langsung saja tancap gas nih ke permainannya.
Silakan Teman-teman menulis artikel sesuai tema-judul-tujuan-tesis-kerangka yang sudah direncanakan.

Periodesasi menulis artikel:
Menulis artikel sampai selesai; ditunggu di Pos ini paling lambat hari Sabtu,  23 Mei 2020 pukul 08.08 WIB. Dalam kurun waktu tersebut, silakan jika ada yang mau didiskusikan via grup ini.
Masa Inkubasi; saat dimana kita tinggalkan beberapajenak tulisan kita tanpa dipikirin, dilirik, dibuka, apalagi diotak-atik, 24-26 Mei 2020; sekalian kita Lebaranan.
Revisi/ editing (jika diperlukan), 27-29 Mei 2020.

Selanjutnya.... masih rahasiya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ayo kita mulai menulis.

Mari mengisi kerangka artikel kita dengan daging.
(Ilustrasi dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)

Pos III ternyata pos menulis artikel, seminggu setelah mentoring mulai. Pekerjaan mentor jelas tambah berat nih; memberi komentar setiap artikel mentee, serta memberi tips praktis tentang kepenulisan. Yang bikin tambah lama itu karena harus masuk ke 3 pos, sehingga kadang tips yang sama/ mirip harus dikirim ke 3 pos, yang kadang waktunya tidak bisa seragam karena mengikuti dinamika di tiap posnya.
Kenapa harus nunggu seminggu sih untuk menugasi mentee menulis artikel? Kenapa tidak langsung pada hari pertama saja? Hmm….. karena bagi saya, proses menulis itu adalah pekerjaan seni yang merupakan cerminan cara perpikir seseorang. Saya pikir, daripada langsung minta mentee menulis, dan misalnya begitu banyak hal yang harus diperbaiki dari tulisan tersebut? Wah… bisa “mabok” mentor nggarap itu seorang diri untuk 17 orang. Maka pilihan saya adalah membekali mereka dengan tips merencanakan artikel yang sejatinya juga proses menstrukturkan ide dan gagasan sesuai tema tulisan. Harapannya sih, dengan adanya proses seminggu tiap mentee mengolah dan merefleksikan tema tulisan, ketika tiba saatnya menulis, kelancaranlah yang ditemui.

Saya juga tidak, lebih tepatnya belum berbagi tentang tatacara menulis yang baik dan benar dari sisi kebahasaan, sampai Pos III ini. Ada 4 alasan kenapa urusan tata-menulis belum disampaikan, padahal itu penting.
Karena konsep mentoring ini bukan pelajaran “Bahasa Indonesia” maka urusan tata bahasa bukan yang dipertamakan.
Seperti halnya program experiential learning, maka lazimnya ada proses mentee melakukan/ do/ act lebih dahulu sebelum nanti direfleksikan. Nah, ini juga sama, saya ingin mentee menulis dahulu artikelnya, baru nanti dibahas tentang tata bahasanya. Dalam hati saya berkata, “biarlah mereka merasakan dahulu bagaimana serunya menulis, setelah itu baru kita ngobrol.”
Saya tidak mau membebani mentee dengan materi yang terlalu berat; seminggu menulis rencana artikel saja sudah lumayan berat, apalagi ditambah dengan menyerap dan mengerjakan “tugas” tentang bagaimana kata, kalimat, paragraf beserta tanda bacanya harus ditulis dengan semestinya. Bisa-bisa banyak mentee yang “muntaber” nanti, artinya tuh mundur tanpa berita.
Alasan terakhir, saya pasti akan sangat repot jika urusan kebahasaan ikut dibahas, sehingga fokus mengomentari alur berpikir mentee menjadi kabur. He he he… alasan saja nih.

Mengapa Komentar?

Dinamika 3 Pos III berlangsung lebih seru, walau melewati hari raya Idul Fitri. Tiap artikel yang masuk saya komentari, walau seringnya perlu waktu setengah sampai satu hari setelahnya dari waktu saya membaca pertama. Saya menerapkan prinsip, ketika sudah membaca satu artikel dan hendak mengomentarinya, diperlukan waktu inkubasi, alih-alih langsung menuliskan komentar (spontan). Dalam masa inkubasi tersebut, di sela-sela aktivitas keseharian, sering saya nemu hal-hal yang relevan atau lebih tepat untuk dikomentarkan dalam tiap artikel. Hasil temuan-temuan itu tadi yang kemudian saya rangkum sepadat mungkin untuk dikomentarkan.

Mungkin ada pembaca yang bertanya, mengapa saya menggunakan istilah “komentar,” bukan revisi atau perbaikan, atau bahkan penyempurnaan, untuk merujuk pada umpan balik permainan yang dilakukan mentee. Ya, saya lebih nyaman saja dengan pilihan diksi “komentar” yang kesannya lebih egaliter, dan lebih pas dengan konteks. Kan memang yang saya lakukan itu mengomentari, atau dalam hal ini saya jadi komentator terhadap hasil proses/ permainan mentee. Saya mencoba menghayati prinsip proses experiential learning yang salah satunya membelajarkan ala orang dewasa yang tentu sudah punya konsep sebelumnya, termasuk terhadap tulisan yang sudah dibuatnya.
Diksi “revisi” atau “perbaikan” mempunyai nilai rasa bahwa apa yang sudah mentee buat (pasti) salah, dan harus direvisi atau diperbaiki. Hal itu tentu menimbulkan beban karena ada tuntutan untuk “Melakukan perbaikan terhadap sesuatu yang saya buat secara salah. Seandainya saya  tidak melakukan perbaikan, maka saya meninggalkan suatu jejak kesalahan, dan saya lari dari hal tersebut.” Wah ekstrim ya pengungkapan perasaannya. Tapi ya itulah, yang saya pikirkan. Menggunakan pilihan diksi “komentar” membuat saya lebih nyaman karena sebagai komentator, maka apapun komentarnya, bisa dinilai dan ditanggapi dengan lebih bebas oleh penulis, “Ah, Mas mentor ini komentarnya pedas nian, terlalu teoritis. Saya khan bukan mau nulis yang ilmiah gitu. Beberapa saran saya abaikan saja ah…” atau “Ooo… masuk akal juga ya komentarnya. Saya coba perbaiki ah tulisanku sesuai arahan komentator.” Komentar nyatanya menjadi fakta bahwa seseorang yang melontarkan umpan balik semacam itu, lepas dari yang dikomentari menolak, setuju, atau sangat setuju. Okey, cukup ya urusan komentar.
Penyemangat bahwa menulis itu pekerjaan resah.
(Ilustrasi dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)
Hasil permainan tidak akan saya bagikan di sini, karena itu sudah ada porsinya dalam bentuk ebook yang bisa diakses melalui sini Saya mau bagikan salah satu komentar (terpanjang) terhadap suatu artikel. Yuk kita nikmati salah satu pernyataan komentar saya, semoga tidak bosan.


Menulis artikel itu pada hakekatnya menyampaikan sesuatu pada para pembaca. Layaknya menulis berita, maka dalam suatu artikel, sebaiknya ada 6 hal mendasar yang wajib disajikan di dalamnya mengacu rumus 5W 1 H, yaitu:
Who, SIAPA yang terlibat sesuatu tersebut?
What, APA sih sesuatu itu?
Where, DIMANA sesuatu itu terjadi?
When, KAPAN sesuatu itu terjadi?
Why, MENGAPA sampai ada sesuatu tadi?
How, BAGAIMANA sesuatu tersebut terjadi/ dijadikan?
Karena menulis artikel adalah suatu seni, maka bagaimana penulis memaparkan 6 hal pokok tadi  menjadi banyak variannya, baik dalam urutan informasi, teknik, juga gaya bahasanya.

Dalam komentar, saya mengutamakan mengulas tentang garis besar kesesuaian isi artikel dengan kerangka yang sudah dibuat tiap mentee.  Ulasan tentang kebahasaan akan disampaikan secara umum setelah saya membaca beberapa artikel  mentee lain.

Tesis :  dengan program outbound dan kegiatan dolan desa dapat memajukan desa dan meningkatkan penghasilan warga.

Kita mulai ya:
  1. Secara umum dan isi artikel itu sudah sesuai dengan kerangkanya. Unsur 5W1H sudah muncul dalam artikel, namun ada beberapa hal tentang konten yang perlu diformat penulisannya supaya lebih enak dibaca.
  2. Memang tesis artikel adalah “dengan program outbound dan kegiatan dolan desa dapat memajukan desa dan meningkatkan penghasilan warga” (ini secara tata bahasa bisa diperbaiki jadi “Program Outbound dan Dolan Desa dapat memajukan dan meningkatkan penghasilan warga Desa”) namun yang saya sarankan, di balik layar (laptop), artikel ini bisa menjadi alat promosi juga tentang program tersebut supaya makin banyak orang datang ke desa yang dimaksud. Guna mencakup tujuan tersebut, tentunya artikel pelu dibuat dengan nada “mengajak”
  3. Menulis artikel tentu berbeda dengan proses membuat kliping dari potongan-potongan koran/ majalah; walau esensinya mirip, yaitu menyajikan cerita tertentu. Saya masih melihat bahwa Artikel mas AB ini terlalu semangat dan vulgar mencantumkan tulisan guna memenuhi kerangkanya. Kita kupas ya…
  4. Pengertian outbound/ experiential learning. Nurut saya masukkan tulisan/ kutipan yang sesuai saja dalam konteks penulis mau cerita manfaat outbound bagi desanya (bukan mau cerita manfaat outbound bagi mentee). Peristiwa larinya Kurt Hahn ke Inggris pada tahun 1933 karena berbeda pandangan politik dengan Adolf Hitler dan seterusnya tidak perlu lah dimasukkan dalam artikel karena terlalu jauh relevansinya. Kata Outbound sudah  populer di kalangan pembaca kok.
  5. Mengaduk-aduk manfaat outbound (apalagi dari sumber lain yang si penulis sendiri belum tentu sependapat) bisa menjadi blunder jika ada pembaca kritis yang menggugat/ bertanya, “emangnya dengan dolan desa yang hanya berdurasi 2-4 jam dan acaranya gitu, bisa membuat orang berkomunikasi efektif , punya team building , jago pemecahan masalah, PeDe, dst? (seperti yang ditulis dalam bab manfaat outbound)
  6. Berkisah tentang program Dolan Desa sudah coba dilakukan dengan lengkap. Tinjau lagi jika ada hal-hal tidak signifikan yang bisa dihilangkan ya, misal kalimat. Dapat disimpulkan tempat kami  tidak ada bangun- bangunan yang sangat megah. Selain hal tersebut bisa dipertanyakan apakah betul itu kesimpulan dari penjelasan (kalimat-kalimat) sebelumnya, namun dalam konteks artikel juga tidak ada efeknya.
  7. Foto-foto Dolan Desa sebaiknya disesuaikan untuk format artikel, bukan format presentasi/ laporan.
  8. Ada foto permainan itu sangat bagus, namun justru yang tidak tertemukan adalah foto interaksi mentee outbound dengan penduduk (yang hasil panennya dibeli). Padahal roh tulisan ini ada di simbiosis mutualisme tersebut (antara mentee-provider-penduduk-perangkat desa). Kalo bisa tolong dilengkapi foto-foto semacam itu ya Mas AB, supaya pembaca juga lebih tersentuh hatinya.
  9. Penceritaan tentang cara mempromosikan program juga bisa dipoles lagi shingga lebih enak dibaca.
  10. Foto-foto layar laptop yang berisi data mentee dengan maksud bercerita manfaat program bagi desa saya pikir kok belum nyambung banget ya dengan konteks. “Kalo tanggal sekian ada 50 orang mentee outbound di Bawangan, apa sih artinya bagi kesejahteraan penduduk?” Lebih kurang itu justru yang jadi pertanyaan ketika pembaca melihat foto yang ada sekarang. Padahal bab yang mau disampaikan adalah (pembuktian) bahwa benar, program Outbound dan Dolan Desa itu menyejahterakan penduduk. Silakan Mas AB bisa renungkan lagi, bagaimana cara membahasakan dan menuliskannya dalam artikel; pun diberi tambahan foto sebaiknya itu memperkuat kisah, bukan malah mengaburkan esensi, apalagi membuka front pertanyaan-pertanyaan liar bagi pembaca.
  11. Efektivitas dalam menulis kalimat dan merangkainya dalam paragraf harus ditingkatkan lagi ya, dengan patokan praktis: 1) Kalimat yang baik itu singkat, padat, dan jelas untuk menyampaikan suatu informasi secara utuh. 2) Paragaraf yang baik berisi beberapa kalimat yang menjelaskan 1 topik saja; salah satu kalimatnya merupakan kalimat kunci/ kalimat yang mengandung topik. 3) Hubungan atarparagraf terjalin runut, logis, dan tentu saja berpadu menunjang tema artikel.
  12. Selamat meninjau dan menyempurnakan kembali artikelnya ya Mas AB, karena ini bisa menjadi etalase, supaya program lebih tersosialisasikan dengan cara yang elegan. Sip; sukses selalu.

Silakan pembaca imajinasikan sendiri bagaimana rupa artikel mentee tersebut jika komentarnya seperti itu. Tapi ingat, ini kan cerita tentang artikel yang masih dalam proses awal penulisannya.
Komentar lainnya rata-rata sejenis dalam penekanan 5W1H, namun hal-hal lainnya tergantung temuan signifikan dalam artikel. Karena menulis artikel adalah suatu seni, maka bagaimana penulis memaparkan 6 hal pokok tadi menjadi banyak variannya, baik dalam urutan informasi, teknik, juga gaya bahasanya. Komentar saya mengutamakan mengulas tentang garis besar kesesuaian isi artikel dengan kerangka yang sudah dibuat tiap mentee. Ulasan tentang kebahasaan hanya akan disampaikan sekilas dua kilas saja terutama pada “kesalahan-kesalahan” fatal atau yang mengganggu alur.

Oleh-oleh dari Pos III; WAKTU
(kredit foto FB Anang YB)
Pos III yang ditargetkan selesai pada 29 Mei 2020 molor 3 hari karena belum semua mentee menyelesaikan permainannya. Toh, perjalanan mesti berlanjut, apalagi Bulan Juni menjelang, bulan yang pada awal proses menjadi akhir dari mentoring. Pada ketiga pos III ini saya mengucapkan terimakasih pada para mentee, baik yang sudah bermain, maupun belum. Saya kirimi poster dari salah satu mentor menulis saya tentang “waktu” sebagai kenangan akhir Pos III. 
Setelah minta maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan pada mentee, saya pamit undur diri, keluar dari grup WA Pos III.

------ bersambung ke bagian kedua -----

Share: