Pelatihan berbasis Permainan


Experiential Learning yang Perlu Kamu Tulis (1/2)


Artikel ini merupakan penutup yang sekaligus jadi oleh-oleh untuk para mentee selepas program mentoring; diplesetkan dari judul ebook "Experiential Learning yang Anda Perlu Tahu." Bagi pembaca yang langsung menuju pos penutup ini, jika mau lebih tahu konteksnya, bisa mulai dari sini

Ada beberapa istilah yang nanti banyak kita jumpai dalam artikel ini, maka akan baik sekali jika saya sodorkan beberapa pemahamannya. Saya mengutip dari situs wikipedia ya.

Pendampingan atau lebih dikenal dengan istilah MentorshipMentorship berakar kata dari Mentor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/ KBBI memiliki makna pembimbing atau pengasuh.[1] Secara istilah ditemukan banyak sekali definisi terhadap kata Mentoring, tercatat hingga tahun 2007 ada lebih dari 50 definisi yang menggambarkan makna dari Mentoring. Dalam buku karya Gendro Salim yang berjudul Effective Coaching, ia memberikan memaknai Mentoring sebagai sebuah aktivitas bimbingan dari seseorang yang sudah sangat menguasai hal-hal tertentu dan membagikan ilmunya kepada orang yang membutuhkannya.[2] Orang yang melakukan kegiatan mentoring disebut dengan Mentor sedangkan orang yang di-mentor-i disebut Mentee.

Perbedaan Mentoring (Pendampingan) dan Coaching
Kedua terminologi ini sering kali dianggap memiliki makna yang sama, bahkan tidak jarang orang-orang mengunakan terma ini dalam ranah yang sama. Berikut ini adalah perbedaan antara Mentoring dan Coaching.[3]
Coaching:
  • Membantu individu untuk mengembangkan solusi mereka sendiri dan melatih proses berpikir, yang kemudian dapat diterapkan secara mandiri di masa depan.
  • Coach umumnya tidak diperlukan untuk ahli dalam bidang usaha klien

Mentoring:
  • Biasanya melibatkan bimbingan dari seorang individu yang lebih berpengalaman atau senior.
  • Menimbulkan berbagai hubungan pendampingan jangka panjang antara mentee dan mentor.
  • Mentor akan diharapkan untuk mengetahui jawaban atas tugas yang dilakukan oleh mentee

Dalam proses mentoring, saya sering disapa dengan “mentor” namun kerap juga disebut dengan “coach,” ya biarkan saja lah.



Mentoring sambil nungguin Kedai Pempek marega
Semua berawal ketika saya  didaulat menjadi pengobrol webinar berjudul Ayo bikin pengalaman pendampinganmu jadi ARTIkEL menarik,” pada tgl 7 Mei 2020. Acara diadakan oleh DPP AELI melalui Bidang Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diketuai Mas Rangga. Obrol punya obrol, saat merencanakan webinar, kami merancang bahwa acara tersebut akan dirangkaikan dengan semacam kelas pelatihan menulis artikel, bagi para fasilitator experiential learning. Maka, jadilah seminar online tadi sebagai pintu pembuka bagi para mentee yang ingin mengikuti kelas pelatihan/ mentoring menulis artikel.

Quisioner dalam bentuk aplikasi daring menjadi media pendaftaran sekaligus seleksi bagi para calon mentee, baik yang ikut seminar maupun yang tidak. Pendaftaran yang hanya dibuka 3 hari saja menghasilkan 30an orang pengisi kuisioner, yang diseleksi berdasarkan keseriusan dan kesanggupan mengikuti mentoring, dimampatkan lagi menjadi 17 orang mentee.

Awalnya, media mentoring saya usulkan melalui aplikasi facebook, namun ternyata setelah dibuatkan grup, malah kurang responsif mengundang mentee. Haluan agak digeser sehingga media mentoring dibantu aplikasi Whatsapp yang dibentuk 13 Mei 2020, berisi 17 mentee “Mentoring Menulis AELI” ditambah saya sebagai fasilitator atau malah sering disebut mentor (kadang-kadan “coach”) oleh teman-teman.

Terus terang, ini pertama kali saya berperan sebagai mentor/ fasilitator pelatihan menulis, kalo menjadi mentee sih sudah beberapa kali. Ada perasaan gamang juga sih, semacam ke-harus-PeDean gitu. Lha wong sudah dipercaya asosiasi je…. masak mau dijalani asal-asalan? Saya pun memutar imajinasi dan kreasi dalam merancang proses mentoring.

Bukan pertama-tama pelajaran menulis yang kami geluti bersama Tetapi lebih pada saling memotivasi untuk bisa berbagi pengalaman pendampingan kami masing-masing yang dituangkan dalam bentuk artikel. Itulah konsep yang mendasari kelas mentoring ini. Saya coba merancang skenario proses mentoring menulis seperti halnya ketika kami menjalankan kegiatan experiential learning. Ada mentee, ada tujuan, ada media, ada permainan, ada tugas, ada materi, ada diskusi, ada sharing, dan ada Saya yang didaulat jadi fasilitatornya. Terakhir ditutup final challenge atau final project. Bagaimana konsep itu mewujud? Inilah yang mau secara singkat saya ceritakan.

Pos I

Hari ke-1 proses (13 Mei 2020) diawali dengan pembentukan grup WA oleh perwakilan Bidang Litbang DPP AELI yang kebetulan menjadi mentee. Mas Rangga memberikan pengantar yang menarik dalam sapaan awal grup, “Apabila proses ini berjalan baik dengan hasil maksimal, berarti karena  kontribusi positif kita bersama. Semoga pola berkelompok sesuai minat/ hobi ini bisa menjadi contoh bagi kita di pada praktisi EL. Contoh, bagaimana kita memberikan kontribusi bagi dunia EL sesuai hobi/ minat kita.” Acara pertama adalah perkenalan dan haha hihi sesama mentee dan fasilitator.

Hari ke-2 proses, Materi pertama bertajuk “Merencanakan Artikel,” disajikan dalam Pos I. selain dibagi dalam grup, saya beri tautan tempat materi saya masukkan blog, yang tautannya sudah disenggol pada awal artikel ini.
Bagi pembaca yang enggan membaca lengkap materi tersebut, saya bocorkan sinopsisnya, yaitu:
  • Ulangan materi webinar,
  • Skenario mentoring berpola “Saya memposting beberapa materi/ ulasan/ penugasan terkait penulisan artikel, lalu para mentee merespon materi/ ulasan/ penugasan, baik secara umum, atau berdasarkan topik/ artikel yang sudah dipilihnya, dengan target sebelum Bulan Juni 2020, 17 artikel dari 17 mentee sudah tertulis manis.
  • Tema yang baik; berbasis kompetensi penulis, memenuhi ekspektasi pembaca, cakupan terbatas.
  • Kalimat tesis, adalah rumusan singkat gagasan utama sebuah artikel


Keseruan dimulai saat Permainan di Pos I digelar. Permainannya sangat sederhana, yaitu cukup menuliskan Tema, Tujuan, dan Tesis (3T) dari artikel yang akan mentee buat. Permainan harus diselesaikan paling lambat Hari Sabtu 16 Mei 2020 pukul 08.08, dengan cara dikirim ke grup WA mentoring.
Wow, teman-teman mentee langsung asyik bermain, tercermin dalam beberapa komentar berikut:
  • 1,5 jam belum nemu tema yang tepat. Sekali nemu bingung mulai dari mana; tantangan berat iki.”
  •  “Wow baru baca contoh-contoh yang  dibuat rekan-rekan semua, Putri langsung narik nafas. Bisa ga ya Putri nyelesein pos 1 ini dengan baik. Mana belum muncul ide sampe sesiang ini.”
  • “Selamat malam. Dari siang sampai malam ini saya mengamati rekan-rekan yang begitu antusias dalam memberikan tulisannya. Dalam pengamatan saya, betapa cepat dan terampilnya menyajikan ide-ide tersebut menjadi sebuah tema tulisan. Saya jadi perlu berpikir dan mengingat hal-hal yang pernah saya alami selama pendampingan kegiatan EL.”
  • Jujur saja saya ikut ini setengah nekat pengen bisa berbagi tentang yang pernah saya alami. Tapi jujur saja. Jangankan nulis.... baca buku saja males. Saya paling gak bisa duduk diam lama dengan berpikir. Kalo mikir mesti sambil tiduran tapi kan gak bisa sambil nulis. Mungkin nanti dalam proses belajar saya paling agak terpothal-ponthal mohon dimaklumi semoga gak ada DO diantara kita.”

 
Fokus sejak awal dalam menulis artikel, dimulai dari perencanaan.
(foto dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)
Sebenarnya, seperti apa sih bentuk jadi permainan Pos I ini? Nih, salah satunya saya bocorkan:
Tema    : Peluang bisnis seorang FasEL menjadi pengusaha Outbound Provider
Tujuan : Memberikan pemahaman dasar tentang peluang usaha Outbound Provider bagi FasEL
Tesis    : Dengan memahami konsep dasar Bisnis,seorang FasEL dapat mengupgrade diri menjadi seorang Bisnis Owner bidang Outbound Provider sehingga dia mampu menerapkan nilai2 seorang FaEL serta meningkatkan sisi Ekonomi diri dan fasEL lainnya.

Ya, sesederhana itulah permainannya. Dalam proses saya juga memberi komentar terhadap draft 3T yang dibuat mentee, misalnya ada yang buat seperti ini
Tema: Wanita dalam praktek EL
Tujuan: Menggambarkan kesan pribadi terhadap pekerjaan di dunia outdoor untuk praktek training dengan metode EL
Tesis: mengulik pengalaman aktivitas outdoor, sistem kerja freelance, hingga ilmu-ilmu yang diserap selama saya bekerja sebagai fasilitator.

Ini 3T yang unik, namun saya melihat ada yang belum klop di sana, maka saya berkomentar: “Eh, omong-omong apa sih tujuan awal mau nulis? Tentang kontennya saya belum menangkap urgensi "wanita" dalam tema yang malah tidak (belum kali ya....) tercermin dalam Tujuan dan Tesis. Ada apa jika "wanita" mengulik pengalaman aktivitas outdoor, sistem kerja freelance, hingga ilmu-ilmu? Garis besarnya, tolong rumuskan ulang apa relasi 2 variabel artikel: wanita, dan praktik EL.”

Ketika digali (dalam grup Pos I) ternyata ada latar belakang mengapa tercetus ide tadi, yakni
“Narik dari pengalaman pribadi sih Mas. Karena sering banget banyak yang nanya, terutama dari lingkungan keluarga: saya kerjanya apa? Kok mau ngefreelance, gamau kerja kantoran aja? Apalagi kadang harus berangkat sore-sore, nginep berapa hari ninggalin keluarga. Gaji juga ga tetap. Buat lingkungan saya, ini masih bukan pekerjaan yang lumrah.
Makanya saya mau bikin tulisan sebenernya dengan tujuan ngejabarin kenapa saya yang seorang perempuan (anak perempuan satu2nya lagi di keluarga) bisa cinta dengan dunia EL ini. Juga biar suatu hari saya bisa jelasin ke anak2 saya, ibunya nih kerjanya apa sih 😂 Lah jadi panjang hehe. Tapi begitulah latar belakang penulisannya Mas.” Terkait komentar saya terhadap 3Tnya dia juga sadar sehingga balik berkomentar, “Dan iya, setelah saya kirim saya juga merasa masih lemah banget tesisnya, malah kurang menggambarkan tema dan tujuan tulisan. Siap diperbaiki Mas.”

Dalam grup mentoring ini, ternyata suatu tema yang hendak ditulis salah satu mentee, bisa dieksplorasi pengembangannya melalui pengalaman yang mungkin dialami sesama mentee. Sebagai contoh tema “Fasilitator Wanita” tadi, ada mentee lain yang nimpali, “Saya pernah waktu masih mbina di salah satu lokasi outbound, terpaksa harus ngajarin ustadzahnya dadakan 30 menit sebelum mulai karena mereka gak mau 150 siswinya kontak dengan team highrope cowok ....  Setelah itu waktu pelaks, mata saya gak berani kedip ngawasin 4 bordes high rope. Sore harinya marketing ama PIC lokasi outbound saya “cuci” karena tidak menginformasikan kondisi mentee secara lengkap, bhuwahahaha....”
Atau ada juga mentee lain yang kemudian berkisah bahwa dia punya teman-teman pasukan fasilitator lain yang semuanya wanita; cerita yang lalu diimbuhi foto-foto aktivitas fasilitator wanita. Ya, dalam grup WA, memang mudah sekali orang untuk bisa berkomentar termasuk dengan berbagi aneka gambar, video, dan foto. Maka, mengobrolkan suatu tema, bisa asyik sekali jadinya, apalagi diantara sesama fasilitator. Inilah salah satu keseruan yang kami alami dalam Pos I.

Pos II

Tanggal 16 Mei 2020, 12 orang menyelesaikan Permainan Pos I ketika kami masuk ke Pos II, yang ditandai dengan pemberian materi “KERANGKA ARTIKEL DALAM KISAH EXPERIENTIAL LEARNING” yang saya posting melalui tautan ini Materi singkat dalam pos ini memaparkan pentingnya membuat kerangka artikel dalam perencanaan artikel yang akan dibagi dalam 3 bagian, yaitu pengantar, isi/ pembahasan utama, dan penutup. Saya luncurkan Pos II ini pada pukul 11.06 WLM (Waktu Laptop Mentor), kenapa WLM? Karena perangkat saya itu aneh, penunjuk waktunya lebih cepet sekitar 1,5 jam dari kondisi realita; beberapa kali dipaskan, eee… meleset lagi.

Pos II juga ditandai dengan permainan, berupa “Menuliskan Tema, Judul, Tujuan, Tesis, dan Kerangka Artikel dari tulisan yang akan dibuat” permainan ditunggu sampai Senin pagi tanggal 18 Mei 2020, pukul 07.07. Kok menulis Tema-Tujuan-Tesis (3T) lagi sih, bukankah itu sudah dilakukan di Pos I? Iya memang, Kalau 3T dari permainan I sudah dirasa oke, berarti tinggal nyari judul dan bikin kerangka artikelnya dong. Namun siapa tahu ada mentee yang mau merevisi 3T dari Pos I, ya silakan bikin lagi yang baru di Pos II, sekalian ditambah Judul dan Kerangka artikelnya. Kok pengumpulan permainan pukul 07.07 sih bukan pukul 07.00 saja? Ya saya gantian balik bertanya nih, “Emang kenapa ya kalo dibuat pukul 7 lewat 7 menit?”
Yuk, bikin Kerangka Artikel.
(foto dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)

Sama polanya dengan di pos sebelumnya, saya ngasih komentar terhadap permainan yang sudah dikirimkan mentee. Bedanya, kini lebih banyak materi yang dikomentari. Saya berikan 2 contoh hasil permainan Pos II ya, nih.

Mentee Pertama
Tema : FasEL Bilingual
Judul : Peluang menjadi FasEL Bilingual
Tujuan : Menginspirasi pembaca tentang pentingnya kemampuan bilingual dalam proses memfasilitasi sebuah aktivitas EL
Tesis : Memiliki kemampuan bilingual akan menjadi nilai tambah seorang FasEL dan dapat membantu proses kepemanduan aktivitas yang ada serta melancarkan komunikasi dengan baik ketika menghadapi mentee yang bukan orang Indonesia atau tidak bisa berbahasa Indonesia
Pengantar: Pentingnya kemampuan bilingual dalam dunia kerja secara umum
Isi :
  1. Penjelasan umum tentang Experiential Learning, Jenis-jenis aktivitas berbasis Experiential Learning, serta Profesi Fasilitator Experiential Learning
  2. Kebutuhan bilingual dalam lingkup profesi FasEL
  3. Pengalaman memandu aktivitas EL dengan bilingual
  4. Manfaat menjadi FasEL Bilingual


Penutup:
Manfaat menjadi seorang FasEL bilingual yang sudah pasti dapat dirasakan secara langsung dan yang paling nyata adalah peluang kemudahan mendapatkan pekerjaan, khususnya ketika ada kebutuhan akan FasEL Bilingual, dan hal lain yang menarik adalah : honor nya biasanya lebih tinggi! Nah, para FasEL bisa memulainya dengan belajar sendiri ataupun mengikuti kursus-kursus yang ada untuk meningkatkan kemampuan bilingualnya. Jadi, apakah Anda berminat menjadi FasEL Bilingual?

Mentee Kedua yang merupakan salah satu pendaki gunung yang telah mendaki 7 puncak tertinggi di Inonesia menyelesaikan permainan dengan begini:
Tema: Penguasaan Pola Pikir Pendaki dalam Mencapai Tujuan Hidup
Judul: Hadapi Tantangan Raih Kebahagiaan. Sub judul : (Kisah Pencapaiaan 7 Puncak Tertinggi Indonesia) 
Tujuan: Menjadi inspirasi diri sendiri dan orang lain, untuk terus mengasah pola pikir pendaki dalam mencapai tujuan hidup
Tesis: Penguasaan Pola Pikir Pendaki yang sistematis dan terlatih akan membawa kita berhasil mencapai tujuan hidup.
Kerangka tulisan:
Pembuka: Cerita awal hobi mendaki gunung dan cita2 pendakian yang diinginkan. Sekilas perjalanan ikut organisasi pecinta alam. Awal kisah menerima tantangan untuk memimpin suatu ekspedisi.

Isi:
  1. Konsep Pendakian 7 Summits & kaitannya dengan aktualisasi diri/tujuan hidup
  2. Prinsip2 umum manajemen ekspedisi /pendakian gunung
  3. Sekilas konsep adversity quotiont
  4. Sekilas konsep "Climber" /pendaki
  5. Kisah Pendakian Gunung Semeru & nilai utama pembelajarannya
  6. Kisah Pendakian Gunung Rinjani & nilai utama pembelajarannya
  7. Kisah Pendakian Gunung Carstensz & nilai utama pembelajarannya
  8. Kisah Pendakian Gunung Bukit Raya & nilai utama pembelajarannya
  9. Kisah Pendakian Gunung Kerinci & nilai utama pembelajarannya
  10. Kisah Pendakian Gunung Rantemario & nilai utama pembelajarannya
  11. Kisah Pendakian Gunung Binaiya  & nilai utama pembelajarannya


Penutup:
Rangkuman nilai pembelajaran dari perjalanan pendakian 7 puncak  yang menjadi satu konsep pola pikir pendaki dalam mencapai tujuan
"Tujuan atau cita-cita dalam kehidupan dapat dicapai dengan penguasaan pola pikir dan sikap pendaki yang sistematis dan terlatih"
Saran untuk selalu mengasah penguasaan pola pikir pendaki dalam kehidupan sehari-hari.

18 Mei 2020 pagi pukul 7 lewat 7 menit, semestinya semua hasil permainan dikumpul, tetapi nyatanya baru 4 mentee yang menyelesaikannya. Saya lalu memberi semangat teman-teman untuk segera menyelesaikan permainan dengan mengirim motivasi bergenre humor begini, “Tetap semangat untuk lebih serius bengong memikirkan artikel yang sudah kita niati tulis ya; cukup 2 x 10 menit deh, pasti akan banyak penampakan ide terkait 3T. Sebaiknya jangan terlalu pilih-pilih dahulu atau berandai-andai nanti detilnya akan nulis ini itu ini itu pake gaya anu ini anu ini. Selama subtema tersebut relevan dengan 3T, langsung masukkan saja ke dalam Kerangka. Dalam Pos III nanti, kita akan belajar bareng gimana cara memberi daging dalam kerangka artikel. (eh... kok sudah bocor ya 🤦🏻🤫 ). Dari kami yang menantimu ;ttd; 😘 A, B, C, dan D.” ABCD adalah nama-nama mentee yang sudah menyelesaikan permainan. Jadi  saya seolah-olah mewakili mereka untuk mengajak teman-temannya menyelesaikan permainan; inilah yang saya sebut humor; semoga agak lucu, he he he…
 
Bahan inspirasi bahwa mencari ide itu bisa dilakukan dalam rutinitas keseharian.
Ketika mentor sedang merumput pun bisa mendapat ide untuk bahan-bahan mentoring.

Pos P3K

19  Mei 2020; pukul 09:02 Mentee yang sudah main di Pos 2 bertambah jadi 13 orang, dari total 17. Artinya, sudah lewat sehari dari waktu yang ditetapkan, tetapi belum semau mengumpulkan permainan. Apa yang perlu saya lakukan? Selain memotivasi lagi? Akhirnya saya buatkan Pos P3K. Layaknya saat kita menyelenggarakan program experiential learning, maka jamak pula diadakan Pos kesehatan atau Pos P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan).

Pos ini menjadi semacam pos taktis dalam proses mentoring karena terpantau beberapa mentee masih megalami kebuntuan dalam menuangkan rumusan perencanaan artikel. Namun dalam “permainan menulis,” Pos P3K  itu dipanjangkan jadi Pertolongan Pertama pada Ketersendat-sendatan.  Ini sebenarnya bukan pos utama dalam perjalanan penulisan artikel, namun dirasa perlu dimasuki supaya dapat inspirasi guna mengurai kemacetan beberapa teman dalam menyelesaikan permainan Pos II.
Pos taktis P3K ini diisi 2 kiat mengimajinasikan suatu artikel. Yang pertama adalah mengenal Konten & Konteks artikel, yang diuraikan terkait dengan 6 hal berikut, yaitu: sasaran pembaca, nada artikel, kompetensi penulis, waktu penulisan, dan media publikasi. Untuk menjelasakan tentang “nada artikel,” saya sempat mengangkat contoh mengenai Mendiang Mas Didi Kempot. Jika penasaran apa isi selengkapnya Pos P3K ini, silahkan meluncur saja ke  sini ya
Poin kedua dalam Pos P3K adalah  perlunya merancang bagaimana mencari isi tulisan berdasarkan Data Primer dan Data Sekunder. Guna memerjelas uraian, saya berikan juga contoh penelusuran data untuk salah satu tema yang diusung mentee.
Seperti halnya pos sebelumnya, diluncurkan juga semacam permainan yang saya sebut dengan “vitamin” berupa quis tentang mengimajinasikan merangkai aneka pengalaman pendampingan. Hasil quis tentu saja diobrolkan di grup WA kami.

Malam harinya saya umumkan bahwa berapapun yang besok menyelesaikan permainan Pos II, rombongan akan melanjutkan ke Pos berikutnya.

20 Mei 2020, pukul 14:47 saya umumkan pembagian 3 kelompok untuk 14 mentee yang menyelesaikan permainan dari Pos II. Saya tugasi mereka memilih salah satu dari anggota grup untuk  jadi ketuanya, membuat grup WA khusus beranggotakan anggota grup ditambah saya. Nama grup mentee ditentukan sendiri. Bagaimana dengan 3 mentee lain? Ya tidak saya grupkan karena tidak sampai selesai di Pos II.
Setelah itu, saya pamit dari Grup Mentoring tersebut, alias “left.” Saya berpikir, ya kalo dalam program experiential learning di lapangan sudah waktunya bergerak ke tempat lain, ya kita jangan terus terpaku atau memandang ke belakang tempat sebelumnya kita asyik berproses, apapun hasilnya. Saya mencoba mengedukasi bahwa jika sudah saatnya “pergi” ya tekadkan hati, pergi. Dalam pos berikutnya saya juga terapkan hal yang sama, ketika misi Pos sudah usai, saya “left” juga dari grup Pos III untuk menuju proses berikutnya.

POS III

Sore sampai malam saya diundang masuk oleh 3 grup, yang bernama Awal, Mandalika, dan Kelompencapir untuk melanjutkan mentoring di Pos III. Apa yang dilakukan di sana? ini saya cuplikan permainannya
Selamat datang di Pos III. Permainan kita mulai ya; sederhana kok😀
Di Pos ini saya tidak memberi briefing khusus, termasuk tentang "menulis yang baik dan benar." Bagi teman2 yang menginginkan langsung menulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, silakan bisa cari sumber-sumber sendiri ya. Sebelum mengarungi permainan di Pos III ini, Saya hanya punya ekspektasi, artikel-artikel di Pos I, II, dan Pos P3K sudah sempat rekan2 baca; itu saja. Jadi langsung saja tancap gas nih ke permainannya.
Silakan Teman-teman menulis artikel sesuai tema-judul-tujuan-tesis-kerangka yang sudah direncanakan.

Periodesasi menulis artikel:
Menulis artikel sampai selesai; ditunggu di Pos ini paling lambat hari Sabtu,  23 Mei 2020 pukul 08.08 WIB. Dalam kurun waktu tersebut, silakan jika ada yang mau didiskusikan via grup ini.
Masa Inkubasi; saat dimana kita tinggalkan beberapajenak tulisan kita tanpa dipikirin, dilirik, dibuka, apalagi diotak-atik, 24-26 Mei 2020; sekalian kita Lebaranan.
Revisi/ editing (jika diperlukan), 27-29 Mei 2020.

Selanjutnya.... masih rahasiya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ayo kita mulai menulis.

Mari mengisi kerangka artikel kita dengan daging.
(Ilustrasi dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)

Pos III ternyata pos menulis artikel, seminggu setelah mentoring mulai. Pekerjaan mentor jelas tambah berat nih; memberi komentar setiap artikel mentee, serta memberi tips praktis tentang kepenulisan. Yang bikin tambah lama itu karena harus masuk ke 3 pos, sehingga kadang tips yang sama/ mirip harus dikirim ke 3 pos, yang kadang waktunya tidak bisa seragam karena mengikuti dinamika di tiap posnya.
Kenapa harus nunggu seminggu sih untuk menugasi mentee menulis artikel? Kenapa tidak langsung pada hari pertama saja? Hmm….. karena bagi saya, proses menulis itu adalah pekerjaan seni yang merupakan cerminan cara perpikir seseorang. Saya pikir, daripada langsung minta mentee menulis, dan misalnya begitu banyak hal yang harus diperbaiki dari tulisan tersebut? Wah… bisa “mabok” mentor nggarap itu seorang diri untuk 17 orang. Maka pilihan saya adalah membekali mereka dengan tips merencanakan artikel yang sejatinya juga proses menstrukturkan ide dan gagasan sesuai tema tulisan. Harapannya sih, dengan adanya proses seminggu tiap mentee mengolah dan merefleksikan tema tulisan, ketika tiba saatnya menulis, kelancaranlah yang ditemui.

Saya juga tidak, lebih tepatnya belum berbagi tentang tatacara menulis yang baik dan benar dari sisi kebahasaan, sampai Pos III ini. Ada 4 alasan kenapa urusan tata-menulis belum disampaikan, padahal itu penting.
Karena konsep mentoring ini bukan pelajaran “Bahasa Indonesia” maka urusan tata bahasa bukan yang dipertamakan.
Seperti halnya program experiential learning, maka lazimnya ada proses mentee melakukan/ do/ act lebih dahulu sebelum nanti direfleksikan. Nah, ini juga sama, saya ingin mentee menulis dahulu artikelnya, baru nanti dibahas tentang tata bahasanya. Dalam hati saya berkata, “biarlah mereka merasakan dahulu bagaimana serunya menulis, setelah itu baru kita ngobrol.”
Saya tidak mau membebani mentee dengan materi yang terlalu berat; seminggu menulis rencana artikel saja sudah lumayan berat, apalagi ditambah dengan menyerap dan mengerjakan “tugas” tentang bagaimana kata, kalimat, paragraf beserta tanda bacanya harus ditulis dengan semestinya. Bisa-bisa banyak mentee yang “muntaber” nanti, artinya tuh mundur tanpa berita.
Alasan terakhir, saya pasti akan sangat repot jika urusan kebahasaan ikut dibahas, sehingga fokus mengomentari alur berpikir mentee menjadi kabur. He he he… alasan saja nih.

Mengapa Komentar?

Dinamika 3 Pos III berlangsung lebih seru, walau melewati hari raya Idul Fitri. Tiap artikel yang masuk saya komentari, walau seringnya perlu waktu setengah sampai satu hari setelahnya dari waktu saya membaca pertama. Saya menerapkan prinsip, ketika sudah membaca satu artikel dan hendak mengomentarinya, diperlukan waktu inkubasi, alih-alih langsung menuliskan komentar (spontan). Dalam masa inkubasi tersebut, di sela-sela aktivitas keseharian, sering saya nemu hal-hal yang relevan atau lebih tepat untuk dikomentarkan dalam tiap artikel. Hasil temuan-temuan itu tadi yang kemudian saya rangkum sepadat mungkin untuk dikomentarkan.

Mungkin ada pembaca yang bertanya, mengapa saya menggunakan istilah “komentar,” bukan revisi atau perbaikan, atau bahkan penyempurnaan, untuk merujuk pada umpan balik permainan yang dilakukan mentee. Ya, saya lebih nyaman saja dengan pilihan diksi “komentar” yang kesannya lebih egaliter, dan lebih pas dengan konteks. Kan memang yang saya lakukan itu mengomentari, atau dalam hal ini saya jadi komentator terhadap hasil proses/ permainan mentee. Saya mencoba menghayati prinsip proses experiential learning yang salah satunya membelajarkan ala orang dewasa yang tentu sudah punya konsep sebelumnya, termasuk terhadap tulisan yang sudah dibuatnya.
Diksi “revisi” atau “perbaikan” mempunyai nilai rasa bahwa apa yang sudah mentee buat (pasti) salah, dan harus direvisi atau diperbaiki. Hal itu tentu menimbulkan beban karena ada tuntutan untuk “Melakukan perbaikan terhadap sesuatu yang saya buat secara salah. Seandainya saya  tidak melakukan perbaikan, maka saya meninggalkan suatu jejak kesalahan, dan saya lari dari hal tersebut.” Wah ekstrim ya pengungkapan perasaannya. Tapi ya itulah, yang saya pikirkan. Menggunakan pilihan diksi “komentar” membuat saya lebih nyaman karena sebagai komentator, maka apapun komentarnya, bisa dinilai dan ditanggapi dengan lebih bebas oleh penulis, “Ah, Mas mentor ini komentarnya pedas nian, terlalu teoritis. Saya khan bukan mau nulis yang ilmiah gitu. Beberapa saran saya abaikan saja ah…” atau “Ooo… masuk akal juga ya komentarnya. Saya coba perbaiki ah tulisanku sesuai arahan komentator.” Komentar nyatanya menjadi fakta bahwa seseorang yang melontarkan umpan balik semacam itu, lepas dari yang dikomentari menolak, setuju, atau sangat setuju. Okey, cukup ya urusan komentar.
Penyemangat bahwa menulis itu pekerjaan resah.
(Ilustrasi dari Buku Menulis dan Berpikir Kreatif, Ayu Utami)
Hasil permainan tidak akan saya bagikan di sini, karena itu sudah ada porsinya dalam bentuk ebook yang bisa diakses melalui sini Saya mau bagikan salah satu komentar (terpanjang) terhadap suatu artikel. Yuk kita nikmati salah satu pernyataan komentar saya, semoga tidak bosan.


Menulis artikel itu pada hakekatnya menyampaikan sesuatu pada para pembaca. Layaknya menulis berita, maka dalam suatu artikel, sebaiknya ada 6 hal mendasar yang wajib disajikan di dalamnya mengacu rumus 5W 1 H, yaitu:
Who, SIAPA yang terlibat sesuatu tersebut?
What, APA sih sesuatu itu?
Where, DIMANA sesuatu itu terjadi?
When, KAPAN sesuatu itu terjadi?
Why, MENGAPA sampai ada sesuatu tadi?
How, BAGAIMANA sesuatu tersebut terjadi/ dijadikan?
Karena menulis artikel adalah suatu seni, maka bagaimana penulis memaparkan 6 hal pokok tadi  menjadi banyak variannya, baik dalam urutan informasi, teknik, juga gaya bahasanya.

Dalam komentar, saya mengutamakan mengulas tentang garis besar kesesuaian isi artikel dengan kerangka yang sudah dibuat tiap mentee.  Ulasan tentang kebahasaan akan disampaikan secara umum setelah saya membaca beberapa artikel  mentee lain.

Tesis :  dengan program outbound dan kegiatan dolan desa dapat memajukan desa dan meningkatkan penghasilan warga.

Kita mulai ya:
  1. Secara umum dan isi artikel itu sudah sesuai dengan kerangkanya. Unsur 5W1H sudah muncul dalam artikel, namun ada beberapa hal tentang konten yang perlu diformat penulisannya supaya lebih enak dibaca.
  2. Memang tesis artikel adalah “dengan program outbound dan kegiatan dolan desa dapat memajukan desa dan meningkatkan penghasilan warga” (ini secara tata bahasa bisa diperbaiki jadi “Program Outbound dan Dolan Desa dapat memajukan dan meningkatkan penghasilan warga Desa”) namun yang saya sarankan, di balik layar (laptop), artikel ini bisa menjadi alat promosi juga tentang program tersebut supaya makin banyak orang datang ke desa yang dimaksud. Guna mencakup tujuan tersebut, tentunya artikel pelu dibuat dengan nada “mengajak”
  3. Menulis artikel tentu berbeda dengan proses membuat kliping dari potongan-potongan koran/ majalah; walau esensinya mirip, yaitu menyajikan cerita tertentu. Saya masih melihat bahwa Artikel mas AB ini terlalu semangat dan vulgar mencantumkan tulisan guna memenuhi kerangkanya. Kita kupas ya…
  4. Pengertian outbound/ experiential learning. Nurut saya masukkan tulisan/ kutipan yang sesuai saja dalam konteks penulis mau cerita manfaat outbound bagi desanya (bukan mau cerita manfaat outbound bagi mentee). Peristiwa larinya Kurt Hahn ke Inggris pada tahun 1933 karena berbeda pandangan politik dengan Adolf Hitler dan seterusnya tidak perlu lah dimasukkan dalam artikel karena terlalu jauh relevansinya. Kata Outbound sudah  populer di kalangan pembaca kok.
  5. Mengaduk-aduk manfaat outbound (apalagi dari sumber lain yang si penulis sendiri belum tentu sependapat) bisa menjadi blunder jika ada pembaca kritis yang menggugat/ bertanya, “emangnya dengan dolan desa yang hanya berdurasi 2-4 jam dan acaranya gitu, bisa membuat orang berkomunikasi efektif , punya team building , jago pemecahan masalah, PeDe, dst? (seperti yang ditulis dalam bab manfaat outbound)
  6. Berkisah tentang program Dolan Desa sudah coba dilakukan dengan lengkap. Tinjau lagi jika ada hal-hal tidak signifikan yang bisa dihilangkan ya, misal kalimat. Dapat disimpulkan tempat kami  tidak ada bangun- bangunan yang sangat megah. Selain hal tersebut bisa dipertanyakan apakah betul itu kesimpulan dari penjelasan (kalimat-kalimat) sebelumnya, namun dalam konteks artikel juga tidak ada efeknya.
  7. Foto-foto Dolan Desa sebaiknya disesuaikan untuk format artikel, bukan format presentasi/ laporan.
  8. Ada foto permainan itu sangat bagus, namun justru yang tidak tertemukan adalah foto interaksi mentee outbound dengan penduduk (yang hasil panennya dibeli). Padahal roh tulisan ini ada di simbiosis mutualisme tersebut (antara mentee-provider-penduduk-perangkat desa). Kalo bisa tolong dilengkapi foto-foto semacam itu ya Mas AB, supaya pembaca juga lebih tersentuh hatinya.
  9. Penceritaan tentang cara mempromosikan program juga bisa dipoles lagi shingga lebih enak dibaca.
  10. Foto-foto layar laptop yang berisi data mentee dengan maksud bercerita manfaat program bagi desa saya pikir kok belum nyambung banget ya dengan konteks. “Kalo tanggal sekian ada 50 orang mentee outbound di Bawangan, apa sih artinya bagi kesejahteraan penduduk?” Lebih kurang itu justru yang jadi pertanyaan ketika pembaca melihat foto yang ada sekarang. Padahal bab yang mau disampaikan adalah (pembuktian) bahwa benar, program Outbound dan Dolan Desa itu menyejahterakan penduduk. Silakan Mas AB bisa renungkan lagi, bagaimana cara membahasakan dan menuliskannya dalam artikel; pun diberi tambahan foto sebaiknya itu memperkuat kisah, bukan malah mengaburkan esensi, apalagi membuka front pertanyaan-pertanyaan liar bagi pembaca.
  11. Efektivitas dalam menulis kalimat dan merangkainya dalam paragraf harus ditingkatkan lagi ya, dengan patokan praktis: 1) Kalimat yang baik itu singkat, padat, dan jelas untuk menyampaikan suatu informasi secara utuh. 2) Paragaraf yang baik berisi beberapa kalimat yang menjelaskan 1 topik saja; salah satu kalimatnya merupakan kalimat kunci/ kalimat yang mengandung topik. 3) Hubungan atarparagraf terjalin runut, logis, dan tentu saja berpadu menunjang tema artikel.
  12. Selamat meninjau dan menyempurnakan kembali artikelnya ya Mas AB, karena ini bisa menjadi etalase, supaya program lebih tersosialisasikan dengan cara yang elegan. Sip; sukses selalu.

Silakan pembaca imajinasikan sendiri bagaimana rupa artikel mentee tersebut jika komentarnya seperti itu. Tapi ingat, ini kan cerita tentang artikel yang masih dalam proses awal penulisannya.
Komentar lainnya rata-rata sejenis dalam penekanan 5W1H, namun hal-hal lainnya tergantung temuan signifikan dalam artikel. Karena menulis artikel adalah suatu seni, maka bagaimana penulis memaparkan 6 hal pokok tadi menjadi banyak variannya, baik dalam urutan informasi, teknik, juga gaya bahasanya. Komentar saya mengutamakan mengulas tentang garis besar kesesuaian isi artikel dengan kerangka yang sudah dibuat tiap mentee. Ulasan tentang kebahasaan hanya akan disampaikan sekilas dua kilas saja terutama pada “kesalahan-kesalahan” fatal atau yang mengganggu alur.

Oleh-oleh dari Pos III; WAKTU
(kredit foto FB Anang YB)
Pos III yang ditargetkan selesai pada 29 Mei 2020 molor 3 hari karena belum semua mentee menyelesaikan permainannya. Toh, perjalanan mesti berlanjut, apalagi Bulan Juni menjelang, bulan yang pada awal proses menjadi akhir dari mentoring. Pada ketiga pos III ini saya mengucapkan terimakasih pada para mentee, baik yang sudah bermain, maupun belum. Saya kirimi poster dari salah satu mentor menulis saya tentang “waktu” sebagai kenangan akhir Pos III. 
Setelah minta maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan pada mentee, saya pamit undur diri, keluar dari grup WA Pos III.

------ bersambung ke bagian kedua -----

Share:

Apa Sih, Maunya Tulisanmu?

Salam jumpa lagi dalam kebersamaan mentoring menulis artikel ini. Bagi pembaca yang baru tahu, artikel ini merupakan bagian ke-5 dari materi-materi yang disampaikan dalam program "Mentoring Menulis Artikel Experiential Learning," sambungan dari situ tuh


Tulisan "Apa Sih, Maunya Tulisanmu?" ini saya buat setelah melihat perkembangan naskah teman-teman fasilitator yang ikut program mentoring menulis artikel. Maunya sih untuk memberi panduan akhir supaya para penulis lebih mantap lagi saat menuntaskan artikelnya.

Cara-cara merencanakan artikel sudah disampaikan, demikian pula contoh-contoh menuliskan suatu topik dalam sebuah kalimat serta merangkainya menjadi satu paragraf. Namun sepengamatan saya, masih ada beberapa penulis yang tampak belum terlalu "masuk" dalam menuliskan pengalamannya. Semoga materi ini bisa memberi pencerahan supaya proses hampir 1 bulan ini memang bisa memberi hasil maksimal bagi para peserta mentoring.

MERANGKAI PENGALAMAN

Masih ingat dengan gambar ini, yang diposting dalam Pos P3K?

Ini aneka pengalaman (pendampingan) saya
Kita ibaratkan berbagai bentuk dan warna di atas adalah aneka pengalaman pendampingan kita dalam bidang experiential learning/ outbound. Silakan bisa diasosiasikan sendiri ya, yang bentuknya ini maksudnya apa, yang warnanya anu berarti apa, terserah.... itu hanya ilustrasi sok. Ya, itulah sejarah hidup kita, tidak ada yang salah.
Saat ini, kita mau menorehkan "sejarah baru" nih dengan menuliskan aneka pengalaman tadi menjadi sebentuk artikel. Kenapa? tentu banyak alasannya dong; kita sudah bahas di sesi awal mentoring.
Nah, permasalahannya muncul setelah proses selama 3 minggu lebih, ternyata kok ada ya teman yang awalnya menggebu ingin bikin artikel, eee.... macet di tengah jalan. Yang muntaber juga ada, alias "mundur tanpa berita." okey saya tidak akan fokus pada mereka yang mungkin punya prioritas lain untuk penyaluran energinya. Saya mau fokus membantu mereka yang sebetulnya niat tetapi mungkin belum terlalu yakin bahwa bisa nulis artikel yang bagus.


Kita boleh punya ide, termasuk yang aneh-aneh, revolusioner, kreatif, bahkan yang hampir tidak masuk akal tentang hal-hal yang bisa diartikelkan. Namun tanpa ada NIAT, dorongan dari dalam diri, motivasi yang teguh, percuma segala ide (brilian) kita tadi. Siapa yang mau bikin artikel tema tadi, jika kita sendiri nggak niat nulis? mengharapkan seseorang dari komplek sebelah tiba-tiba memenuhi harapan kita tadi? hmm....



krik, krik, krik....



bangun, bangun....



Hal pertama yang saya sampaikan kenapa saya mau nulis adalah karena saya mau belajar lagi. Kedua, karena berharap bisa menginspirasi orang lain melalui tulisan saya. Berdasar dua niat tadi, maka saya selalu berusaha membuat tulisan dengan baik, walau sederhana. Bagaimana dengan teman-teman? tentu punya motif masing-masing dong, yang penting diniati, itu saja.



Nah, dalam konteks merangkaikan pengalaman, tentu kita perlu berimajinasi tentang cara menghubung-hubungkan aneka pengalaman itu tadi. Celakalah kita jika belum membuat perencanaan apa tujuan penulisan kita, kenapa? karena menurut Ayu Utami dalam buku "Menulis dan Berpikir Kreatif" sejatinya tidak ada bentuk penulisan yang salah. Salah tidaknya bentuk penulisan bergantung pada tujuan. Lha kalo nggak punya tujuan? gimana mau menilainya?



Ilustrasi di bawah ini menggabarkan proses saat kita membuat struktur atas aneka pengalaman kita tadi. O... yang ini sejenis dengan yang itu, berarti kedudukannya bisa begini. Hmmm pengalaman yang itu tuh, bisa ditunjang dengan data pengalaman yang ini. Pengalaman yang itu seru juga sih, tapi kayaknya beda konteks pembahasan, jadi dilewati saja deh.

Strukturisasi pengalaman


Salah satu teknis menulis yang sederhana ya seperti gambar di atas. Mengelompokkan pengalaman berdasarkan kategori tertentu, lalu dituliskan secara runut dan lengkap, itu saja. Tentu ada teknik menulis yang lain kan? ooo ada, namun dalam proses mentoring ini, kita perdalam hal-hal yang mendasar dan sederhana dahulu ya.
Konteks, hal yang sudah pernah kita bahas dalam pos sebelum ini, mestinya kita gunakan juga dong dalam menulis artikel. Contoh nih, ada yang mau bikin artikel dengan tema "Memajukan desaku dengan program Experiential Learning," Dalam konteks tema tersebut, sebenarnya si penulis itu bisa memosisikan diri sebagai perwakilan dari desa tersebut untuk mempromosikan kegiatan di daerahnya. Ibarat seorang "penjual," maka penulis perlu membuat artikel yang menjelasakan bagaimana experiential leraning bisa memajukan desanya, nada tulisan bisa diatur sedemikian rupa sehingga memengaruhi pembaca untuk setidaknya berempati, atau sukur-sukur tertarik untuk mengunjungi desanya. Nah, jika konten dan konteksnya sudah ketemu, mestinya penulis bisa lebih mudah saat menstrukturkan aneka pengalamannya tadi dalam suatu tulisan. 

Saya temukan juga ada penulis yang ingin menegaskan suatu sebab-akibat, namun masih lemah dalam penjabarannya. Misal nih ada artikel yang bertema "Membangun tim building melalui permainan X." Namun yang muncul dalam artikel hanya penjelasan singkat dan global tentang permainan X yang lalu terburu-buru diklaim atau disimpulkan bisa membangun tim building. Saya memahami, penulis pasti punya seabrek pengalaman memandu permainan X, yang ketika direfleksikan memang bisa menjadi sarana membangun tim building. Tapi konteks kita ini kan tentang dunia tulis menulis yang secara sederhana dibaca, "Penulis menempatkan deretan kata, kalimat, dan paragraf yang dibaca dan berusaha dimaknai oleh pembacanya"
Tanpa penjelasan yang memadahi, pembaca bisa-bisa selip mengartikan bahwa penulis melakukan klaim berlebihan terhadap suatu tema. Atau dianggap pembahasan tidak valid, mengada-ada, bahkan bisa dianggap hoaks, hiii...
Lho, kok jadi ruwet ya urusan menulis itu, padahal saya hanya mau menuangkan gagasan berdasarkan pengalaman saja lho. Hmmm... gini ya, Goenawan Muhamad, salah seorang kolumnis tekenal pernah berujar, "Menulis memang bisa menyenangkan. Tetapi seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tidak sekedar praktis untuk dipakai, menulis pada dasarnya sebuah pekerjaan yang resah. Proses pemikiran hanyalah satu tahap. Proses lainnya menyangkut sekian jam duduk di depan mesin tik atau monitor komputer, membesut, mengoreksi, menatah, menguji kata dan kalimat."
Beliau dengan gambang menyampaikan bahwa menulis itu bukan sekedar melontarkan ide, namun perlu upaya dalam menyajikannya.Masih ingat dengan Data Primer dan Data Sekunder? hayo ada di pos mana? he he he... Pengalaman kita memang menjadi data primer kita, tetapi ketika suatu bahasan membutuhkan data-data sekunder yang harus kita cari dan besut, ya carilah.... kerja keras, iya. Tapi saya kan hanya ingin nulis berdasarkan pengalaman saya?okey-okey... kalo hanya segitu niatnya, ya, tulislah tema yang sifatnya deskriptif berdasarkan pengalaman kita saja, dan kita sudah dari awal sadar seberapa "dalam" nanti artikel kita nanti. Yang penting jangan overclaim ya.
Satu lagi contoh tentang pentingnya pengembangan data primer dan sekunder bisa kita dapat dari artikel bertema 
"Memajukan desaku dengan program Experiential Learning," Di sana, saya menjumpai paragraf beginiBagaimana dengan warga yang  rumahnya tidak digunakan dan ingin berjualan sehingga mendapatkan pendapatan dari kegiatan tersebut  tentu saja kami memperbolehkan berjualan  sebut saja yanto pedagang cilok didesa kami atau ibu joko penjual gorengan ditempat kami  mereka berjualasan disaat ada kegiatan dolan desa, kami meminta kepada penjual agar menjaga kebersihan linkungan dengan membuang sampah pada tempatnya , baik dari sampah dagangan mereka atau bukan kami mengajak pedangang untuk membuang sampah pada tempatnya.
Saya fokus pada Yanto pedagang cilok dan ibu joko penjual gorengan; teknis penulisan yang perlu direvisi saya abaikan dahulu.


Penulis, dalam konteks sebagai "duta promosi desa" mestinya bisa menjelasakan, Yanto dan Ibu Joko dengan lebih deskriptif, siapa mereka? Apakah pendapatan sehari-hari hanya dari jualan cilok dan gorengan? bagaimana kondisi keluarganya? apakah anak-anaknya sekolah dengan layak? apakah pendapatannya cukup untuk memenuhi hidup layak? Berapa sih pendapatan mereka jika ada program experiential learning? apakah meningkat signifikan? atau seperti apa hal-hal relevan lainnya yang patut diangkat dalam tulisan. Melalui teknis penulisan dan penalaran yang yang tepat, maka pembaca dibawa dalam pemahaman bahwa, "ooo benar ternyata program EL bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk desa itu."



 Apa yang terjadi jika kita gagal mengorganisir aneka pengalaman serta data-data primer dan sekunder lainnya dalam penulisan artikel? Bisa jadi seperti ilustrasi di bawah ini, ruwet... amit-amit deh, semoga tidak terjadi pada kita



Pengalaman yang tidak diorganisir dengan baik (tanpa tujuan jelas) hanya menciptakan keruwetan saja.

MENGEMBANGKAN PARAGRAF

Paragraf adalah karangan mini yang fokus hanya pada satu topik saja (sudah dibahas dalam pertemuan sebelumnya lho). Satu paragraf dirangkai dengan paragraf-paragraf lain membentuk satu artikel utuh yang idealnya juga membahas tema yang integral.
Paragraf dapat kita golongkan dalam beberapa kategori; salah satu yang sudah dibahas yaitu berdasarkan penalarannya (deduksi, induksi, deduksi-induksi, dan induksi-deduksi)

Berdasar posisi dalam artikel, paragraf dapat dibagi menjadi:

Paragraf Pengantar



Ibarat tamu, penulis perlu "mengetuk pintu rumah" pembaca sebelum bertamu, menjelaskan seperlunya apa perlunya pembaca membaca "menerima" tamu (baca: membaca artikel yg ditulis penulis). Pengantar yang baik akan berhasil membuat pembaca membuka diri dengan empati atau gairah untuk segera membaca artikel. Supaya meningkatkan kadar keberhasilannya, paragraf pengantar ini sebaiknya:

  • Menunjukkan pokok persoalan yang mendasari pembahasan,
  • Mengungkapkan latar belakang kenapa tulisan ini penting,
  • Menyatakan tesis atau ide sentral tulisan,
  • Menyatakan posisi/ maksud penulis sebagai persiapan masuk ke paragraf pengembang

Paragraf Pengembang

Paragraf Pengembang berperan sebagai "daging" dalam artikel yang berfungsi menerangkan atau menguraikan pokok bahasan. Apa saja hal yang diuraikan bisa berupa:
  • Menguraikan, mendeskripsikan, membandingkan, menghubungkan, menjelaskan, atau menerangkan.
  • Mendukung suatu konsep melalui alasan, argumentasi, pembuktian, contoh, fakta, rincian, atau pembuktian tertentu.
  • Menolak suatu konsep melalui alasan, argumentasi, pembuktian, contoh, fakta, rincian, atau pembuktian tertentu.

Paragraf Peralihan

Paragraf Peralihan terletak di antara paragraf utama dengan fungsi menghubungkan pembahasan antarparagraf utama supaya peralihan topik bisa terjadi secara mulus.

Paragraf Penutup.

Paragraf penutup merupakan bagian pengakhiran suatu artikel. Jangan sampai kita sedang membaca suatu pembahasan dengan seru, tiba-tiba tulisan sudah selesai tanpa ada penjelasan. Paragraf penutup yang baik biasanya ditandai dengan:
  • Menginformasikan bahwa pembahasan suatu tema tertentu sudah selesai,
  • Mengingatkan atau menegaskan pentingnya tema yang dibahas,
  • Menyajikan suatu simpulan pembahasan,
  • Menyampaikan pesan/ harapan penulis pada para pembaca.


Urusan Experiential Learning


Satu hal penting lain yang perlu saya sampaikan pada para peserta mentoring adalah urusan (penjelasan) experiential learning. Hal ini saya angkat karena sebagian penulis mencantumkan frasa tersebut dalam tema atau tujuan penulisan artikel, namun saya perhatikan penjelasan tentangnya ada yang belum memadahi.
Mencantumkan frasa "experiential learning" memang bisa bikin artikel terlihat lebih keren, namun apakah sungguh hal tersebut memang harus dicantumkan? maksudnya begini. Di antara sekian banyak pengalaman pendampingan kita, mana sih yang memang masuk kategori "experiential learning"? penulis mestinya lebih tahu hal tersebut. Silakan telusuri berbagai literatur atau penjelasan tentang experiential learning supaya penulis juga sadar ketika menggunakan frasa itu, apa saja konsekuensinya. Jadi, jangan asal ada kegiatan semacam permainan A, langsung disebut dengan experiential learning, ada games B juga disebut dengan experiential learning, demikian juga aktivitas C, D, E, dan seterusnya. Baiklah, saya tidak mau masuk dalam konten apa itu disebut dengan experiential learning, namun lebih menyoroti konteks kenapa para Fasilitator perlu menyadari hal ini ketika menuliskannya dalam suatu artikel.


Beberapa konteks yang relevan:


  1. Penulis adalah para Fasilitator Experiential Learning/ Fasel yang diasumsikan oleh pembaca itu paham tentang apa itu (bentuk) experiential learning. Mari kita secara kolektif menghindari terbentuknya opini dari para pembaca artikel kita akan anggapan keliru tentang  experiential learning, semisal "Ah ternyata hanya gini gini gini itu disebut dengan experiential learning tho? kalo hanya gitu, saya juga bisa melakukannya" mengapa kecelakaan anggapan tersebut bisa terjadi? karena mungkin kita para penulis juga secara gegabah mencontohkan experiential learning tanpa penjalasan yang cukup, jadi seolah-olah banyak hal remeh temeh itu boleh disebut dengan experiential learning.
  2. Lebih penting dari urusan salah asumsi, misi kita para fasilitator penulis adalah menjelasakan pada masyarakat luas apa itu experiential learning. Maka mari kita berikan penjelasan yang memadahi jika tema kita menyangkut urusan experiential learning. Mari kita bangun persepsi dalam masyarakat bahwa ada teori/ rumusan/ pendekatan tertentu supaya experiential learning bisa dilaksanakan dengan baik, Fasilitatornya pun perlu kompetensi khusus dalam menjalankan perannya. Ingat-ingat, betapa serunya dapat sertifikasi Fasel kan, he he he...


Mengulik urusan experiential learning ini mengingatkan saya pada salah satu kredo tukang listrik yang pernah saya temui. Jika tahu tentang seluk beluk kelistrikan, jangan takut (untuk melakukan pekerjaan instalasi listrik). Namun sebaliknya, jika tidak tahu urusan kelistrikan , jangan sok berani (untuk melakukan pekerjaan instalasi listrik). Kredo yang bagi saya masuk akal banget, kalo tahu jangan takut; tapi kalo tidak tahu, jangan sok berani, bisa kesetrum nanti malah.

Nah, dalam urusan menuliskan perihal experiential learning bagi para fasilitatornya juga sama. Kalau kita belum tahu, ya cari tahu dahulu, baru menuliskannya. Tapi jika sudah tahu, ya ayo edukasi pembaca dengan menuliskan apa itu experiential learning.


Yeah, unek-unek terakhir sudah saya sampaikan, sebagai mentor sekaligus pemerhati experiential learning.



Kini saatnya mengakhiri proses materi mentoring dengan beberapa tips bagi teman-teman penulis yang masih gamang menuntaskan artikelnya dengan daging yang gurih. Lis cek berikut ini, makin banyak jawaban YA nya berarti mendekatkan penulis pada kesuksesan penulisan artikel ELnya.


  1. Apakah artikel saya sudah mempunyai tema, tujuan dan tesis yang jelas?
  2. Apakah saya sudah mempunyai kerangka tulisan?
  3. Apakah saya sudah menggali aneka pengalaman sebagai data primer pengisi tulisan?
  4. Apakah saya sudah mencari data sekunder (foto, grafik, gambar, ilustrasi, kuisioner, dsb) sebagai pengisi tulisan? 
  5. Apakah saya sudah menghubung-hubungkan segala data primer dan sekunder sesuai dengan tema?
  6. Apakah saya sudah menghapus pengalaman/ data/ yang tidak relevan dengan tema?
  7. Apakah saya sudah membuat kalimat yang baik guna menyampaikan sesuatu secara singkat padat dan jelas?
  8. Apakah saya sudah membuat tiap paragraf hanya fokus pada 1 topik saja?
  9. Apakah saya sudah membuat paragraf pengantar?
  10. Apakah saya sudah merangkaikan tiap paragraf sehingga nyambung dalam mengupas tema?
  11. Apakah saya sudah membuat paragraf penutup?
  12. Apakah saya sudah mendapatkan judul yang menarik?
  13. Apakah saya sudah mendapat umpan balik/ koreksi artikel dari orang lain?
  14. Apakah saya sudah melakukan inkubasi (mendiamkan artikel 1-3 hari tanpa memikirkannya) dalam proses menulis artikel?
  15. Apakah saya sudah siap mempublikasikan artikel?

Salah satu kreasi menghubung-hubungkan pengalaman.
Selamat menuntaskan artikel, sehingga "Apa Sih, Maunya Tulisanmu?" bisa terjawab dengan tuntas


Brebes, Jumat, 5 Juni 2020

dibuat dalam kondisi kurang ideal karena hanya ditulis dalam waktu 4 jam  sekaligus (belum sarapan pula) supaya deadline tidak meleset.


Share:

Mengata-ngatai Artikel

Paman kami belum menikah

Paman, kami belum menikah.
Paman kami, belum menikah.
Paman, kami, belum menikah.

Perhatikan 3 kalimat di atas yang kata-katanya sama. Ternyata bisa punya 3 arti yang berbeda, "hanya" ketika penempatan tanda baca "koma" mengalami pergeseran. Tidak perlu heran ya, karena bukan suatu keajaiban jika tanda baca ternyata bisa mengubah makna.

Tulisan " Mengata-ngatai Artikel" ini merupakan bagian dari proses "mentoring menulis artikel" bagi belasan teman-teman fasilitator experiential learning yang hendak menuangkan pengalaman pendampingannya dalam suatu artikel. Materi yang dituliskan sudah pernah dibahas dalam proses, ini saya masukkan blog supaya tidak tercecer saja.

Beberapa  tulisan pada pos sebelumnya, bisa ditengok mulai dari sini saja ya

Pada pos ini, kita akan melanjutkan pendalaman mengenai bagaimana suatu artikel dikata-katai, atau maksudnya bagaimaka merangkaikan kata guna membentuk suatu artikel.
Beberapa rujukan dalam Pos ini diambil dari buku "Bahasa Indonesia" karangan Widjono Hs., dan buku "Menulis dan berpikir Kreatif" karya Ayu Utami.

Mari kita mulai.


Menulis artikel pada dasarnya adalah menyajikan sesuatu pada pembaca. Media tulisan menjadi kesepakatan bersama guna menjadi alat yang memfasilitasi proses penyampaian pesan tadi. Supaya ada ketaraturan, dan terlebih kesamaan maksud antara penulis dan pembaca, maka diperlukan suatu kepatuhan terhadap kaidah tata-tulis, khususnya dalam bahasa Indonesia.

Mengapa kita perlu menulis dengan bahasa “yang baik dan benar”? apa itu bahasa “yang baik dan benar”? Untuk menjawabnya, kita bisa mulai dengan pertanyaan mendasar: kenapa kita tidak merasa cukup dengan menggunakan bahasa lisan saja? kenapa kita menulis? 
Kita menulis sebab kita ingin membuat pikiran dan kata-kata kita lebih jelas, lebih berbentuk, “terpegang” (tangible), abadi (daripada bunyi yang segera hilang begitu saja), dan lebih mengikat. Kita mau membikin kontrak.
Zaman dulu, saat teknologi bgt sederhana, maklumat ditatah pada batu dengan tujuan yang persis sama seperti kita mau menulis saat ini.
Dengan demikian, untuk bisa difahami dan dipercaya bersama, tulisan perlu memenuhi kaidah-kaidah yang disepakati bersama pula.

Hal penting untuk kita perhatikan adalah, adanya beberapa konsekuensi yang perlu disikapi terkait perbedaan bahasa lisan/ bunyi dan tulisan. Sadarlah, sebagian besar dari kita sudah sangat akrab dengan bahasa lisan, sehingga sering tidak menyadari bahwa berbahasa secara lisan/ langsung itu tidak sama persis dengan tulisan. Ketidaksadaran ini kerap membuat seorang penulis (merasa) sudah menyampaikan pemikirannya dengan bahasa tulisan sehebat dia pikir, namun ternyata apa yang ditangkap si pembaca tidaklah seperti ekspektasi penulis. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh perspektif penulis yang masih terbaurkan oleh bahasa lisan dalam teknik menulisnya.

Dalam bahasa lisan, ada tekanan, nada, dan unsur-unsur bunyi yang memperjelas pesan. Hal-hal tersebut tidak ada dalam bahasa tulisan. Untuk mengatasinya, diperlukan strategi yang jitu. Pertama, penulisan ejaan dan tanda baca harus benar. Kedua, kalimat harus utuh dan jelas. Ketiga, unsur-unsur dalam bahasa lisan yang hilang direkonstruktsi dengan perangkat tambahan.

KALIMAT

Kalimat efektif adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Kalimat disebut singkat karena hanya menggunakan unsur yang diperlukan saja. Tiap unsur kalimat benar-benar punya peran membentuk makna, tanpa ada kata yang tidak punya fungsi, apalagi justru malah mengaburkan konten. Sifat padat, diartikan sebagai sarat dengan informasi yang diperlukan. Sifat jelas berarti kalimat jelas struktur dan maknanya. Sifat lengkap dalam suatu kalimat berarti mengandung makna kelengkapan struktur secara gramatikal guna menyampaikan gagasannya.


Kalimat efektif akan mengomunikasikan pikiran atau perasaan penulis pada pembaca secara tepat, tanpa keraguan, salah info, atau salah makna. Sebaliknya kalimat yang tidak efektif berpotensi menyampaikan pemikiran yang secara keliru, bahkan salah, antara yang dimaui penulis dengan yang ditangkap pembaca.

Ciri-ciri kalimat efektif:
Keutuhan, kesatuan, kelogisan, atau kesepananan makna dan struktur.
kefokusan pemikiran sehingga mudah dipahami
Kehematan unsur kalimat
Kecermatan dan kesantunan
Kevariasian kata dan struktur sehingga menghasilkan kesegaran bahasa.

Contoh kesalahan struktur dalam penulisan kalimat.

1.       Kata aktif tanpa subyek.
-          Menurut panitia mengatakan peserta harus segera masuk ke ruang makan. (salah)
-          Panitia mengatakan peserta harus segera masuk ke ruang makan (betul)
2.       Menempatkan kata depan di depan subyek.
-          Di bumi perkemahan memiliki lapangan yang cukup untuk bermain sepak bola. (salah)
-          Bumi perkemahan memiliki lapangan yang cukup untuk bermain sepak bola. (betul)
-          Di bumi perkemahan terdapat lapangan yang cukup untuk bermain sepak bola (betul)
3.       Tanpa predikat
-          Fasilitator yang mengamati peserta di Pos III. (salah)
-          Fasilitator mengamati peserta di Pos III. (betul)
4.       Menempatkan kata depan di depan obyek.
-          Peserta mendiskusikan tentang pengalaman mendaki bukit. (salah)
-          Peserta mendiskusikan pengalaman mendaki bukit. (betul)
5.       Menempatkan kata penghubung intrakalimat tunggal pada awal kalimat.
-          Kelompoknya cekatan. Sehingga dapat menyelesaikan permainan lebih cepat. (salah)
-          Kelompoknya cekatan sehingga dapat menyelesaikan permainan lebih cepat. (betul)
6.       Kalimat hanya berupa “anak kalimat” atau klausa, atau penggabungan anak kalimat.
-         Meskipun sudah sering menjelajah hutan, tetapi ia tetap mendengarkan pendapat anggota kelompoknya. (salah)
-          Meskipun sudah sering menjelajah hutan, ia tetap mendengarkan pendapat anggota kelompoknya. (betul)
7.       Salah urutan
-          Tenda itu sudah saya lipat. (salah)
-          Saya sudah melipat tenda itu. (betul)
                                 
Contoh kesalahan diksi dalam penulisan kalimat.

1.   Menggunakan kata yang bersinonim atau punya arti sama, misal agar supaya, adalah merupakan, bagi untuk, demi untuk, naik ke atas, turun ke bawah, dan lain-lain.
-    Ia selalu bekerja keras agar supaya mampu menjadi fasilitator yang berkualitas. (salah)
-    Ia bekerja keras supaya mampu menjadi fasilitator yang berkualitas (betul)
2.   Menggunakan kata tanya yang tidak menanyakan sesuatu, misal: di mana, yang mana, bagaimana, mengapa, dll.
-    Pos di mana kami bermain air dijaga oleh fasilitator yang cantik (salah)
-    Pos tempat kami bermain air dijaga oleh fasilitator yang cantik (benar)
-    Peristiwa yang mana membuat kelompok kami terpisah, terjadi sekitar 4 jam lalu. (salah)
-    Peristiwa yang membuat kelompok kami terpisah, terjadi sekitar 4 jam lalu. (benar)

3.   Menggunakan kata berpasangan yang tidak sepadan, misal: tidak hanya – tetapi (salah), seharusnya tidak-tetapi (benar) ; atau tidak hanya- tetapi juga (benar), bukan hanya- tetapi juga (salah), seharusnya bukan hanya – melainkan juga (benar).
-     Fasilitator di Pos 5 tidak hanya banyak, tetapi sangat teliti (salah)
-     Fasilitator di Pos 5 banyak, juga sangat teliti (benar)
-     Fasilitator di Pos 5 bukan hanya banyak, melainkan juga sangat teliti (benar)
4.   Menggunakan kata berpasangan secara idiomatik yang tidak bersesuaian. Misal sesuai bagi (salah), seharusnya sesuai dengan (betul), membicarakan tentang (salah), seharusnya berbicara tentang (betul) atau membicarakan sesuatu (betul)
-     Tugas itu sesuai bagi minat orang tersebut (salah)
-     Tugas itu sesuai dengan minat orang tersebut (betul)

Contoh-contoh lebih banyak tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, bisa langsung dipelajari saja melalui tautan ini ya.


PARAGRAF

Paragraf merupakan bagian dari suatu karangan/ artikel berupa kumpulan beberapa kalimat yang menjelaskan topik tertentu. Paragraf yang baik harus memenuhi syarat kesatuan, kepaduan, keruntutan, ketuntasan dan konsistensi penggunaan suatu pandang. Satu paragaraf harus terdiri dari satu topik saja yang kontennya diwakili dengan suatu kalimat utama saja, lalu disertai dengan beberapa kalimat penjelas. Posisi kalimat utama bisa berada di awal paragraf (kalimat pertama), di tengah, atau di akhir paragraf (kalimat terakhir).
Namun, ada pula paragraf tanpa kalimat topik, yaitu jenis paragraf yang hanya menjelaskan/ mendiskripsikan sesuatu. Misal, kronologi peserta outbound berangkat, mulai dari kumpul di kantor, berangkat menggunakan bus, sampai urutan aktivitas di lokasi outbound. Dalam kasus semacam ini, kedudukan tiap kalimat adalah sama, tanpa ada topik utama.

4 pola paragraf berdasarkan posisi kalimat topik:
  1. Kalimat topik di awal (penalaran deduktif),
  2. Kalimat topik di akhir (penalaran induktif),
  3. Kalimat topik di awal dan akhir (penalaran deduktif-induktif), dan
  4. Kalimat topik di tengah (penalaran induktif-deduktif)

Kini kita akan membaca beberapa contoh paragraf yang punya kalimat topik serta kalimat pendukung yang sama, yaitu:
Kalimat topik: Fasel perlu kreatif dalam membuat program EL saat “normal baru”
Kalimat pendukung:
-          Kegiatan EL diperlukan dalam masa normal baru
-          Normal baru membawa perubahan dalam pola kegiatan EL
-          Fasilitator perlu membuat program EL dengan menyesuaikan protokol kesehatan

Contoh paragraf dengan penalaran deduktif (kalimat topik di awal)
Kreativitas memodifikasi program experiential learning mutlak dilakukan oleh para fasilitator jika programnya mau “dibeli” kembali oleh klien pada masa normal baru ini. Pada masa pascapandemi virus corona 19 ini, masyarakat justru memerlukan program-program edukasi yang tepat supaya bisa melakukan pembiasaan diri. Experiential learning atau dikenal dengan istilah outbound sebetulnya bisa menjadi pilihan yang efektif guna menunjang misi tersebut. Namun, pola-pola outbound yang lama tentu harus ditinjau lagi karena mungkin sebagian besar aktivitasnya dibuat dalam kondisi normal dan tanpa syarat-syarat khusus. Para Fasel kini perlu melakukan kajian ulang terhadap semua pengalaman pendampingannya untuk membuat aktivitas baru supaya bisa dilaksanakan kembali sesuai protokol kesehatan yang berlaku.
Contoh paragraf dengan penalaran induktif (kalimat topik di akhir)
Masa normal baru sudah datang pascapandemi virus covid 19, ditandai dengan berbagai protokol baru dalam bidang kesehatan. Kegiatan experiential learning sebetulnya bisa diangkat sebagai salah satu pilihan program penyesuaian bagi masyarakat dalam upaya pembiasaan aneka protokol atau norma baru tersebut. Jika dalam masa normal sebelum pandemi para fasilitator bisa melakukan berbagai ragam bentuk experiential learning, hal yang sama kini tidak bisa dilakukan lagi karena pemerintah menentukan berbagai syarat guna melaksanakan sebuah aktivitas komunal. Program experiential learning sebagai bentuk media pembelajaran tentu wajib dilaksanakan sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Para fasilitator kini dituntut untuk kreatif membuat atau memodifikasi program experiential learning yang dibaharui, supaya layak dilaksanakan di masa normal baru ini.

Contoh paragraf dengan penalaran deduktif-induktif (kalimat topik di awal dan akhir)
Fasel yang tidak mau memodifikasi program-program experiential learning konvensional untuk digunakan dalam masa normal baru, harus siap-siap gigit jari karena terancam jadi pengangguran. Pascapandemi virus corona 19, masyarakat akan segera masuk dalam masa normal baru, yang sampai sekarang panduaannya masih terus disempurnakan oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan lain. Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan experiential learning bisa menjadi salah satu alternatif dalam menyiapkan suatu komunitas dalam melakukan penyesuaian sekaligus konsolidasi menghadapi pola-pola hidup baru tersebut. Para fasilitator experiential learning juga dituntut untuk bisa melaksanakan program pembelajaran dengan menyesuaikan protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah. Mungkin seorang fasilitator sudah punya banyak pengalaman menangani program experiential learning atau outbound, namun semua perlu dimodifikasi secara kreatif supaya bisa dilaksanakan kembali dalam konteks pemenuhan protokol pencegahan penularan virus corona.
Contoh paragraf dengan penalaran induktif (kalimat topik di akhir)
Masa normal baru sudah datang pascapandemi virus covid 19, ditandai dengan berbagai protokol baru dalam bidang kesehatan. Kegiatan experiential learning sebetulnya bisa diangkat sebagai salah satu pilihan program penyesuaian bagi masyarakat dalam upaya pembiasaan aneka protokol atau norma baru tersebut. Jika dalam masa normal sebelum pandemi para fasilitator bisa melakukan berbagai ragam bentuk experiential learning, hal yang sama kini tidak bisa dilakukan lagi karena pemerintah menentukan berbagai syarat guna melaksanakan sebuah aktivitas komunal. Program experiential learning sebagai bentuk media pembelajaran tentu wajib dilaksanakan sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Para fasilitator kini dituntut untuk kreatif membuat atau memodifikasi program experiential learning yang dibaharui, supaya layak dilaksanakan di masa normal baru ini.

Contoh paragraf “galau,” yang mungkin mencerminkan aneka kegelisahan si penulis dan ingin dituangkan hanya dalam 1 paragraf saja.
Fasel yang tidak mau memodifikasi program-program experiential learning konvensional untuk digunakan dalam masa normal baru, harus siap-siap gigit jari karena terancam jadi pengangguran. Bagaimana mungkin memandu permainan dalam outbound jika semua peserta menggunakan masker dan ada batasan jarak 1 meter antarpeserta? Biaya tes kesehatan sebelum program pasti juga akan membebani peserta dalam pembiayaan program experiential learning. Dalam protokol kesehatan di masa normal baru, pemerintah menetapkan aturan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah pembelajaran experiential learning. Hal tersebut membuat program outbound tidak bisa dilakukan dengan cara yang lama, kecuali oleh para fasilitator yang kreatif. Kenyataan pahit ini harus diterima oleh para fasilitator. Berubah atau punah, walau biaya outbound tambah mahal.


Hmmm... ternyata banyak ya variasi cara menuangkan gagasan dalam paragraf. Silakan kita bisa memilih menggunakan pendekatan yang mana, yang penting fungsi paragraf sebagai sebuah "karangan mini" memang padu, runtut, dan tuntas dalam menjelasakan satu topik saja. Ingat, satu paragraf satu topik saja ya. Seandainya kita punya banyak hal yang hendak disampaikan, toh kita masih punya keleluasaan dalam membuat paragraf berikutnya.

.........bersambung.......


Share:

Lost in Pasar Pagi

Pernah "tersesat" di pasar tradisional karena mencari-cari tempat yang berpetunjuk minim? hmmm... rasanya seru-seru gimana, gitu.
Nah, MANCAKRIDA pernah membuat sebuah permainan seru guna melengkapi sebuah proses pembinaan karakter, dengan menggunakan pasar sebagai daerah perjuangannya; katakanlah dinamika ini dinamakan Lost in Pasar Pagi
Bagaimana caranya? sederhana, kok; intinya, peserta diberi beberapa foto suasana/ sudut di pasar, tetapi dengan menutup tulisan atau angka tertentu dengan blok hitam. Tugas peserta adalah menjawab, tulisan/ angka apa yang terblok hitam tersebut? Tentu cara jawab terakurat adalah dengan menelusuri pasar guna menemukan spot yang terfoto itu, dan melihat langsung apa sih tulisan/ angka yang terblok difoto tersebut. 
Gimana, simpel kan prinsip permainannya? Nah, tinggal tingkat kesulitannya yang bisa kita mainkan.
Berikut ini beberapa contoh foto yang pernah kami gunakan untuk soal. Bagi yang penasaran dan ingin menjawabnya, boleh dikira-kira saja, atau kalau mau lebih tepat, ya monggo blusukan ke Pasar Pagi Tegal; mudah-mudahan belum ada perubahan di sana.












Melihat foto-fotonya saja bisa dibayangkan ya, betapa seru permainan ini, apalagi jika ditambah dengan tugas-tugas yang lain. 
Oh, ya tentu bukan tanpa maksud permainan Lost in Pasar pagi ini dibuat, harapannya sih:
  1. Bisa melatih kesabaran dan konsentrasi peserta,
  2. Mengembangkan aspek sosialisasi peserta dengan orang lain dalam proses pencarian jawab,
  3. Mengenalkan peserta dengan realitas masyarakat, khususnya di pasar.

Yuk, yang penasaran mau bikin program pengembangan karakter dengan cara asyik, bisa hubungi MANCAKRIDA via WA 0812 7397 697.
Share: